The Antagonist

The Antagonist
BAB 52



Sudah 2 hari berlalu, namun Wei Lian belum mendapat kabar dari Xu Ye Han.


Semalam dia sudahlah mendengar bualan para pelayan diam-diam.


Mereka mengatakan bahwa Liuli akan segera dihukum oleh Meixi.


Entah hukuman apa yang akan diberikan oleh Meixi, namun dirinya sangatlah khawatir.


"Haruskah aku menemui Zi Lan lagi ? Lagipula akulah pemilik sekte ini, aku jugalah istri pertama Zi Lan. Meixi hanyalah seorang selir, akulah yang berkuasa disini." gumam Wei Lian.


Ya, dia sudah memutuskan untuk menemui Zi Lan lagi.


Wei Lian pun langsung mengganti bajunya menjadi lebih pantas.


"Baju berwarna merah sangatlah cocok untukku." gumamnya.


Selesai berganti pakaian dan sedikit berdandan, ia pun segera melangkah pergi menuju kamar Zi Lan.


"Aku haruslah membujuknya." ucap Wei Lian begitu tiba didepan kediaman Zi Lan.


Salah seorang murid yang keluar dari dalam kamar Zi Lan pun menyapanya dengan lembut.


"Yang Mulia....apa anda hendak menemui guru Zi Lan ?." tanyanya.


Wei Lian pun mengangguk mengiyakan, namun jawaban murid itu membuat dirinya kecewa.


"Guru Zi Lan sedang tak ada dikediaman." ucapnya.


"Dia berada dimana ? Lalu mengapa kau berada disini ?." tanya Wei Lian.


"Guru sedang berada diluar sekte, aku disini karena perintahnya untuk mengembalikan buku." jawabnya.


"Baiklah, pergilah kalau begitu." ucap Wei Lian.


Meskipun Zi Lan tak ada, Wei Lian tetaplah masuk ke dalam kamarnya.


Lebih baik menunggu dia dikamarnya agar setelah Zi Lan kembali, ia bisa segera membujuknya.


Sembari menunggu kedatangan Zi Lan, Wei Lian melihat-lihat buku yang ada di kamar Zi Lan.


"Gulungan apa ini ?." gumam Wei Lian.


Ia pun membuka gulungan itu dan menemukan lukisan sebuah keluarga.


"Ini tak terlihat seperti ku ataupun Xian'er....anak kecil ini terlihat seperti Zi Yu." gumam Wei Lian sembari tersenyum kecut.


Tiba-tiba saja ia mendengar suara beberapa perempuan yang tengah bercengkrama.


Ia pun mengetahui kalau itu adalah Meixi bersama para pelayannya.


Dengan buru-buru Wei Lian langsung mencari tempat untuk bersembunyi.


Lukisan itu pun ia geletakkan begitu saja diatas ranjang Zi Lan.


"Nyonya...anda memanglah istri yang sangat perhatian, pantas saja kalau Tuan Zi Lan sangat mencintai anda." ucap seorang pelayan.


Meixi tersenyum senang mendengar pujian pelayan itu, "Letakan baju-baju itu dengan rapi diatas ranjangnya."


"Baik Nyonya." jawab pelayan.


Pelayan itu membulatkan matanya saat melihat lukisan yang tergeletak begitu saja diatas ranjang.


"Nyonya....lihatlah ini." teriak pelayan itu dengan hebohnya.


Dengan segera ia memberikan lukisan itu ke tangan Meixi yang tengah terduduk di meja sembari menikmati kudapan.


Dipandinginya lukisan itu dengan serius, sesekali ia mengerutkan keningnya.


"Anak kecil ini terlihat seperti Zi Yu, lelaki ini pun seperti suamiku, tapi mengapa wanita ini tak terlihat sepertiku ?." gumam Meixi.


"Nyonya pastilah pelukis itu tak berkemampuan, melukis anda saja tidak bisa." ucap seorang pelayannya.


"Ya, sepertinya benar yang kau katakan itu Hao'er." ucap Meixi.


"Tapi Nyonya...memanglah bagi Tuan Zi Lan, anda dan Tuan Muda Zi Yu sangat berharga." ucap pelayan setianya itu.


Meixi pun tersenyum bahagia, namun tiba-tiba ia juga tertawa keras bahkan sampai menitihkan air mata.


"Hahaha....tentu saja aku dan putra manisku itu sangat berharga. Kami berdua mana bisa dibandingkan dengan Wei Lian dan putra penyakitannya itu." ucap Meixi.


Meixi dan pelayannya pun kembali tertawa dengan sangat keras.


"Lebih cepat ? Kematiannya itu cukup lambat karena kalung giok es. Andai saja aku tak mencurinya pasti dia masih hidup meskipun hanya bisa berbaring saja." ucap Meixi.


Deg!!


Wei Lian pun menitihkan air matanya.


Ia tak menyangka bahwa Meixi meracuni putranya selama ini. Bahkan dengan mulutnya sendiri ia mengaku bahwa dialah dalang dibalik perampokan bandit.


"Kau benar-benar kejam Meixi." batin Wei Lian.


"Wei Lian yang lemah itu sudah tak dianggap keberadaannya di sekte Wei ini. Anda adalah satu-satunya Nyonya di sekte ini." ucap pelayan itu lagi.


"Yahh...mulai sekarang biasakanlah memanggilku dengan sebutan Yang Mulia." ucap Meixi.


Wei Lian pun merangkak keluar dari bawah ranjang dan membuat Meixi dan pelayannya itu terkejut.


Mata Wei Lian sangatlah merah karena menangis sangat deras.


Meixi pun menyadari kalau Wei Lian pastilah mendengar pembicaraannya dari tadi.


Terlihat Meixi salah tingkah didepan Wei Lian.


"Mengapa kau berada disini Wei Lian ?." tanya Meixi gugup.


"Jadi kau yang membunuh putraku Meixi, tega sekali kau melakukan itu."ucap Wei Lian.


Meixi hanyalah terdiam saja, tamat sudah riwayatnya jikalau ini terdengar keluar.


"Jawab aku Meixi! Mengapa kau melakukan hal kejam itu ?! Apa kesalahan yang dibuat putraku sampai kau membunuhnya ?!." teriak Wei Lian.


"Cihhh....aku hanya meracuninya bukan membunuhnya, lagipula dia juga sakit-sakitan sejak kecil. Dia mati itu lebih baik daripada harus menderita dan menyusahkan orang lain." jawab Meixi.


"Dia tak menyusahkanku sama sekali. Lagipula apa hakmu berkata begitu soal Xian'er ? Kau bukanlah siapa-siapa Meixi." teriak Wei Lian.


Ingin sekali ia merobek mulut Meixi yang berucap sembarangan itu.


"Aku adalah istri Zi Lan, harusnya kau tahu kalau putramu itu membuat Zi Lan malu! Karena itulah dia pantas mati!" teriak Meixi balik.


"Kau!!!." Wei Lian pun berusaha menyerang Meixi.


Perasaannya benar-benar hancur. Selama ini ia berpikir kalau Xian'er mati karena penyakit yang ia derita.


Namun ternyata Meixi meracuni putranya itu, betapa malang nasib putranya itu.


Bukkk....bukkk.


Wei Lian terus menyerang Meixi dengan penuh amarah.


Meixi sendiri terkejut karena kemampuan beladiri Wei Lian yang meningkat.


Bahkan sudah setara dengannya.


"Jadi ini hasil latihanmu Wei Lian!." ucap Meixi.


"Aku akan membalaskan dendam putraku Meixi!." ucap Wei Lian.


Wei Lian pun terus menyerang Meixi dengan berurai air mata.


"Kau bukanlah tandinganku Wei Lian!." teriak Meixi.


Brukkk!!!


Wei Lian pub jatuh tersungkur, bahkan ia sampai muntah darah karena serangan Meixi yang begitu keras di dadanya.


Kini Wei Lian sudahlah dimasukan kedalam penjara oleh Meixi.


Liuli pun tampak khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Nyonya nya itu menangis sembari tertawa dihadapannya.


"Nyonya apa yang terjadi ? Bagaimana bisa anda dimasukan ke dalam penjara seperti ini ?." tanya Liuli khawatir.


"Liuli...aku tak akan mati begitu saja disini, aku akan membalaskan dendam Xian'er." ucap Wei Lian.


"Dendam mendiang Tuan Muda ? Apa maksud anda Nyonya ?." tanya Liuli kebingungan.


"Meixi haruslah dihukum mati Liuli, Zi Lan harus mengetahui betapa busuknya wanita itu." ucap Wei Lian serius