
Zi Lan terus saja berkata-kata manis dengan harapan istrinya itu akan tenang.
"Padahal aku mendengarnya sendiri saat kau bilang mati adalah takdir terbaik untuk putra kita. Apa kau sangat malu mempunyai putra seperti dia ?." tanya Wei Lian dengan berlinang air mata.
"Kau salah paham, aku tak malu punya putra seperti dia, hanya saja kalau dia tetap hidup apa dia akan tahan mendengar ejekan dari orang lain ? Kau sendiri kan tahu bagaimana mereka mengejekmu." jelas Zi Lan.
Bukannya membuat Wei Lian tenang dengan ucapannya, Zi Lan malah makin memperburuk keadaan.
Wei Lian pun memalingkan badannya, ia merasa tak sanggup lagi mendengar ucapan-ucapan Zi Lan.
"Pergilah suamiku, aku paham maksudmu hanya saja perasaanku sedang tidak karuan." ucap Wei Lian.
Zi Lan pun akhirnya pergi dari kamar Wei Lian, "Cepatlah beristirahat, maafkan aku."
Seperginya suaminya itu Wei Lian hanya terduduk melamun.
"Aku tak menyangka kalau kau menerima luka sebesar ini Wei Lian." gumamnya.
Tak lama Wei Lian pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang, matanya benar-benar terasa sangat berat.
"Kurasa tidurku akan benar-benar nyenyak." ucap Wei Lian.
Sebuah bayangan terlihat melintas dari arah luar kamar Wei Lian.
Bayangan itu semakin mendekat ke arah pintu, dan tak lama pintu itu sudah ia buka.
Terlihat lelaki yang sangat tampan yang tak lain adalah Xu Ye Han.
Begitu masuk ia langsung menutup pintu dengan sangat cepat agar tak ada siapapun yang melihatnya.
Ia berjalan mendekat ke arah Wei Lian, dilihatnya wanita itu tengah tertidur.
"Saat tidur pun kau masih menangis, sedalam dan selebar apa lukamu ?." ucap Ye Han seraya menyeka air mata Wei Lian dengan tangannya.
"Tak lama lagi acara di istana Wei selesai dan saat itu juga aku harus pergi dari sini....huhhh." Ye Han tak dapat menyelesaikan perkataannya.
Ia menyelimuti tubuh Wei Lian agar wanita itu tak kedinginan nantinya.
"Semoga kau bermimpi indah Wei Lian." ucap Ye Han lalu menghilang dari kamar Wei Lian dalam sekejap.
■■■■■
Sebelumnya....
"Jadi apa hasil yang kau dapatkan setelah pergi ke kamar Wei Lian tadi ?." tanya seorang pria yang menutupi wajahnya menggunakan sebuah kain.
"Tuan, Wei Lian itu sepertinya ingin memiliki anak lagi." jawab tabib yang tadi memeriksa Wei Lian.
Lelaki didepannya itu terdengar tertawa kecil, raut mukanya tentu saja tak terlihat jelas karena tertutupi oleh kain.
"Lalu apa yang kau katakan tadi ?." tanya lelaki itu.
"Tentu saja aku mengatakan kalau ia tak akan bisa punya anak lagi kalau kesehatannya sangat buruk tuan." jawab tabib itu.
"Baiklah, terus perhatikan kesehatan tubuhnya itu, jangan sampai hal buruk terjadi dan membuat rencana kita gagal nantinya." ucap lelaki bercadar itu.
■■■■■
Pagi harinya Wei Lian sudah terbangun, kamarnya yang semalam kacau kini sudah terlihat rapi kembali.
"Liuli." panggil Wei Lian.
"Ya Nyonya..." sahut pelayan setianya itu.
"Bantu aku untuk mandi dan berdandan." perintah Wei Lian.
Liuli pun segera menyiapkan air untuk Wei Lian, ia juga menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Wei Lian nanti.
"Nyonya, apa anda mau pergi ke pesta lagi ?." tanya Liuli dengan perasaan sedih.
Ya, ia tak ingin Nyonyanya itu kembali sedih dan terluka karena ucapan para tamu ataupun Lu Meixi dan ibunya.
Terlebih lagi kemarin Yuan Zi Lan juga menyakiti Nyonyanya itu.
"Apa kau tau Liuli semalam aku bermimpi melihat Xian'er.....Aku melihatnya sedang bermain sendirian, ia berlari kearahku dan memelukku, kau tau apa yang dia katakan setelah itu ?." tanya Wei Lian.
Ia benar-benar sedih terus keadaan Wei Lian yang seperti ini.
"Ia mengatakan kalau ia sangat menyayangiku." ucap Wei Lian dengan raut muka bahagia.
Wei Lian pun melihat ke arah Liuli, dilihatnya raut muka pelayannya itu yang terlihat sangat sedih.
"Kau pasti sangat lelah ya melihatku terus seperti ini." ucap Wei Lian.
Liuli pun menggeleng, "Tidak Nyonya" ucapnya.
"Terima kasih." ucap Wei Lian.
Tempat Latihan Istana Wei
Meskipun ada masalah di setiap perayaannya, Zi Lan tetap memaksakan acara itu berjalan dan berakhir semestinya.
Kini mereka semua sedang mendengarkan Yuan Zi Lan yang tengah membanggakan putranya pada seluruh tamu.
Tiba-tiba saja Wei Lian muncul dan memotong ucapan dari Yuan Zi Lan.
"Bagaimana mungkin Zi Yu bisa menjadi pewaris dari sekte Wei kalau ia saja tak memiliki hubungan darah denganku ?." ucap Wei Lian.
Kedatangannya tentu saja mengejutkan semua orang, karena tak ada pemberitahuan dari para murid diluar.
Meixi yang mendengar itu tentu saja sangat kesal.
"Tak ada hubungan darah ? Dia itu juga cucu dari Tuan Wei Meng Fan, apa kau lupa kalau aku ini adikmu ?." ucap Meixi.
"Adik ? Kau saja bukan anak biologis ayahku, lagipula aku pewaris sah dari sekte Wei mengapa kalian berdua yang memutuskan ? Lagi-lagi kau membuatku kecewa Zi Lan." ucap Wei Lian.
Zi Yu yang awalnya ada duduk dipangkuan Meixi tiba-tiba saja turun dan berlari ke arah Wei Lian.
Tangan mungil milik Zi Yu pun menggoyangkan tangan milik Wei Lian.
"Peri marah ? Apa Zi Yu nakal ?." tanya Zi Yu dengan polosnya.
Wei Lian pun menatap Zi Yu, ia tersenyum dan mengelus pelan pipi milik Zi Yu yang seperti bakpao itu.
"Zi Yu ingin permen." pinta Zi Yu.
Wei Lian pun langsung menyingkirkan tangannya dan meminta Zi Yu untuk kembali terlebih dahulu.
Sayangnya anak itu justru menangis dan membuat Meixi merasa kalau Wei Lian telah menyakiti anaknya.
"Zi Yu ingin permen." ucap Zi Yu ditengah tangisannya.
"Wei Lian mengapa kau menyakiti putraku ?!." teriak Meixi.
"Aku tak menyakiti putramu sama sekali." jawab Wei Lian.
"Banyak alasan." ucap Meixi.
Tiba-tiba saja Meixi menyerang Wei Lian, tentu saja Wei Lian tak bisa menghindari serangan Meixi yang mendadak dan cepat itu.
"Kau!." teriak Wei Lian.
Wei Lian pun berusaha membalas serangan Meixi, meskipun kemampuan Meixi biasa aja tapi kemampuannya memang lebih bagus dari Wei Lian.
Brukkk!!!
Wei Lian jatuh tersungkur setelah mendapat serangan yang bertubi-tubi dari Meixi.
"Aku tahu kau kehilangan putramu dan kau sangat iri padaku tapi tak seharusnya kau menyakiti putraku!." teriak Meixi.
Para tamu pun menjadi sangat heboh, namun mereka tak berani menghentikan Meixi karena ini adalah masalah keluarga Wei.
Tiba-tiba saja Meixi mengeluarkan sebuah belati dari dalam bajunya.
Matanya menatap tajam ke arah Wei Lian, ia terlihat benar-benar ingin membunuh Wei Lian dihadapan para tamu.
Ia pun berlari ke arah Wei Lian.
Jlebb!!