
Seperginya Liuli yang menenangkannya setelah kejadian tadi, Wei Lian yang tadinya berpura-berpura tidur langsung bangkit.
Dengan masih berpakaian tipis ia keluar dari dalam kamarnya, dilangkahkannya kakinya menuju gazebo tempat ia menghabiskan waktu untuk melamun.
Ditaruhnya lembaran yang ia bawa diatas meja, dipandanglah lukisan putra tercintanya Xian'er.
"Aku melukis ini dengan susah payah, namun sekarang sudah rusak begitu saja, bahkan Zi Lan juga menyalahkanku, apa dia tak memikirkan perasaan Wei Lian ?." gumam Jian Mei.
Ia memperhatikan bayangan yang ditampilkan oleh kolam cermin bulan.
Dengan jelas ia melihat seorang pria tengah memperhatikannya, bayangan yang cukup cantik itu tentulah ia mengenalnya, siapa lagi pria yang selalu bersikap kurang ajar menerobos kediaman orang lain.
"Xu Ye Han." ucap Wei Lian.
"Apa seorang wanita cantik memang sangat suka menangis ?." tanya Xu Ye Han sembari berjalan mendekat ke arah Wei Lian.
Orang lain mungkin akan berpikir ucapan Ye Han adalah sebuah pujian tapi Wei Lian sadar kalau lelaki didepannya ini sedang meledek dirinya.
"Aku tak sedang menangis Tuan Muda Xu." elak Wei Lian.
"Jangan berbohong Lian'er, kau tak pandai melakukan itu." ucap Ye Han.
Wei Lian pun berdecak kesal, meskipun benar seharusnya ia tak sejujur itu, ucapannya itu membuat dirinya malu.
"Mengapa lukisan putramu rusak Lian'er ?." tanya Ye Han penasaran.
Seolah terhipnotis dengan pertanyaan Ye Han, ia menceritakan begitu saja apa yang terjadi tadi.
"Jangan menahan tangismu lagi Lian'er, aku tak ingin kau terus memendam kesedihan itu terus-menerus. Saat kau ingin menangis maka menangislah, begitu juga saat kau ingin tersenyum ataupun marah." ucap Ye Han.
Ketika semua orang memintanya untuk berhenti menangis, lelaki inilah yang memintanya untuk menangis, selain kurang ajar ternyata ia juga gila.
Walaupun berpikir begitu, Wei Lian justru menangis, entah sihir apa yang digunakan oleh Xu Ye Han hingga ia menjadi sangat penurut.
"Aku merindukannya." ucap Wei Lian ditengah-tengah tangisannya.
Tiba-tiba saja Xu Ye Han memeluknya, Wei Lian tentu saja terkejut, namun ia tak berniat mengindar ataupun melepaskan pelukan itu.
"Aku sama sekali tak berniat jahat pada Zi Yu, tapi mengapa Zi Lan menyalahkanku ? Apa dia juga tak memikirkan perasaanku ? Bukankah dia juga ayahnya ? Putranya bukanlah Zi Yu seorang." ucap Wei Lian.
Ditepuknya dengan pelan punggung wanita yang sedang ia peluk ini, mengapa dia sangat rapuh dan bodoh ?.
"Lian'er berpikirlah dengan jernih setelah ini." ucap Ye Han.
Wei Lian yang bingung dengan perkataan Ye Han pun bertanya-tanya.
"Apa kau menganggapku bersalah juga ?." tanya Wei Lian.
Xu Ye Han pun melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Wei Lian dengan tangannya.
Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya itu.
"Berpikirlah apa kau pantas diperlakukan seperti ini oleh mereka Lian'er." ucap Ye Han.
Ye Han pun melepaskan mantel bulu yang ia pakai dan memasangkkan pada tubuh Wei Lian.
"Malam ini sangat dingin, masuklah kedalam kamarmu Lian'er. Aku akan membawa lukisan putramu untuk dilukis ulang, aku akan membuatnya semirip mungkin." ucap Ye Han.
Seusai mengantar Wei Lian kedalam kamarnya, ia langsung berpamitan pergi.
"Terima kasih Ye Han." ucap Wei Lian.
Xu Ye Han pun tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Wei Lian.
......................
Di sisi lain Lu Meixi sedang bermanja-manja pada suaminya didalam kamar.
Baginya apapun yang dimiliki oleh Wei Lian adalah miliknya.
"Suamiku..." ucapnya manja.
"Ada apa ? Langsung katakan saja, aku sangat paham dengan tingkahmu itu." ucap Zi Lan.
"Mengapa kau berkata seperti itu ? Aku begini karena sangat merindukanmu." jawab Meixi kesal.
Raut mukanya pun berubah menjadi sedih karena ucapan Yuan Zi Lan.
"Baiklah...baiklah maafkan aku." ucap Zi Lan seraya mengelus pelan kepala Meixi.
"Suamiku, aku sudah tahu kalau Wei Lian ingin memiliki anak, tapi aku tak menyangka ia menjadi segila itu sampai-sampai menculik Zi Yu." ucap Meixi.
"Kau bersabarlah, aku akan mengutus pengawal untuk menjaga Zi Yu dengan ketat, sehingga Wei Lian tak akan bisa membawanya lagi." ucap Zi Lan.
"Baguslah kalau begitu, aku tak ingin wanita gila itu menyakiti Zi Yu lagi." jawabnya dengan nada kesal.
Zi Lan pun menggelengkan kepalanya, ia mengatakan Wei Lian menyiksa Zi Yu pasti karena kebenciannya terhada Meixi dan ibunya yang suka menyiksa dirinya dan juga Liuli.
"Itu kan karena dia pantas menerimanya suamiku." elak Meixi.
Zi Lan hanya bisa menghela nafasnya keras, istri kesayangannya ini memanglah selalu seperti ini.
"Suamiku apa kau benar-benar akan memiliki anak dengan Wei Lian lagi ? Kalau seperti itu bukankah Zi Yu kita tak aka bisa mewarisi sekte Wei ini ?." tanya Meixi.
Tentulah ia menjadi sedih membayangkannya, masa depan anaknya itu tak akan cerah lagi.
"Apa kau lupa kalau Wei Lian tak akan bisa mempunyai anak karena racun itu ?." tanya Zi Lan sembari memandang Lu Meixi.
"Aku takut diam-diam kau memberikan penawar padanya." ucap Meixi.
Di genggamnya kedua tangan Lu Meixi, "Mana mungkin istriku, kalau aku memberinya penawar sama saja aku mengkhianatimu."
Lu Meixi pun tersenyum senang mendengar jawaban suaminya itu.
"Baguslah kalau begitu, aku akan sangat hancur kalau kau mengkhianatiku." ucap Meixi.
Ya, selama ini Zi Lan, Meixi dan juga Yan Zi meracuni Wei Lian.
Selama bertahun-tahun mereka memberikan racun dengan dosis yang tak begitu tinggi pada Wei Lian.
Karena itulah selama ini tak ada yang curiga karena racun itu bekerja dengan lambat.
"Wanita itu pasti akan sangat sedih mengetahui orang yang ia cintai justru meracuninya selama bertahun-tahun." ucap Meixi.
"Itu karena dia yang membuatku terluka lebih dulu." jawab Zi Lan.
Meixi yang mendengarnya pun mengerutkan dahinya, apa maksud suaminya itu.
"Apa kau menyesal suamiku ?." tanya Meixi.
"Aku tak menyesal istriku, lagipula aku mendapatkan istri yang cantik dan berbakti sepertimu jadi apa yang perlu kusesali ?." tanya Zi Lan.
Meixi kembali tersenyum mendengar jawaban Zi Lan, dipeluk dan diciumnya suaminya itu.
"Jangan menggodaku Meixi." ucap Zi Lan.
"Aku tak menggodamu, sebenarnya aku sangat ingin Wei Lian melihat kita bermesraan seperti ini." ucap Meixi.
Sudah dipastikan wanita itu tak akan bisa menahan tangisannya.
"Haruskah aku memanggilnya kemari ?." tanya Zi Lan.
Lu Meixi pun tertawa keras mendengar pertanyaan itu, "Lain kali saja, aku tak ingin sampah itu menangis lagi, suaranya itu sangat mengangguku."