The Antagonist

The Antagonist
chapter 12



Reysa POV


28 Februari, hari ini adalah waktu penentuan dari permainanku bersama Raphael. karena kemarin hasilnya tida memuaskan, jadi aku akan melakukan permainan lain untuk menentukan pemenangnya.


kenapa aku harus melakukannya? karena menurut peraturan lama, jika kedua belah pihak tidak puas dengan hasilnya, maka akan diselesaikan dengan game lain. karena itu aku sekarang akan melakukannya.


game kali ini adalah dart. kalian tau game apa ini? ini adalah game dimana kita akan melemparkannya anak panah kecil atau biasa disebut dart ke sasaran bulat yang biasa disebut papan dart. ini game yang cukup menyenangkan loh. banyak orang yang memainkannya di Eropa, yah tentunya di Asia pun ada banyak. tapi ku pikir paling banyak di mainkan di Eropa.


aku berjalan menuju ruang klub fotografi untuk memainkan game ini. tentunya aku tidak sendiri, para anggota Xleez ikut semua tentunya. Felicia, Ethan, bahkan abangku, bang Kenan juga ikut melihat setelah mendengar kabar taruhan yang ku buat dengan Raphael.


kenapa aku menyebutnya Raphael? karena aku merasa itu memang lebih cocok untuknya ketimbang Hendry yang justru menghilang entah kemana itu. dan sikap Hendry juga sama sekali tidak mirip dengan Raphael. Hendry adalah seseorang yang bersikap hangat pada orang lain, tapi ia akan bersikap dingin pada orang yang tidak ia sukai, bahkan ia tak segan melenyapkan orang yang tidak ia sukai. dan itu terjadi pada Reysa asli di endingnya. sementara itu, Raphael adalah seseorang yang terang terangan menunjukkan sikap tak sukanya pada orang lain. hanya ada satu yang sama dari mereka, kalian tau apa?


Hendry maupun Raphael pasti akan menyingkirkan orang yang tidak mereka sukai. hanya itu kesamaan mereka.


Reysa POV end


...×××...


Reysa dkk memasuki ruang klub fotografi. semua orang melihat ke arah pintu dimana Xleez masuk ke ruangan itu. dalam sekejap, suasana disana berubah dengan drastis karena wajah datar Reysa yang tak macam biasanya.


tapi langkah Reysa terhenti saat melihat seseorang yang tak lain adalah Arfan itu. ia mengernyit heran, lantas beralih pada Hendry yang ada di samping Arfan sedang meminum sekaleng minuman.


Hendry alias Raphael yang ditatap Reysa itu balas menatap. "what wrong Al?" tanya Raphael heran dengan tatapan Alana.


note: jika scene saat terdapat Hendry dan Reysa bersama, maka akan menggunakan identitas asli mereka.


"kenapa dia disini? Raph, loe bawa dia?" tanya Alana dingin.


Raphael mengangguk, "yup. gue yang bawa. what wrong with that?" tanya Raphael balik.


"bajingan gila" kata Alana dengan tatapan dinginnya.


Raphael terkekeh, "haha, jangan berkata begitu. tak salahnya bukan membentuk relasi dengan seseorang" kata Raphael


Alana mendecih "cih, loe selalu cepet" kata Alana duduk di tempatnya.


Raphael mengangguk bangga, "tentu, itu harus. tapi.. loe juga sama kan" kata Raphael.


"nggak, itu nggak sengaja. tapi loe kecepetan buat itu Raph. nanti kalo nempel mulu kan repot, kayak yang satu ini" ujar Alana melirik Felicia yang senantiasa menempel padanya.


Felicia yang dilirik oleh Alana hanya memiringkan kepalanya polos. sementara itu Raphael yang melihat itu tertawa geli.


"emang dari dulu loe selalu ditempelin sama orang kan" kata Raphael mengatakan itu wajar untuk Alana


"eh.. itu.. emang sih" jawab Alana.


"iya kan! apalagi kalo lagi sama bang Alen. bisa gila gara gara banyak cewek atau cowok belok yang sering dateng ke elu karena suka ama bang Alen yang emang ganteng banget" kata Raphael


Alana mengangguk, "iya sih. kalo dipikir-pikir lagi bang Alen emang gantengnya nggak ketulungan. kalo aja bukan abang gue udah gue nikahin itu orang. sayabg banget dia Abang gue"


kata Alana membenarkan tentang paras abangnya di dunia nyata yang jujur saja sangat tampan menurutnya.


Alana menggeleng pelan, "nggak mungkin, ngaco loe. bang Alan udah sama kak Vio kok" kata Alana menyangkal. "ah udahlah, ayo mulai aja" kata Alana


Raphael mengangguk, "oke" jawabnya singkat.


...×××...


Alana dan Raphael memulai permainannya. mereka melemparkan anak panah untuk menentukan siapa yang lebih dulu. hasilnya adalah, Raphael lebih dulu yang akan melempar anak panahnya.


setiap pemain mendapatkan 3 anak panah. nilai awal yang digunakan adalah 301 karena ini permainan saat istirahat.


Raphael memulai permainannya, ia melemparkan anak panah pertama yang syukurlah meleset di kolom hitam dengan angka 3. laki laki itu mendecih pelan karena sasarannya meleset. sementara itu Alana menahan tawa mendengar gerutuan Raphael yang bagai anak kecil itu.


Raphael yang sadar Alana menahan tawanya itu kesal. "ha ha ha ha ha kalo pengen ketawa ya ketawa aja Na" kata Raphael memasang wajah kesalnya.


tawa Alana meledak disana karena wajah Raphael yang menurutnya aneh itu, "pfft ha hahahahaha so sori, gue ha ukh haha gak sengaja" kata Alana ditengah tawanya.


"cih, iya iya. gue tau" kata Raphael kesal.


"hehe sori Raph, ga sengaja beneran gue" kata Alana tersenyum manis.


Raphael yang melihat senyum manis Alana setelah sekian lama itu masih saja terpesona. tanpa ia sadari bibirnya terangkat. Raphael tersenyum lembut karena ia merasa mungkin ia bisa mendapatkan Alana-nya kembali.


setelah itu, Raphael dan Alana meneruskan permainannya. dan pemenangnya kali ini benar benar sudah ditentukan, pemenangnya adalah Alana. yah wajar saja karena Alana bisa dibilang sangat hebat dalam bermain dart. dia punya ketajaman mata yang baik. dan postur tubuhnya juga bagus, Alana adalah seorang pro player dalam dart.


"Raph, gue yang menang ya hehe" kata Alana dengan seringainya.


Raphael menghela nafas pelan, "iya, loe yang menang" katanya mengakui kekalahannya.


Alana tersenyum cerah, "haha oke. oh benar juga, karena gue ogah punya budak kek loe, jadi gak usah jadi budak gue. sebagai gantinya, jawab pertanyaan gue" kata Alana berubah serius.


"hah? loe yakin?" tanya Raphael tak percaya. biasanya Alana tidak akan mau melepaskan mangsanya. jadi ada apa ini? dunia terbalik kah?


Alana mengangguk, matanya menatap dingin Raphael. "jawab pertanyaan gue, apa.. loe penyebab kak Diana mati?" tanya Alana dingin.


"kenapa loe tanya itu?" tanya Raphael balik.


"jawab aja, janjinya loe jawab pertanyaan gue Raph" kata Alana mengabaikan pertanyaan Raphael.


sejak lama Alana penasaran akan satu hal, kematian putri tantenya yang artinya adalah sepupunya. kematian Diana Fostor, terjadi 2 hari sebelum perginya Raphael ke Rusia. dan menurut beberapa orang, orang terakhir yang bertemu dengan Diana Fostor adalah Raphael Varvaera. karena itu, tentunya Alana curiga pada Raphael. pasalnya, Alana tau bagaimana sikap Raphael. dia akan menutup semua hal yang ingin ia tutupi, bahkan jika itu harus mengorbankan nyawa seseorang, ia tak perduli.


dan sebelum kematiannya, Diana pernah menelfon Alana dan ingin mengatakan hal penting. tapi Alana masih belum tau apa yang ingin dibicarakan Diana, karena saat itu sambungan teleponnya terganggu dan terputus. setelah itu, barulah kabar kematian Diana Fostor sampai di telinganya. dan bersamaan dengan itu, Raphael segera pergi ke Rusia. Alana tidak berpikir ini adalah kebetulan semata, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. dan Alana yakin kalau hal tersembunyi itu, berhubungan dengan dirinya. karena itu, Alana memutuskan bertanya pada Raphael tentang dugaannya.


"loe.. yang udah bikin kak Diana meninggal?" tanya Alana lagi dengan nada dinginnya mampu membuat orang orang menggigil kedinginan.


atmosfer di ruangan itu berubah, sebenarnya tak ada yang tau apa yang dibicarakan oleh dua orang itu karena mereka menggunakan bahasa asing yang tidak mereka pahami. bahasa lokal Kanada, dan orang orang di dalam ruangan itu tak mengetahuinya karena mereka tidak mempelajarinya. kan sudah pasti jadi tak paham perkataannya. tapi mereka tau, kalau apa yang dibicarakan oleh dua orang itu adalah sesuatu yang serius karena atmosfer ruangan ini berubah berat.


"itu.. iya"