The Antagonist

The Antagonist
BAB 33



Terlihat beberapa pelayan yang tengah menemani Zi Yu bermain.


Beberapa pelayan memanglah mengakui kalau Zi Yu lebih menggemaskan daripada Xian'er anak Wei Lian.


Jikalau mereka lebih lebar dalam membandingkannya, Xian'er memanglah sangat tampan meskipun masih anak-anak.


Namun dia hanya dekat dengan ibunya dan juga Liuli, jika berpapasan dengan pelayan lain, ia akan meringkuk ketakutan.


Walaupun lemah tak seharusnya bukan ia menunjukkannya dengan jelas ?.


Karena dengan sikapnya itu ia makin dikucilkan dan dihina oleh para pelayan.


Sedangkan Zi Yu sangatlah ramah dan sering bertingkah menggemaskan dihadapan para pelayan ataupun yang lainnya.


Siapa yang tak gemas melihat anak selucu itu.


"Peri..." teriak Zi Yu kecil lalu berlari dan memeluk kaki Wei Lian.


Perasaan Wei Lian menjadi tak karuan melihat perilaku Zi Yu yang bermanja-manja padanya.


"Lepaskan Zi Yu, aku bau keringat, kalau kau begitu kau akan bau keringat juga." ucap Wei Lian.


Anak itu masih enggan melepaskan pelukannya, sedangkan Wei Lian harus segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Zi Yu...lepaskan ya nak." ucap Wei Lian memohon.


Anak itu menggelengkan kepalanya, ia ingin bermain dengan Wei Lian.


"Huh...." helaan nafas Wei Lian begitu keras.


"Kalau begitu jangan salahkan aku." ucap Wei Lian.


Wei Lian berjalan menuju kediamannya dengan menyeret Zi Yu yang masih bergelantungan dikakinya.


Kakinya seolah mati rasa, setelah berlatih ia masih harus berjalan untuk kembali ke sekte Wei, sekarang ia harus membawa beban ini dikakinya.


Ingin sekali ia marah namun hatinya tak tega. Dipandanginya anak itu justru tersenyum senang.


Sesekali ia bahkan memukul pelan kaki Wei Lian dengan salah satu tangannya dan mengatakan agar Wei Lian mempercepat langkahnya.


"Cepatlah peri, ini menyenangkan." ucapnya kesenangan.


Liuli yang menyadari Nyonyanya itu kelelahan pun makin khawatir, "Nyonya...aku akan menggendongnya, kalau begini aku takut anda akan jatuh sakit."


"Tidak mau! Zi Yu ingin bersama peri." sahut Zi Yu.


"Sudahlah Liuli, walaupun kau paksa sekalipun, anak ini tetap tak akan mau." ucap Wei Lian.


Begitu sampai dikamar, Zi Yu langsung melepaskan pelukannya itu dan beranjak naik ke atas ranjang Wei Lian.


"Hati-hati Zi Yu, kau bisa jatuh nanti." ucap Wei Lian khawatir.


Liuli pun segera menyiapkan air untuk digunakan Wei Lian membersihkan diri.


Saat ditinggal mandi, Zi Yu bermain sendirian dikamar Wei Lian.


Ia mengeluarkan semua barang dikamar Wei Lian, ia bahkan menemukan permen yang disembunyikan Wei Lian.


Dengan lancangnya ia juga memakan permen-permen itu.


Cukup lama Zi Yu menunggu, akhirnya Wei Lian datang juga.


Tentu saja ia langsung terkejut melihat keadaan kamarnya yang sangat berantakan.


"Liuli...maafkan aku, sepertinya kau harus membersihkan kamarku lagi." ucap Wei Lian.


"Peri...perii...ini kakak." ucap Zi Yu sambil menunjukkan lukisan wajah Xian'er yang dibuat oleh Wei Lian.


"Apa yang kau lakukan Zi Yu ?! Kenapa kau sangat nakal ? Lihat apa yang kau perbuat! Selain membuat berantakan kamarku, kau juga merusak lukisan putraku!." teriak Wei Lian, matanya memerah karena melihat lukisan Xian'er yang rusak, noda coretan itu berbau permen.


"Kau!! Huh...." teriak Wei Lian lagi, namun pada akhirnya ia sadar kalau anak itu ketakutan karena kemarahannya.


Mata yang tadinya hanya berkaca-kaca kini sudah deras oleh air mata.


"Maafkan aku Zi Yu, aku marah karena kau merusak lukisanku, maafkan aku..." ucap Wei Lian sembari menangis juga.


"Bersihkan kamar ini Liuli."


Wei Lian pun membawa Zi Yu keluar dari kamar, ia membawa anak itu ke gazebo dekat kolam cermin bulan.


"Maafkan aku Zi Yu, berhentilah menangis." ucap Wei Lian.


Hari sudah mulai malam, anak itu kini tertidur dipangkuannya.


Wei Lian mengelus pelan pipi gembul milik Zi Yu. Perasaannya kembali campur aduk, ia teringat kembali dengan anaknya.


Lebih tepatnya anak Wei Lian asli, ia merasa sangat merindukan anak itu, tangisnya pun pecah, namun ia harus menahan suaranya, ia tak ingin suara tangisnya itu membangunkan Zi Yu yang tertidur pulas.


Liuli yang menemaninya pun paham kalau Nyonyanya itu pasti teringat dengan mendiang putranya.


Kalau saja Xian'er masih hidup pasti dia akan bermanja-manja seperti yang dilakukan oleh Zi Yu.


"Berhenti menyentuh anakku dengan tangan kotormu itu Wei Lian!." ucap Meixi yang tiba-tiba saja muncul.


Ia datang dengan ibunya dan juga beberapa pelayan, dengan kasar ia mengambil Zi Yu kembali.


Tatapan kebencian sangat terpancar dari kedua bola mata Meixi dan juga ibunya.


"Aku tahu anakmu mati dan kau merindukannya tapi tak seharusnya kau menculik anak orang lain!." ucap Yan Zi.


"Aku tak menculiknya." elak Wei Lian setelah dituduh oleh ibu dan anak itu.


"Benar, Nyonya Wei Lian memang tak menculik Tuan Muda Zi Yu." ucap Liuli.


"Diam kau pelayan rendahan, tak ada yang menyuruhmu berbicara!." ucap Meixi.


Mereka pun terus beradu mulut dan membuat Zi Yu hampir terbangun dari tidurnya.


Zi Lan yang mendengar keributan saat melewati kamar Wei Lian pun muncul.


Lagi-lagi kedua istrinya itu bertengkar, kepalanya itu serasa ingin pecah.


"Apa yang terjadi disini ?." tanya Zi Lan yang baru saja tiba.


Meixi yang tadinya tak menangis pun mulai berakting, matanya kini memerah dan berkaca-kaca.


"Suamiku, wanita gila ini menculik putra kita." adunya dengan suara pilu.


"Bukan seperti itu Tuan.." elak Liuli.


Yan Zi pun langsung mendekat dan menampar Liuli dengan sangat keras.


"Apa yang kau lakukan pada pelayanku Nyonya Yan Zi ?!." teriak Wei Lian.


"Aku menamparnya! Kenapa ? Kau tak terima ? Pelayanmu ini sangat kurang ajar, ia tak pernah mematuhi perintah majikannya." ucap Yan Zi dengan lagak soknya itu.


"Majikannya adalah aku bukan kau!." ucap Wei Lian.


"Kau! Berani sekali kau berbicara pada ibuku seperti itu ? Dia ini Nyonya sekte Wei, apa kau lupa kalau dia istri Wei Meng Fan ?!." balas Meixi yang tak terima.


"Kalian semua diamlah! Apa kalian ingin kuhukum ?!." tanya Zi Lan.


"Pelankan suaramu Zi Lan, Zi Yu tidur nyenyak." ucap Yan Zi yang sedikit takut dengan amarah menantunya itu.


"Suamiku, Wei Lian memanglah menculik putra kita." adu Meixi lagi.


"Aku tak menculiknya Meixi." elak Wei Lian.


"Kalau kau tak menculiknya, kenapa kau tak mengembalikannya padaku ? Kau pikir aku juga tak tahu kalau kau memarahi anakku." ucap Meixi.


"Kau memarahi Zi Yu, Lian'er ?." tanya Zi Lan.


"Aku memang memarahinya karena dia merusak lukisan Xian'er suamiku, tapi aku tak memukulnya." jelas Wei Lian.


"Seharusnya kau tak melakukan itu Lian'er." ucap Zi Lan dengan nada kesal.