The Antagonist

The Antagonist
BAB 51



Wei Lian terdengar sedang memarahi pengawal yang tengah menjaga penjara.


"Pemimpin dan pemilik sekte Wei ini adalah aku, bukan Meixi. Jadi kalian berdua menyingkirlah, aku akan menemui Liuli." ucap Wei Lian.


Namun pengawal-pengawal itu tetap tak menyingkirkan tombak mereka.


"Maaf Nyonya, namun kami harus mematuhi perintah Tuan Zi Lan dan Nyonya Meixi."


"Kami hanya akan membiarkan anda masuk kalau anda mendapat izin. Kumohon jangan mempersulit kami Nyonya." lanjut pengawal itu.


Wei Lian pun melepas gelang yang ia pakai dan memberikannya pada pengawal.


"Kumohon, aku hanya akan berbicara dengannya sebentar." ucap Wei Lian.


Kedua pengawal itupun saling bertatapan.


"Aku akan memberikan bayaran lagi nanti." lanjut Wei Lian.


Kedua pengawal itu pun tersenyum, mereka pun mengangguk dan mempersilahkan Wei Lian untuk menemui Liuli sebentar.


"Jangan terlalu lama Nyonya dan jangan coba-coba untuk melepaskan pelayan Liuli, kalau tidak nyawa kami akan melayang." ingat pemgawal itu.


Dengan segera Wei Lian pun berlari masuk ke dalam penjara.


Begitu masuk ia melihat Liuli tengah bersandar pada pintu, ia tampak kedinginan.


"Liuli...Liuli..." panggil Wei Lian.


Liuli yang tadinya melamun pun akhirnya tersadar, ia sangatlah mengenal suara seseorang yang memanggilnya ini.


"Nyonya.." jawabnya.


Mereka berdua pun menangis bersamaan, seolah telah bertahun-tahun tak bertemu.


"Nyonya...hikss hikss...bagaimana anda bisa masuk ke sini ?." tanya Liuli.


"Aku menyogok pengawal, maaf karena tak datang lebih awal Liuli." jawab Wei Lian.


Liuli pun menggeleng, ia sudahlah paham kalau pasti Wei Lian dikurung dan dilarang menemuinya.


Pandangan matanya itu semakin memperhatikan wajah dan tubuh Wei Lian.


"Nyonya wajah anda sangat pucat, mengapa anda hanya memakai pakaian tipis, malam ini sangat dingin." ucap Liuli khawatir.


Wei Lian pun tersenyum, Liuli selalu mengkhawatirkan keadaannya padahal keadaan dirinya sendiri lebih mengkhawatirkan.


"Aku tadi menyelinap keluar dan membeli bakpao daging ini. Makanlah Liuli." ucap Wei Lian sembari memberikan bakpao daging yang tadinya ia sembunyikan didalam bajunya.


"Makanlah selagi masih hangat." ucap Wei Lian lagi.


Liuli pun langsung melahap bakpao itu dengan cepat sambil menitikan air mata.


"Liuli bertahanlah disini sebentar saja, aku sudah meminta bantuan Xu Ye Han untuk membebaskanmu." ucap Wei Lian sembari mengelus pelan kepala Liuli.


"Nyonya...bagaimana bisa anda meminta bantuannya ? Ahh....tidak, bagaimana kalau sampai ketahuan oleh Tuan Zi Lan dan Selir Meixi ? Aku takut terjadi hal mengerikan pada anda Nyonya." jawab Meixi.


Digelengkannya lah kepala Wei Lian, ia tak takut karena pastilah Xu Ye Han akan berhati-hati.


"Aku tak bisa berlama-lama disini Liuli, maafkan aku." ucap Wei Lian sedih.


"Nyonya...pakailah mantel bulu yang tebal, jangan sampai anda jatuh sakit." ucap Liuli.


Wei Lian pun mengangguk lalu segera pergi meninggalkan penjara.


Ia langsung terburu-buru untuk kembali ke dalam kamarnya.


Ia haruslah berhati-hati sampai menerima balasan dari Xu Ye Han.


■■■■■■■■■■■■■


Di sisi lain Xu Ye Han sudahlah sampai di daerah barat.


"Jin Ling kita akan beristirahat sebentar, setelah itu kita akan langsung membantu Yifei, aku tak ingin kita menghabiskan waktu terlalu lama disini." ucap Ye Han.


"Baik Tuan." jawab Jin Ling.


Yifei pun merasa heran, mengapa Xu Ye Han selalu terburu-buru dalam perjalanan.


Memangnya sepenting apa urusannya itu sampai-sampai ia jarang sekali beristirahat.


"Ye Han, sebenarnya apa yang akan kau lakukan itu ? Siapa tahu aku bisa membantumu." ucap Yifei.


Ye Han pun hanya tersenyum, ia tak ingin melibatkan Yifei dalam urusannya kali ini.


Ia berjalan mendekat ke arah Ye Han, ditunjuklah sebuah goa yang membuat Ye Han terkejut.


"Disini ayahku berada." ucap Yifei.


"Ayahmu berada disini ? Apa yang dia cari disini Yifei ?." tanya Ye Han penasaran.


Yifei pun menjelaskan bahwa ayahnya tengah tertarik dengan obat-obatan.


"Ayahku sedang mempelajari cara membuat obat Ye Han, dia sangat ingin membantu orang-orang miskin" ucap Yifei.


Ye Han pun merasa heran, goa ini adalah tempat dimana bunga biru banyak tumbuh.


Apakah maksud Yifei sebenarnya ayahnya ini tengah meneliti bunga biru ?.


"Kalau begitu kita tak usah membuang waktu lagi Yifei, tujuanku jugalah goa ini." ucap Ye Han.


"Aku senang mengetahui tujuan kita sama." ucap Yifei.


Ye Han hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Yifei sendirian.


Ia berjalan mendekati Jin Ling yang tengah mengobrol dengan pemilik kedai.


"Jin Ling, sebentar lagi kita akan berangkat." ucapnya lalu keluar dari kedai.


Yifei pun merasa heran, bukankah tadi Ye Han berkata mereka akan beristirahat sebentar ?.


Lalu kenapa tiba-tiba mereka akan berangkat ?.


"Nona Yifei, bersiap-siaplah." ucap Jin Ling yang kini sudah berada didepannya.


"Jin Ling tempat tujua kita sama, lalu mengapa Ye Han sangat terburu-buru ?." tanya Yifei.


"Kurasa karena ia tak sabar membawa bunga biru." jawab Jin Ling dengan santai.


Pupil mata Yifei pun membesar, ia tak salah dengar bukan ?.


Bunga biru ? Untuk apa Ye Han membawa bunga beracun itu ?.


"Jin Ling...bunga biru adalah bunga beracun, untuk apa Ye Han ingin membawanya ? Apa terjadi sesuatu di sekte Xu ?." tanya Yifei penasaran.


"Tak terjadi sesuatu di sekte Xu, hanya urusan pribadi Tuan saja." jawab Jin Ling.


Kini mereka bertiga sudahlah melanjutakan perjalanan.


Xu Ye Han terus memacu kudanya dengan cepat dan membuat Yifei kewalahan.


"Ye Han....Ye Han..." teriak Yifei.


Ye Han dengan sigap langsung memberhentikan kudanya setelah mendengar teriakan Yifei.


Tak butuh waktu lama Yifei sendiri sudah berada disamping Xu Ye Han.


"Jangan terlalu cepat, perutku sangatlah sakit terguncang terus-menerus." ucapnya.


"Kalau begitu beristirahatlah dengan Jin Ling, aku akan melanjutkan perjalanan ini sendirian." jawab Ye Han.


Yifei pun mencegahnya, ia tak ingin berpisah dengan Ye Han.


"Aku akan membantumu menemukan dan membawa bunga biru, jadi kumohon beristirhatlah juga, tubuhmu itu akan ambruk kalau tak beristirahat Ye Han." ucap Yifei khawatir.


Ye Han pun langsung menatap tajam Jin Ling.


Pastilah Jin Ling yang memberitahu soal dirinya yang mencari bunga biru.


Jin Ling sendiri langsung menunduk sebagai tanda permintaan maafnya.


"Maaf Yifei, tapi aku harus segera tiba disana. Kau beristirahatlah dengan Jin Ling disini." ucap Ye Han.


Hiyattt!!....


Ye Han langsung memacu kudanya lagi meninggalkan Yifei dan Jin Ling dibelakang.


"Semakin lama aku beristirahat semakin banyak waktuku terbuang." batin Ye Han.


"Ye Han....." teriak Yifei.


"Nona Yifei sudahlah, memanglah masalah ini mendesak." cegah Jin Ling.


Yifei pun akhirnya terdiam, padahal ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Ye Han.


"Ayo kita pergi Jin Ling, aku takut terjadi sesuatu pada Ye Han." ucapnya.