The Antagonist

The Antagonist
BAB 48



Hikss...hikss...


Tangisan Meixi tak berhenti meskipun tabib sudah berkata bahwa keadaan Zi Yu sudahlah baik-baik saja.


Zi Lan sendiri terlihat berusaha menenangkan istri keduanya itu.


"Tenanglah istriku..." ucapnya sembari mengelus pelan pundak Meixi.


"Bagaimana aku bisa tenang ? Putra kita hampir saja mati karena Wei Lian! Wanita jahat itu sangat menakutkan suamiku." ucap Meixi.


Yan Zi baru saja tiba dengan tergopoh-gopoh.


"Astaga...apa yang terjadi pada cucu manisku ini ?." tanyanya dengan menahan isak tangis.


"Ibu..." ucap Meixi.


Di peluknya putrinya yang terisak itu.


Pukk...pukk...pukk.


"Ceritakan padaku Meixi, mengapa tiba-tiba cucuku berada ditangan Wei Lian itu ?." tanya Yan Zi.


"Aku hanya ingin memberi makan pada wanita itu saja ibu, namun tiba-tiba Zi Yu datang dan Wei Lian mengancamku menggunakan Zi Yu. Dia mencekik dan melemparkan Zi Yu ke kolam." ucap Meixi.


"Apa ? Dia mencekiknya ?! Benar-benar wanita iblis! Aku akan membunuhnya sekarang juga!." teriak Yan Zi.


Sebelum ibu mertuanya itu melangkah, Zi Lan menahannya.


"Ibu, jangan gegabah." ucap Zi Lan.


"Suamiku...apa yang kau lakukan ? Kenapa kau menahan ibu ? Apa kau sendiri rela kalau putramu ini mati ?." tanya Meixi.


Zi Lan pun menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia menyadari kalau Wei Lian menjatuhkan Zi Yu karena dirinya.


"Bagaimanapun Wei Lian juga lah yang menyelamatkan Zi Yu." ucap Zi Lan.


Plakkk!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Zi Lan. Tamparan itu tentunya membuat ia dan juga Meixi terkejut.


"Sadarlah Zi Lan! Walaupun wanita itu menyelamatkannya, tetaplah dia berniat membunuh Zi Yu. Dia melakukan itu untuk mendapat perhatianmu!." ucap Yan Zi.


"Ibu...tenanglah, lagipula ini masih belum saatnya. Bersabarlah sebentar lagi." ucap Zi Lan.


"Suamiku sampai kapan aku dan ibu harus bersabar ? Apa kau tak ingin secepatnya berkuasa di sekte Wei ini ? Sudah terlalu lama kita bersabar." sela Meixi.


Mendengarnya tentu membuat Zi Lan marah, namun tetaplah ia harus menjelaskannya. Ia tak ingin rencananya gagal karena Meixi dan juga ibu mertuanya.


"Tak lama istriku. Kalau kau terburu-buru seperti ini, yang ada rencana kita akan gagal. Dan kalau rencana ini gagal karenamu dan juga ibu, kau....benar-benar membuatku kecewa." tegas Zi Lan.


Terdengar suara helaan nafas dari Meixi, ternyata ia tetaplah harus bersabar lagi.


"Baiklah, tapi berjanjilah padaku jangan terlalu lama." pinta Meixi.


Zi Lan pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi tetaplah aku akan menemui wanita itu, dia telah menyakiti cucu ku Zi Lan!." teriak Yan Zi.


"Ibu..." ucap Meixi.


"Tenanglah, aku tak akan membunuhnya." jawab Yan Zi yang sudah peka.


Yan Zi pun melangkahkan kakinya pergi menuju kediaman Wei Lian.


Setibanya dikamar wanita itu, ia melihat Wei Lian masih tak sadarkan diri diatas ranjang.


"Ambilkan aku seember air." ucap Yan Zi pada pelayan pribadinya.


"Baik Nyonya." jawabnya.


Dengan cepat pelayan itupun berlari untuk mengambil seember air.


Tak butuh waktu lama, pelayan itu sudah kembali dengan membawa seember air itu.


"Siram pada wajahnya." titah Yan Zi.


Byurrrr!!!


Wei Lian pun langsung tersadar karena terkejut, tubuh bagian atasnya kini basah karena siraman air itu.


Begitu bangun, ia juga merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya, apalagi ia juga merasa sangat pusing.


"Mengapa anda menyiramku ?." tanya Wei Lian dengan suara lemah.


"Bisa-bisanya kau bertanya seolah tak melakukan kesalahan, kau itu hampir saja membuat cucu kesayanganku mati!." teriak Yan Zi.


Deg!


Wei Lian pun akhirnya teringat dengan apa yang terjadi sebelumnya.


Namun ia tak berniat untuk membunuh Zi Yu sama sekali, ia memanglah membuat Zi Yu terlempar kedalam kolam.


Tapi kalau ia tak melakukan itu, bisa saja Zi Yu terkena serangan pedang yang dilemparkan oleh Zi Lan.


"Bagaimana keadaannya sekarang ?." tanya Wei Lian dengan raut muka khawatir.


"Tak usah berlagak peduli Wei Lian! Kau itu sudah menyakitinya, jadi tunjukkan saja wajahmu yang sebenarnya." ucap Yan Zi.


"Aku memanglah mengkhawatirkannya Nyonya Yan Zi." bela Wei Lian.


"Cihh...kau itu memanglah seperti ibumu, sangat menjijikkan." ejek Yan Zi.


Jian Mei pun tertegun sekali lagi, Nyonya Yan Zi mengenal ibu Wei Lian ?.


Banyak sekali hal yang tak diberitahukan oleh penulis novel.


"Kau mengenal ibuku ?." tanya Wei Lian.


"Tentu saja aku mengenalnya, ibumu itu adalah orang paling menjijikkan selain dirimu." jawab Yan Zi.


"Jaga mulutmu itu Nyonya Yan Zi!." teriak Wei Lian lemah.


"Ibumu itu merebut Wei Meng Fan dariku, karena itulah dia mendapat karma dan mati dengan cepat. Sebentar lagi kau pun akan menyusulnya Wei Lian!." ucap Yan Zi.


Jian Mei menahan rasa terkejutnya, ia tak menyangka bahwa ibu, ayah dan Yan Zi memiliki hubungan di masa lalu.


Apalagi hubungannya pun seperti ia, Zi Lan dan Meixi saat ini.


"Nyonya...selama ini aku melihat dan mendengar sendiri bagaimana ayahku memperlakukan ibuku. Jadi pastilah cintamu itu bertepuk sebelah tangan, berhentilah membual terus-menerus." ucap Wei Lian.


"Wei Lian....Wei Lian...ibumu itu hanyalah pelampiasan saja. Sama seperti dirimu saat ini." ucap Yan Zi dengan sombongnya.


"Kau..."


"Kenapa ? Kau masih tak sadar Wei Lian ? Apalagi sekarang Zi Lan semakin membencimu karena kesalahan yang kau perbuat sendiri." ucap Yan Zi.


Wei Lian pun terdiam, meskipun ia membuat Zi Yu terluka, tapi Zi Lan lah yang melemparkan pedang itu.


"Kalau aku menjadi dirimu lebih baik aku mati saja. Dengan kau mati pun pastilah dapat bertemu dengan putra penyakitanmu itu. Kau sangat merindukannya bukan ?." lanjut Yan Zi.


"Aku akan terus hidup dan mengambil semua apa yang seharusnya menjadi milikku Nyonya!." ucap Wei Lian.


"Teruslah bermimpi." ucap Yan Zi lalu pergi meninggalkan Wei Lian sendirian.


Wei Lian sendiri berusaha bangkit dari ranjangnya.


Dengan menahan rasa sakit dan pusing ia berusaha mendekati almarinya untuk mengganti pakaiannya yang basah itu.


"Aku harus menemui Zi Lan, aku harus membebaskan Liuli dari dalam penjara."


"Tunggulah aku Liuli."


Begitu selesai mengganti pakaiannya, Wei Lian pun masih memakai mantel, ia sangatlah kedinginan.


Sekilas ia melihat di kaca, wajahnya itu sangatlah pucat.


Dengan perlahan Wei Lian keluar dari dalam kediamannya, ia berjalan menuju ke arah kamar Zi Lan.


Saat berjalan pun ia melihat dan mendengar para pelayan dan murid-murid sekte Wei mencemooh dirinya sebagai seorang pembunuh.


"Lihatlah itu Nyonya Wei Lian, ia benar-benar tak punya muka!."


"Dia mencoba membunuh Tuan Muda Zi Yu."


"Dia memanglah iblis wanita."


"Wajah cantiknya itu sangatlah menipu orang."


"Pastilah mereka telah mengetahui apa yang terjadi, namun harusnya mereka juga mendengar versi cerita dariku, bukan hanya dari satu sisi saja." batin Wei Lian.