The Antagonist

The Antagonist
BAB 47



Wei Lian sudah membuka matanya, ia dapat mengetahui kalau hari sudahlah pagi.


Dia terlihat sangat sedih, apakah Xu Ye Han tak datang semalam ?.


Deg!


"Bodohnya aku, Xu Ye Han sudah berpamitan pergi padaku, kenapa bisa aku baru mengingatnya ?!." ucap Wei Lian.


Berkali-kali ia memaki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu.


Ia sendiri jugalah sudah merasa lapar dan haus.


"Mengapa Zi Lan tak datang kemari ? Apa ia benar-benar menghukumku sekejam ini ?." gumam Wei Lian.


Sudah beberapa kali ia tertidur dan bangun kembali, namun tak ada siapapun yang datang ke kamarnya.


"Huhhh.... Aku bahkan belum meminum obatku juga, sepertinya Meixi benar-benar menginginkan aku mati."


Dengan sekuat tenaga Wei Lian mengangkat pedangnya, ia berniat untuk menghancurkan pintu kamarnya itu.


"Hiyattt....." teriaknya.


Sayang...usahanya itu tak menghasilkan apapun, sudah berkali-kali ia mencoba hingga pada akhirnya pedang itu terjatuh karena Wei Lian sudah tak mampu mengangkatnya.


Tiba-tiba saja ia mendengar segel-segel dikamarnya dibuka.


Kini ia melihat Meixi tengah berdiri dihadapannya dengan tersenyum senang.


"Kau pasti sangat lapar bukan ?." tanya Meixi.


Meskipun benar, namun Wei Lian tak berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Meixi.


"Kau pasti banyak menangis hingga suaramu habis begitu." ucap Meixi.


Meixi pun berjalan mendekati Wei Lian sembari membawa nampan yang ia ambil dari pelayan yang menemani dirinya.


Dijatuhkannya nampan itu dihadapan Wei Lian.


"Makanlah, meskipun tak hangat dan empuk, setidaknya ini membuat perutmu terisi."ucap Meixi.


"Dimana Zi Lan ?." ucap Wei Lian lirih.


"Suamiku itu sudah tak ingin bertemu denganmu, jadi jangan menanyakannya lagi." ucap Meixi.


"Cihhh....aku tahu kau berbohong." jawab Wei Lian.


Ia pun berusaha untuk bangkit, ia haruslah pergi menyelamatkan Liuli.


"Eitsss....kau mau keman kakakku tersayang ?." tanya Meixi sembari menarik kasar lengan Wei Lian.


Ditarik dan didorongnya Wei Lian hingga jatuh terduduk.


"Cepat pegangi dia dengan erat!." titah Meixi.


Ia memanglah datang dengan 2 orang pelayannya.


Wei Lian kini sudah berada dalam kuncian pelayan-pelayan itu.


"Apa yang akan kau lakukan Meixi ? Cepat lepaskan aku!." ucap Wei Lian.


"Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu ? Apa kau tak takut aku akan memotong lidahmu ?." ucap Meixi.


Wei Lian tentulah sedikit ketakutan mendengarnya.


Meixi langsung tertawa kencang begitu melihat Wei Lian terdiam.


"Kemana perginya keberanianmu itu Wei Lian ?! Seharusnya kau diam saja, namun kau malah banyak tingkah!." teriak Meixi.


Meixi pun mengambil bakpao yang terjatuh tadi, ia hendak menyuapi Wei Lian dengan tangannya sendiri.


"Makanlah bakpao ini dan matilah dengan tenang kakakku." ucap Meixi.


Wei Lian tentunya berusaha menutup mulutnya terus menerus.


Namun Meixi dan para pelayan itu terus berusaha membuat Wei Lian membuka mulutnya.


Brukkk!!


Seseorang terjatuh didekat mereka.


Pandangan pun langsung tertuju ke sumber suara tersebut. Seorang anak kecil yang tak lain adalah Zi Yu sedang membersihkan badannya yang kotor karena terjatuh.


"Zi Yu.." ucap Meixi.


"Ibu...sedang menyakiti peri ?." tanya Zi Yu dengan polosnya.


Disaat pegangan pelayan-pelayan itu melemah karena konsentrasi mereka teralihkan.


Wei Lian pun dengan sisa-sisa tenaganya mendorong mereka lalu berlari kearah Zi Yu.


Pastilah Meixi tak akan menyakiti dirinya jika ia mengancam akan menyakiti Zi Yu.


Zi Yu kini sudah berada dalam gendongannya.


"Apa yang kau lakukan Wei Lian ? Cepat lepaskan putraku!." teriak Meixi.


"Aku tak akan melepaskannya sebelum kau membiarkanku pergi menemui Zi Lan."


"Sudah kubilang bukan kalau Zi Lan tak ingin bertemu denganmu." jawab Meixi.


Wei Lian pun berniat mencekik Zi Yu.


"Lepaskan tanganmu itu Wei Lian!!." amarah Meixi.


Wei Lian hanya tersenyum, rencananya itu berhasil. Ia pun melangkah demi selangkah keluar dari dalam kamarnya.


"Cepat lepaskan tanganmu itu Wei Lian!!." teriak Meixi.


Wei Lian justru menggoda Meixi dengan mencekik pelan Zi Yu.


Akhirnya wanita itu menjerit ketakutan dihadapannya.


"Uhukk...uhukk..." Zi Yu terbatuk-batuk karena menerima perlakuan Wei Lian.


"Maafkan aku Zi Yu." bisik Wei Lian.


Kini mereka sudah tiba di dekat kolam cermin bulan. Wei Lian berusaha berjalan dengan pelan agar tak terpeleset.


"Wei Lian!! Kau benar-benar akan mati sebentar lagi! Singkirkan tangan kotormu itu!!." teriak Meixi.


Tiba-tiba saja dari arah samping seseorang melemparkan sebuah pedang ke arahnya.


Tubuh Wei Lian pun oleng karena berusaha menghindari pedang itu. Sayangnya Zi Yu tercebur kedalam kolam.


Meixi dan para pelayannya pun berteriak histeris.


"Anakku!!!." teriak Meixi.


"Tuan Muda Zi Yu."


"Cepat cari bantuan."


"Tuan Muda Zi Yu bisa saja mati! Kolam itu cukup dalam."


Seseorang yang melempar pedang akhirnya pun muncul, orang itu adalah Zi Lan.


Zi Lan sendiri juga terlihat sangat ketakutan, ia tak berniat membuat putranya itu tercebur kedalam kolam.


"Zi Yu!!!." teriak Zi Lan.


Dilihatnya Zi Lan terduduk lemas melihat itu semua.


Tubuh kecil Zi Yu yang tadinya berusaha agar tak tenggelam pada akhirnya kelelahan.


Wei Lian pun menceburkan dirinya kedalam kolam untuk menyelamatkan Zi Yu.


Byurrrr!!!


Ia sangatlah kedinginan, namun tetaplah ia harus membawa Zi Yu muncul ke permukaaan.


Di dalam air Wei Lian menyadari ada yang aneh dengan kolam cermin bulan ini.


Kolam ini mempunyai sebuah lorong didalamnya, ia sangatlah penasaran.


Namun menyelamatkan Zi Yu adalah prioritasnya.


Di raihnya tubuh Zi Yu, dengan sekuat tenaga Wei Lian berusaha naik.


Bwahhhh...


Akhirnya ia berhasil membawa Zi Yu muncul ke permukaan.


Ia pun mengangkat tubuh Zi Yu ke pinggiran kolam.


Setelah dirinya keluar dari dalam kolam, dilihatnya semua orang masih mondar-mandir tak jelas.


Sedangkan Zi Lan dan Meixi sedang menangis tersedu-sedu.


Wei Lian sendiri menangis, ia teringat dengan kematian Xian'er.


"Aku akan menyelamatkanmu Zi Yu, bertahanlah sebentar nak." ucap Wei Lian.


Wei Lian pun berusaha mengeluarkan air dari dalam tubuh Zi Yu meskipun tubuhnya itu sudah sangat lemas dan kedinginan.


"Dasar pembunuh!." teriak Meixi sembari berusaha menjauhkan Wei Lian dari anaknya.


"Jangan mengganguku! Aku harus menyelamatkannya!." teriak Wei Lian balik.


Wei Lian pun memberikan nafas buatan pada Zi Yu kecil.


Tak berapa lama Zi Yu kecil terbatuk-batu mengeluarkan air yang terminum olehnya.


Wei Lian pun memeluk tubuh Zi Yu kecil. Ia sangat sedih dan juga senang.


Zi Lan pun mengambil Zi Yu dari pelukan Wei Lian.


Tatapan kebencian sangatlah terlihat dari matanya.


Plakkkk!!!


Pandangan Wei Lian menjadi kabur, ia tak menyangka akan menerima sebuah tamparan.


Brukkk!!


Tubuhnya itu akhirnya jatuh juga.