The Antagonist

The Antagonist
chapter 11



Reysa pergi menemui Sirius di hall pesta. saat melihat dengan pria yang ia cari, Reysa segera menghampirinya.


"Sir, saya ingin bicara" kata Reysa pada Sirius yang sedang berbincang dengan beberapa pria lainnya.


pria 25 tahun itu mengangguk sebagai jawaban, ia pergi bersama dengan Reysa menuju tempat yang lebih sepi agar mereka bisa bicara.


"kenapa Rey?" tanya Sirius.


"gue harus pulang. bang Kenan udah ada di bawah" jawab Reysa memperlihatkan riwayat teleponnya.


"eh? udah harus pergi sekarang?" tanya Sirius terkejut. lalu ia melihat jam yang menunjukkan pukul 10 lebih itu.


"wah udah jam segini. yaudah deh, gue anter ke bawah gimana?" usul Sirius.


Reysa mengangguk, "oke, yuk ke bawah" jawab Reysa.


...×××...


Reysa dan Sirius berjalan berdampingan. banyak orang yang melihat mereka karena jujur saja, mereka berdua itu menarik perhatian. Reysa adalah seorang gadis yang cantik dan terlihat dewasa dengan gaun hitamnya, sementara Sirius adalah pria yang tampan dengan rambut blonde dan mata birunya. tapi Reysa dan Sirius tidak peduli dengan hal itu. setidaknya mereka tidak menganggu mereka berdua untuk sekarang.


"Rey, maksud perkataannya pak Edward tadi gimana?" tanya Sirius dengan nada yang hati hati.


Reysa berhenti berjalan seketika membuat Sirius berkeringat dingin. "eh i itu kalo nggak mau jawab ga usah dijawab gapapa kok" kata Sirius gelagapan.


Reysa tersenyum melihat wajah panik Sirius, "gue nggak papa Sir. dia papa gue, tapi itu dulu. sekarang gue nggak anggap dia sebagai ayah karena mama gue bunuh diri akibat papa selingkuh dan bawa anak haramnya ke rumah. sekarang gue keluar dari rumah dan tinggal bareng bang Kenan" jelas Reysa lembut.


Sirius terdiam membisu karena jawaban Reysa yang tidak pernah ia duga itu. apalagi wajah Reysa yang walau terlihat lembut tapi Sirius merasa kalau Reysa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. dan dari sanalah sebuah perasaan ingin melindungi gadis di depannya itu muncul di hati Sirius.


Sirius memeluk Reysa erat, "sori Rey, gue nggak tau kalo ada cerita kayak gitu. sori, gue udah bikin loe keinget hal nggak mengenakkan" kata Sirius seakan ingin menangis.


inilah kelemahan Sirius, walau dikatakan wajahnya sangat laki laki, tapi hatinya itu bagai hati perempuan yang mudah tersentuh.


Reysa tersenyum lembut dan membalas pelukan Sirius, "i'm oke Sir. don't worry about me" kata Reysa menenangkan Sirius.


setelah itu, mereka melepaskan pelukan mereka dan mereka berdua lanjut berjalan menuju ke bawah untuk menemui Kenan.


...×××...


Reysa berjalan bersama dengan member Xleez menuju ruang klub sastra. sesuai janji yang Reysa buat kemarin dengan Hendry, hari ini mereka akan bermain permainan yang kartu yang akan menjadi event setiap minggu di kelas X. seperti biasa saat Xleez lewat, semua orang akan berbisik dan memandang mereka dengan pandangan memuja.


Reysa dkk sampai di depan ruang klub sastra yang ada di gedung Ekstrakulikuler. kenapa memilih di gedung yang berbeda dari ruang kelas? karena sebenarnya gedung Ekstrakulikuler adalah gedung dimana tempat para siswa melakukan permainan. gedung Ekstrakulikuler adalah gedung hiburan sekolah. gedung ini bisa digunakan saat jam istirahat dan jam pulang sekolah. dan ruang klub sastra adalah tempat dimana permainan judi kartu berada. jadi klub sastra yang digunakan untuk acara ini.


kenapa kemarin menggunakan kelas X IPS 2? karena klub sastra sedang digunakan untuk hal lain sejak 3 Minggu lalu. mereka baru kosong hari ini sehingga acara dilaksanakan di ruangan klub sastra.


Reysa membuka pintu ruangan itu. dapat dilihat di dalam ruangan besar itu ada banyak anak anak yang ada di sini untuk melihat pertandingan antara King dan Queen. Reysa memasang wajah datarnya. tak memperdulikan orang lain seperti ia biasanya, Reysa berjalan melewati orang orang itu dan duduk di kursi yang sudah disediakan. di depannya sudah ada Hendry yang duduk tenang dengan senyum di wajahnya.


Alana menghela nafas, "sepertinya kau sangat yakin dengan ini, Raphael" kata Reysa datar.


Raphael mengangguk, "tentu. aku tidak akan kalah darimu karena aku masih mencintaimu" jawab Raphael dengan senyumnya.


"oke, kalau gitu kita akan mulai acara Minggu ini. kali ini adalah pertandingan antara King dan Queen. siapakah yang akan menang?!! silahkan dinikmati!!" seri sang pembawa acara.


pertandingan dimulai, dealer kali ini adalah Vincent Clinton, siswa kelas X IPA 1 yang merupakan dealer paling handal di permainan kartu poker ini.


setiap orang mendapatkan 50 chip dengan nilai 300 ribu rupiah sesuai dengan yang sudah disepakati. maaf ya, mereka cuma anak sekolahan, jadi wajar nilainya cuma sedikit.


setelah itu, dealer mengacak kartu dan membagikannya kepada pemain. masing masing pemain mendapatkan 5 kartu karena permainan kali ini adalah 5 card draw. kalau dulu sih Raphael dan Alana akan memilih bermain blackjack, tapi karena ini bukan kuasa mereka untuk memilih permainannya, maka apa boleh buat.


sesudah itu, Raphael dan Alana melihat kartu mereka. Alana mendapatkan Q sekop, As Diamond, K Diamond, 7 heart, 9 keriting.


sementara Raphael mendapatkan kartu Q diamond, J diamond, 8 heart, 9 heart, dan 10 heart.


mereka mulai membuang, mengambil dan menyusun kartu yang mereka punya agar menjadi kombinasi yang memungkinkan mereka untuk menang.


"kayaknya gue yang menang, Na" kata Raphael dengan senyumnya.


Reysa memasang wajah datar, "ini belum selesai Raph. jangan puas karena itu. dan loe lupa siapa yang loe lawan" kata Alana dingin.


"yah, sepertinya loe juga lupa siapa lawan loe Na" kata Raphael tersenyum.


Alana diam, ia masih ingat betul siapa orang yang ia lawan itu. Raja judi hiburan dunia, Las Vegas. tak ada yang tak tau dengan nama Don Oscamar itu. salah satu calon pewaris mafia besar, tuan muda dari keluarga yang berkecimpung di dunia politik untuk melindungi kejahatan mereka. Raphael Varvaera adalah sosok yang terlihat bersih, tapi pada kenyataannya dia adalah orang yang sangat kotor. jadi jangan heran kalau Alana berhati hati saat berhadapan dengan orang di depannya itu.


"sepertinya sudah waktunya, mari buka kartunya" kata Raphael masih tersenyum yakin.


Alana menghela nafas mencoba tenang, lantas ia mengangguk "iya" jawabnya singkat.


Alana maupun Raphael membuka kartunya, semua orang yang ada disana sangat tegang dibuatnya. siapa yang akan menang dalam pertandingan antara dua pemain kelas atas di sini.


"flush diamond" kata Alana kurang puas dengan kartunya.


disana Raphael juga nampak kecewa. "flush sekop" katanya diikuti helaan nafas berat.


"a aah kalau begini apa boleh buat ya. ayo akhiri dengan peraturan lama juga" kata Alana kecewa.


Raphael mengangguk, "oke, jadi apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Raphael. "jam sudah hampir selesai" lanjutnya.


"lain kali saja, dan aku masih ada kerjaan setelah ini. aku pergi" kata Alana beranjak dari duduknya.


"aku juga kalau begitu. kabari aku kalau kau siap sayang" kata Raphael menggoda.


Alana tertawa, "haha terserah saja" katanya berubah datar.


sementara itu, setelah kedua bintang hari ini pergi begitu saja. semuanya hening, dan yang memecah keheningan itu adalah... bel sekolah yang berbunyi.


mendengar bel berbunyi, semua orang mulai meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kelas masing masing.