The Antagonist

The Antagonist
BAB 22



Setelah sampai Wei Lian tak lupa berterima kasih pada Xu Ye Han yang telah menemani dan mengantarnya dengan selamat ke kediamannya.


"Tuan Muda Xu Ye Han sekali lagi aku berterima kasih, sayangnya hari sudah sangat malam, aku akan benar-benar menjamu dirimu besok." ucap Wei Lian.


"Aku sangat menantikannya Lian'er, kalau begitu aku pamit dahulu agar kau bisa cepat beristirahat." pamit Ye Han.


Xu Ye Han pun meninggalkan kamar Wei Lian dengan tersenyum senang.


"Tuan, kurasa kau jatuh cinta pada Nyonya Wei Lian." ucap Jin Ling.


Ye Han pun tak menjawab ucapan Jin Ling, ia hanya menatap pengawalnya itu sebentar lalu berjalan pergi.


Kini mereka berdua tengah menikmati arak bersama didalam kamar.


"Kejadian saat Nyonya Wei Lian menjadi gila tadi benar-benar membuatku terkejut." ucap Jin Ling.


"Dia tak gila Jin Ling." ucap Ye Han.


"Siapapun pasti akan berpikir dia gila Tuan, kalau saja Tuan tak meyadarkan dan menolongnya tadi, pasti ia sudah membunuh dirinya sendiri." ucap Jin Ling.


Ye Han pun teringat kejadian tadi saat Wei Lian menceburkan dirinya kedalam danau lalu berteriak-teriak memanggil putranya.


"Dia seperti itu karena masih tak menerima kematian putranya, aku sangat kasihan padanya." ucap Ye Han.


"Ya, dia memang terlihat sangat menyedihkan Tuan, kalau saja Nyonya Wei Lian tak berubah pastinya Nyonya Meixi dan Tuan Zi Lan akan semakin berkuasa di sekte Wei." ucap Jin Ling.


"Ya benar, lagipula Yuan Zi Lan itu sangat mencurigakan, aku sudah berusaha mencari informasi soal dia selama ini, namun yang kudapatkan hanyalah ia murid dari mendiang pendekar Mingyu." ucap Ye Han.


Di sisi lain Yuan Zi Lan tengah menggeledah kamar mendiang Wei Meng Fan dengan Lu Meixi.


"Suamiku sebenarnya untuk apa kita ke kamar ini ? Kalau ada orang yang melihat pasti akan tersebar rumor tak sedap." ucap Meixi.


"Kau kan tahu kalau Wei Lian tak berniat menyerahkan posisi pemimpin padaku sekarang, ia juga sama sekali tak berusaha mencari dimana keberadaan buku tapak darah itu." jawab Zi Lan.


"Kalau saja dia bukan istrimu dan kau tak melarangku pasti aku sudah membunuhnya sejak lama." ucap Meixi.


"Pelankan suaramu Meixi! Lebih baik kau cepat bantu aku mencari buku itu." ucap Zi Lan.


Mereka berdua pun mencari buku itu dari sudut kesudut, namun hasilnya tetap saja nihil.


Tak ada buku atau catatan apapun yang berkaitan dengan tapak darah.


"Tak ada apapun selain puisi-puisi menjijikkan yang dia tulis untuk Ju Changxi." gerutu Meixi.


"Sebenarnya dimana orang itu menyimpannya?!." ucap Zi Lan.


"Aku tak tahu sehebat apa jurus tapak darah itu tapi bukankah kemampuanmu itu sudah sangat unggul suamiku ?." tanya Meixi.


"Memang, hanya saja tanpa jurus itu aku merasa kurang lengkap Meixi, lagipula sekte Wei juga terkenal karena jurus tapak darah yang dikuasai oleh Wei Meng Fan." jawab Zi Lan.


......................


Esok paginya...


Sejak pagi Wei Lian sudah sangat sibuk memasak di dapur.


Biarpun ia sangat kelelahan namun ia sama sekali tak mengeluh.


"Nyonya biar aku saja yang memasak, keringat anda bercucuran sangat deras, anda juga belum sembuh sepenuhnya." ucap Liuli.


"Sudahlah, aku tak apa Liuli, lagipula aku sangat senang melakukan ini." ucap Wei Lian.


Pada akhirnya Liuli sama sekali tak bisa menghentikan Wei Lian.


"Akhirnya selesai juga." ucap Wei Lian.


Raut muka Wei Lian benar-benar terlihat sangat bahagia.


"Liuli cepat bawa ini semua ke kediamanku." pinta Wei Lian.


Liuli pun segera melaksanakan perintah Wei Lian.


Wei Lian sendiri tengah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Xu Ye Han.


"Memanglah Wei Lian ini sangat cantik." gumam Jian Mei yang tengah bercermin.


Seusai berdandan ia pun segera menunggu kedatangan Xu Ye Han di balai tepi kolam cermin bulan.


"Silahkan duduk Tuan Muda Xu dan Tuan Jin Ling." ucap Wei Lian.


Mereka berdua pun duduk, Xu Ye Han sendiri sedari tadi hanya tersenyum sangat labar.


Wei Lian pun mempersilahkan mereka untuk segera menikmati makanan yang sudah ia hidangkan.


"Mungkin rasa masakan ini tak senikmat makanan dari sekte Xu tapi aku benar-benar tulus membuatnya." ucap Wei Lian.


Ye Han dan Jin Ling pun mencicipi makanan yang dibuat oleh Wei Lian. Mereka berdua sangat takjub dengan rasanya.


"Ini sangat enak." puji Ye Han.


"Rasanya bahkan lebih enak dari masakan yang dibuat ibuku." ucap Jin Ling.


"Itu sangat berlebihan Tuan Jin Ling." jawab Wei Lian.


"Kau juga makanlah Liuli, jangan berdiri saja." ucap Ye Han.


Liuli sendiri terlihat sangat kesal, "Seharusnya kalian juga membawa hadiah, ini pertama kalinya Nyonya memasak, aku bahkan belum mencobanya sama sekali."


Wei Lian pun terkekeh kecil mendengarnya, memanglah ia melarang Liuli untuk mencicipi makanannya waktu ia memasak.


"Kalau begitu aku sangat beruntung." ucap Ye Han.


Ye Han pun mengambil lauk dengan sumpitnya dan menaruhnya di mangkuk Wei Lian.


"Kau juga makanlah Lian'er." ucap Ye Han.


Mereka berempat pun menikmati makanan bersama sambil bergurau.


......................


Aula Perjamuan Istana Wei


Hari ini adalah hari terakhir Yuan Zi Lan dan Lu Meixi menjamu para tamu yang hadir di Istana Wei.


Dia melihat sekeliling aula seolah tengah mencari seseorang.


"Apa yang sedang kau cari suamiku ?." tanya Meixi.


Yuan Zi Lan sama sekali tak menjawab pertanyaan Meixi, matanya benar-benar terfokus mencari kesana-kemari.


"Kalau kau mencari Wei Lian dan Xu Ye Han, mereka tengah berkencan bersama." ucap Meixi.


"Apa maksud ucapanmu itu Meixi ?." tanya Zi Lan.


"Kau pergi dan lihat saja sendiri di kediaman Wei Lian." ucap Meixi.


Yuan Zi Lan pun meninggalkan aula istana Wei dan menuju ke kamar Wei Lian.


Dan benar saja dari kejauhan ia melihat istrinya itu tengah bergurau dengan lelaki lain.


Lelaki yang membuatnya malu dihadapan para pendekar lain.


"Sejak kematian Xian'er kau bahkan tak pernah tersenyum selebar itu walaupun aku menghiburmu Wei Lian." batin Yuan Zi Lan.


Tangan Zi Lan pun mengepal kuat dan membuat otot-otot ditangannya terlihat jelas.


"Xu Ye Han aku pasti akan menyingkirkanmu!." batin Zi Lan.


Setelah itu Zi Lan melangkahkan kaki pergi meninggalkan kediaman Wei Lian.


Ia kembali ke aula perjamuan dengan menahan amarah.


Meixi tersenyum senang melihat suaminya itu kembali.


"Mengapa kau terlihat sangat marah suamiku ? Bukankah kau tak mencintai Wei Lian ?." tanya Meixi.


"Diamlah Meixi, masih banyak tamu disini, kau jangan membuat suasana hatiku semakin memburuk." ucap Zi Lan.


Meixi pun menuangkan segelas arak dan memberikannya pada Yuan Zi Lan.


"Minumlah suamiku." ucap Meixi.