The Antagonist

The Antagonist
Chapter 1



seorang gadis kini tengah kebingungan akibat terbangun di suatu ruangan yang sama sekali tidak ia kenali. kamar dengan nuansa pink lolita yang sangat berbeda dengan kamarnya yang biasanya didominasi warna abu abu muda dan tua.


gadis itu adalah Alana Chasteria Besson, gadis kelahiran Amerika yang tinggal lama di Indonesia. Alana kini tengah mengalami kebingungan akibat ia terbangun di tempat yang tak ia kenal. seingatnya, kemarin ia hanya tidur akibat sakit kepala, lalu kenapa ia berada di sini?


bingung dengan keadaannya, Alana bangkit dari kasur king size itu. entah bagaimana ia ada disini, ia akan mencaritahunya.


Alana mengelilingi kamar ini. kamar ini luas, hampir seluas kamar di penthouse nya. jadi agak butuh waktu lama untuk menyusuri kamar ini.


Alana mengelilingi setiap inchi kamar ini, namun ia masih tidak menemukan petunjuk. yang tersisa hanyalah walk on closed yang ada di kamar itu.


Alana masuk ke dalamnya, dapat ia lihat kalau di dalamnya hanya ada warna pink yang benar benar mendominasi. Alana ingin muntah rasanya, tapi tak jadi karena ia sungkan. bagaimana kalau pemilik kamar ini nanti datang? kan malu kalau sampai muntah di rumah orang.


Alana masih menelusuri walk in closed ini, tapi ia merasa tak melihat petunjuk keberadaannya. namun, itu berubah saat ia melihat sebuah seragam sekolah dengan tage name Reysa Anari Kartarendra. seketika itu juga, Alana membeku ditempat.


hah? Reysa Anari Kartarendra? itukan nama tokoh antagonis novel yang gue baca sebelum gue tidur. kok bisa ada di sini?


Alana berpikir semua kemungkinan yang ada. tapi ia tak kunjung menemukan jawaban atas pertanyaannya. dan tiba tiba, jantungnya berdetak kencang. ia merasakan sesak nafas, jantungnya serasa diremas-remas.


ada apa ini? nggak mungkin kan gue mati?


bersamaan dengan rasa sakit yang ia rasakan, Alana menerima informasi berupa gambaran yang sepertinya adalah ingat seseorang di dalam kepalanya. dan sungguh ia tak menyangka kalau kemungkinan yang paling tidak mungkin menurutnya itu justru terjadi. kemungkinan kalau ia berpindah ke dalam novel, benar benar hal yang tidak logis menurutnya.


setelah gambaran itu berhenti, rasa sakit yang dialami Alana pun berangsur membaik. Alana bangkit berdiri karena tadi ia terjatuh akibat rasa sakit itu.


setelah bangkit, Alana berjalan menuju cermin yang ada di sana. penampilannya sungguh berbeda, walau sama sama cantik sih. tapi menurutnya lebih cantik dirinya saat di dunia nyata.


Alana menghela nafas pelan. lalu ia memantapkan niatnya untuk berperan sebagai Reysa.


"oke, sekarang gue adalah Reysa. walau gue nggak tau sampai kapan gue harus jadi karakter ini, tapi gue harus jalani dengan sepenuh hati. dan kalo suatu hari nanti gue bisa pulang ke rumah, gue bakal pulang" ujarnya pada diri sendiri.


Alana atau sekarang bisa dipanggil Reysa itu melihat lagi ke arah seragam sekolahnya. saat itu barulah ia ingat kalau Reysa juga perlu sekolah, jadi ia segera bergerak keluar dan menuju kamar mandi.


singkat cerita, Reysa selesai mandi. ia segera mengenakan seragam sekolahnya, tapi saat ia hendak memakainya ia merasa jijik dengan hal itu. bagaimana tidak? seragam ketat yang menampilkan lekuk tubuh dan rok mini yang bahkan agak jauh di atas lutut. sekali lihat saja Reysa sudah merasa tak nyaman. jadi ia memutuskan mencari set seragam yang baru.


selesai dengan pakaiannya, Reysa segera mengambil tasnya. tapi sebelum itu ia memeriksa dalamnya terlebih dahulu, takut kalau yang dibawa adalah benda benda tak guna. dan benar saja, Reysa yang asli bukannya membawa buku justru membawa alat make up dan barang barang tak guna lainnya. Reysa hanya bisa menghela nafas. karena malas, Reysa mengambil tas baru di lemarinya. untung saja ada tas warna abu abu, dan bukannya semua pink. kalau pink pasti Reysa akan muntah ditempat.


Reysa mengambil tasnya dan segera mengisi tas itu dengan semua hal hal normal yang dibawa remaja pada umumnya ke sekolah. prinsip Reysa alias Alana adalah semua harus sesuai dengan jalannya. jadi jika sekolah maka yang dibawa perlengkapan sekolah, dan jika bermain yang dibawa mainan. begitulah hidup Alana di dunia nyata. dan itu sungguh ampuh dalam memberi kesuksesan dalam hidupnya.


setelah semua siap, Reysa juga sudah mengenakan sepatu putihnya. ia turun ke bawah untuk sarapan. dan disana barulah Reysa ingat kalau keluarga Reysa asli juga pasti ada di rumah. ditambah dengan sang heroin yang merupakan saudara tiri Reysa.


mood Reysa seketika turun saat melihat sang heroin dan papanya duduk di meja makan dan sarapan. karena moodnya yang buruk, Reysa berniat melewatkan sarapannya tapi tak jadi karena sarapan dan makan tepat waktu itu penting. ia tak mau sakit, jadi ia mengambil selembar roti bakar dan sekotak susu pisang yang memang ada di rumah itu untuk Reysa.


sesudah itu, Reysa keluar menuju garasi untuk mengambil mobil Reysa dan berangkat sekolah.


sementara itu, sesaat setelah Reysa mengambil sarapannya, papanya Edward tersentak terkejut. hal ini karena Reysa tidak membuat masalah pada saudara tirinya, Felicia.


'ada apa dengannya?' batin Edward heran.


sama dengan Edward, Felicia juga merasa aneh dengan kakak tirinya itu. biasanya setiap pagi Reysa akan selalu mengganggu dirinya. tapi pagi ini Reysa hanya mengambil sarapannya dan pergi tanpa menghiraukan dirinya dan papanya.


'kak Reysa kenapa ya?' batin Felicia heran.


.


.


.


.


.


The antagonist: chapter 1_End