The Antagonist

The Antagonist
BAB 45



Rembulan sudah bersinar terang, namun tetaplah didalam penjara itu gelap.


Liuli terkapar diatas tumpukan jerami, tangannya bahkan diikat oleh pelayan-pelayan kurang ajar itu.


Ia memperhatikan Meixi yang baru saja tiba, wanita itu berjalan ke arahnya dengan tersenyum senang.


Didalam hatinya itu sangatlah ingin menampar wanita itu karena telah menyiksa Nyonyanya, namun dia hanyalah seorang pelayan.


Jikalau ia melakukan hal seperti itu, pastilah Wei Lian yang akan dihukum oleh wanita tak tahu diri ini.


"Bagaimana Liuli ? Apa tamparanku sangat menyakitkan ?." tanya Meixi.


Liuli tak bergeming, ia hanya terdiam membisu. Ia tak ingin salah berucap yang justru membuat dirinya akan lebih lama berada di penjara yang gelap ini.


Meixi POV


Aku sangatlah berharap pelayan setia Wei Lian ini mau bekerja sama denganku.


Sebenarnya aku sangatlah iri dengan Wei Lian, Liuli adalah pelayan yang sangat setia, bahkan ia selalu memohon untuk menggantikan Wei Lian menerima hukuman.


Aku sangat ingin memiliki Liuli.


■■■■■■■■■■■■


Liuli terus saja membisu walaupun Meixi terus bertanya padanya soal tamparan itu.


Meixi pun menjadi kesal karenanya, namun dia tahu bagaimana cara membuat mulut pelayan itu terbuka.


"Apa kau tak ingin keluar dari sini dan menyelamatkan Wei Lian ?." tanya Meixi.


Liuli pun terpenjerat, tentu saja dirinya menginginkan hal itu.


"Kalau kau melakukan semua perintahku maka aku akan membebaskanmu Liuli." ucap Meixi sambil tersenyum jahat.


"Apa Nyonya ? Selama tak menyakiti dan membahayakan Nyonya Wei Lian aku akan melakukannya." ucap Liuli.


"Akulah yang memberi perintah dan persyaratan Liuli, bukan dirimu." jawab Meixi.


Timbul rasa curiga dalam hati Liuli, kalau Meixi berkata seperti itu, pastilah dirinya akan diperintahkan untuk menyakiti Wei Lian.


"Mengapa ekspresimu seperti itu ? Apa kau sudah berpikiran buruk Liuli ?." tanya Meixi dengan santainya.


Mulut Liuli kembali terkunci, seolah tak tahan pada akhirnya Meixi pun mengungkapkan keinginannya itu.


"Jadilah bawahan setiaku, selama kau mengikuti dan tak pernah mengkhianatiku maka kau akan bisa keluar dari penjara ini." ucap Meixi.


"Nyonya aku tak akan pernah mengkhianati orang yang telah menyelamatkanku." jawab Liuli.


Mana mungkin ia menjadi pelayan dari wanita yang telah menyiksa orang paling berjasa dan berharga dalam hidupnya.


"Pikirkanlah baik-baik Liuli, tak banyak waktu yang kuberikan padamu, semakin lama kau memberi jawaban, semakin cepat juga Nyonya mu itu menemui ajalnya." ucap Meixi lalu berjalan pergi.


Ditinggalkannya ia didalam penjara yang gelap dan pengap ini.


Ia terus memikirkan apa yang diucapkan Meixi, mungkin saja yang dikatakan Meixi tadi bukanlah sebatas ancaman saja.


Namun disisi lain ia juga berpikir bahwa Zi Lan pasti akan akan mengeluarkannya dan juga berhenti menghukum Wei Lian.


"Nyonya Wei Lian bersabarlah sebentar." gumam Liuli.


......................


Disisi lain Wei Lian tak bisa menutup matanya sama sekali.


Sejak dikurung ia terus-menerus mondar-mandir sembari memikirkan sebuah cara agar bisa keluar dari kamar ini.


Ia sangatlah khawatir dengan keadaan Liuli di dalam dipenjara.


"Huhhh...." hela Wei Lian dengan sangat keras.


Ia memanglah bersalah karena diam-diam menyusup keluar dari kediaman Wei.


Namun kalaupun ia meminta ijin terlebih dahulu pasti pun jawabannya yang ia terima adalah penolakan.


Kalaupun diijinkan pastilah Zi Lan akan mengutus murid ataupun pengawal untuk menjaganya.


Kalau seperti itu bagaimana mungkin ia bisa melatih kultivasinya.


"Kalau saja kultivasiku tinggi pasti aku bisa menghancurkan segel itu." lanjutnya lagi.


Tiba-tiba saja ia terpikirkan dengan Xu Ye Han, sebuah senyuman pun juga langsung terukir dibibirnya yang tipis itu.


Lelaki itu suka menyelinap kedalam sekte Wei dan masuk ke dalam kediamannya.


Pastilah ia akan menyadari keanehan saat melihat segel-segel ini dari luar.


Ketidakspoanan lelaki itu pada akhirnya akan membantu dirinya dan Liuli.


Sudah beberapa kali ia menguap, bahkan matanya itu juga berair.


Ia sangatlah mengantuk, namun ia tetaplah harus sadar.


Bagimana jika Xu Ye Han tiba namun ia tertidur ? Pastilah ia akan kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Liuli.


Entah sudah berapa kali Wei Lian hampir ambruk karena tak kuat menahan rasa kantuknya.


Sampai pada akhirnya ia benar-benar tak sadar dan memasuki dunia mimpi.


Di tempat lain, Meixi dan Zi Lan sedang memadu kasih.


"Suamiku...kau pasti akan membiarkanku menyiksa Wei Lian bukan ?." tanya Meixi.


"Jangan menyiksanya dengan kejam Meixi, bagaimanapun kita masih membutuhkannya." jawab Zi Lan.


Cup! Cup!


Di kecupnya dengan manja pipi istrinya itu. Ia menyadari kalau Meixi kesal karena mendengar jawabannya.


Namun yang ia katakan memanglah benar adanya, jikalau Wei Lian disiksa dengan kejam dan mati, pastilah banyak orang akan menaruh curiga padanya dan juga Meixi.


Apalagi ia juga masih memiliki sedikit belas kasih pada istri pertamanya itu.


"Aku sudah memaafkanmu karena memberi racun lebih banyak daripada biasanya." ucap Zi Lan.


Ya, istri keduanya itu diam-diam menaikkan dosis racun yang diberikan pada Wei Lian.


Dan karena perbuatannya itu, Wei Lian menunjukkan gejala keracunan lebih cepat.


"Jadi kau mengetahuinya..." ucap Meixi lesu.


"Tentu saja aku mengetahuinya, sebenarnya aku sangat marah karena kecerobohanmu itu membuat seseorang tahu." ucap Zi Lan.


Pupil mata Meixi membesar, apa yang baru saja ia dengar pasti salah bukan ?.


"Apa maksudmu suamiku ? Seseorang tahu soal kondisi Wei Lian ?." tanya Meixi tak percaya.


Zi Lan pun melepaskan pelukannya pada Meixi. Dihembuskannya nafasnya itu sedikit keras.


"Xu Ye Han bajingan itu mengetahuinya, entah bagaimana dan darimana dia mengetahui hal itu." jelas Zi Lan.


"Xu Ye Han"


"Lelaki itu tahu ? Suamiku, apa Wei Lian juga tahu ?." tanya Meixi penasaran.


Zi Lan pun menggeleng, "Wei Lian tak tahu, makanya itu aku akan mengurung Wei Lian, ia tak boleh bertemu dengan lelaki itu lagi."


"Kalau sampai mereka bertemu...pastilah rencana kita gagal." jawab Zi Lan.


Meixi mengumpat berkali-kali, ia benar-benar sangat kesal.


Mengapa sejak kedatangan lelaki itu ke sekte Wei, ia selalu saja menjadi sumber masalah dalam hidupnya.


"Suamiku, kau harus membunuh bajingan tengik itu, dengan begitu pastilah ia tak bisa membuka lagi mulut busuknya itu!." ucapnya.


"Ya, aku juga sedang mencari cara untuk menemukan dan membunuhnya dengan tanganku sendiri." ucap Zi Lan.


Meixi pun tersenyum jahat, ia sangat yakin suaminya itu pastilah berhasil membunuh Xu Ye Han.


Dengan tersingkirnya lelaki itu pastilah rencananya kembali berjalan mulus.


"Setelah ini marilah kita membunuh Wei Lian, aku sangat tak sabar menjadi satu-satunya Nyonya di sekte Wei ini suamiku." ucap Meixi dengan sangat manja.


"Sabarlah sebentar." jawab Zi Lan.