The Antagonist

The Antagonist
BAB 30



Dipijatnya pundak Wei Lian yang amat kaku malam ini oleh Liuli.


Meskipun terlihat kesakitan, Wei Lian menahan rintihannya, ia benar-benar bertekad untuk menjadi lebih kuat.


Jian Mei sudah membayangkan akan betapa hebatnya ia nanti, ia tersenyum sendiri membayangkan ia dapat terbang nantinya.


"Nyonya, kenapa anda terdengar seperti tertawa ? Apa ada sesuatu yang luci ?." tanya Liuli yang mendengar kekehan kecil Wei Lian.


Wei Lian pun menggelengkan kepalanya, memanglah tak ada yang lucu, ia sangatlah serius membayangkannya.


"Nyonya.." panggil Liuli.


"Ada apa Liuli ? Apa kau lelah ? Kalau ya, maka berhentilah memijatku." ucap Wei Lian.


"Sebenarnya aku merasa Nyonya sangat aneh akhir-akhir ini." ucap Liuli berhati-hati.


Jian Mei pun menyadari mungkin saja Liuli curiga karena ia memang tak berperilaku seperti Wei Lian asli.


Kalau ia berperilaku seperti Wei Lian asli pastinya tak lama kepalanya itu sudah terpenggal karena menyakiti putra Lu Meixi.


"Lian'er." ucap seseorang dibalik pintu.


Mendengar suara itu tentulah ia tahu siapa orang itu, sudah pasti adalah Yuan Zi Lan, suami tercintanya.


Yuan Zi Lan pun membuka pintu kamar Wei Lian, ia melihat istrinya itu tengah dipijati oleh Liuli.


Ia berjalan mendekati istrinya itu dan duduk disampingnya.


"Pergilah Liuli, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Wei Lian." ucap Zi Lan.


"Baik Tuan, kalau begitu aku permisi." pamitnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Wei Lian tersenyum memandangi wajah suaminya itu, ia benar-benar ingin berbaikan dengan suaminya itu.


Wei Lian pun menggerakkan tangannya ke wajah Zi Lan, diusapnya dengan lembut pipinya itu.


"Kenapa tanganmu terasa sangat kasar Lian'er ?." tanya Zi Lan, ia pun menarik tangan Wei Lian dan melihat keadaan tangannya itu.


Ia mengusap tangan Wei Lian memang terasa sangat kasar, bahkan ia juga melihat tangan itu terluka, masih ada sisa-sisa darah yang tertinggal, mungkin ia tak membersihkannya dengan benar.


"Apa yang terjadi dengan tanganmu ? Bukankah kemarin masih baik-baik saja ?." tanya Zi Lan dengan penuh rasa curiga.


"Ahhh...ini aku terjatuh saat berjalan-jalan tadi." jawab Wei Lian dengan sedikit gugup.


Yuan Zi Lan sendiri tentunya tak percaya begitu saja, sekeras apa memang ia terjatuh sampai-sampai lukanya begitu parah.


"Terjatuh ? Tapi lukamu ini..." belum selesai Zi Lan berbicara, Wei Lian langsung memotongnya begitu saja.


"Aku terjatuh diatas batu-batu ditaman belakang, itulah kenapa lukaku seperti ini suamiku."


Zi Lan pun menghela nafas, memanglah Wei Lian ini sangat ceroboh sejak dulu. Seolah ia tak pernah belajar untuk lebih berhati-hati.


"Lain kali berhati-hatilah, aku sangat tak suka melihatmu terluka begini." ucap Zi Lan.


Mendengarnya membuat perasaan Wei Lian menjadi tak enak.


Jian Mei sendiri juga kebingungan mengapa ia seperti itu.


"Kau kenapa Lian'er ?." tanya Zi Lan yang melihat istrinya itu tengah melamun.


"Ahhh...aku tak apa-apa." jawabnya.


"Apa kau teringat masa lalu kita ?." tanya Zi Lan.


Wei Lian hanya mengangguk meskipun sebenarnya ia tak mengingatnya.


Yuan Zi Lan pun tersenyum, ia mengingat kembali masa-masa indahnya dulu bersama dengan Wei Lian.


Flashback On...


Ia bertemu dengan Wei Lian di pasar waktu itu, memang bukan tempat yang romantis. Namun jatuh cinta pada pandangan pertama tak memandang dimana tempatnya bukan ?.


Ia sangat terpana dengan kecantikan Wei Lian saat itu, sayangnya saat itu ia masih belum berani untuk mendekatinya.


Namun tiba-tiba Wei Lian dan Liuli menghilang dikerumunan pasar, Zi Lan berusaha mencarinya namun hasilnya nihil.


Akhirnya ia kembali ke tempat penjual bakpao tadi, dengan harapan gadis itu kembali.


Penjual itu menjadi sangat kesal karena Yuan Zi Lan terus saja mondar-mandir didepan tempat ia berjualan.


"Anak muda, kau membuat pelangganku tidak nyaman, pergilah sana, jangan mengganggu." ucap penjual itu.


"Maaf Tuan, aku sedang menunggu seseorang." jawab Zi Lan dan membuat penjual itu semakin geram.


"Kalau kau begitu pergilah ke tempat lain, jangan didepanku, kau tak lihat pelangganku kabur karena perbuatanmu ? Pedangmu itu menakuti mereka!." teriaknya.


Zi Lan pun akhirnya mendekat ke penjual bakpao itu, "Maafkan aku Tuan, hanya saja ini berhubungan denganmu."


"Berhubungan denganku ? Memangnya apa ? Kau jangan membohongiku anak muda." ucap penjual itu kaget.


Akhirnya Zi Lan pun memberanikan diri untuk bertanya dan berharap penjual itu mengetahui sesuatu.


"Tuan, apa kau tahu gadis cantik yang membeli bakpao mu tadi ?." tanya Zi Lan.


Penjual itu menghembuskan nafas dengan kasar "Hahh!!..."


"Gadis cantik mana ? Banyak sekali nona-nona muda yang membeli bakpao enakku ini, mana mungkin aku mengingat mereka semua." jawabnya dengan sangat ketus.


"Dia sangat-sangat cantik, matanya sangat lebar dan sangat memikat, dia memakai baju berwarna putih tadi, ahhh...ia juga ditemani oleh seorang gadis, sepertinya itu adalah pelayannya." jelas Zi Lan.


"Aku tak tahu anak muda, tapi diantara semua pelangganku yang paling cantik adalah Nona muda Xiao Wu." ucap penjual itu.


"Xiao Wu ?." gumam Zi Lan, ia pun mengukir sebuah senyuman dimulutnya itu.


"Apa Tuan tahu dia tinggal dimana ?." tanya Zi Lan dengan penuh semangat.


"Aku tak tahu anak muda, tapi setiap hari dia akan datang kemari untuk menikmati bakpao ku ini." jelas penjual itu.


Mendengarnya Zi Lan menjadi sangat tenang, ternyata ia punya banyak kesempatan untuk bertemu gadis bernama Xiao Wu itu.


"Baiklah, terima kasih Tuan, ini imbalan untukmu." ucap Zi Lan lalu memberikan beberapa koin untuk penjual itu.


Keesokan paginya Zi Lan sudah menunggu kedatangan Xiao Wu di kedai dekat penjual bakpao itu.


Namun sampai sore gadis itu tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali, bahkan saat penjual bakpao itu sudah mengemasi dagangannya gadis itu tetaplah tak datang.


Meskipun sedikit kecewa, Zi Lan tak kehilangan semangatnya untuk bertemu dengan Xiao Wu.


Satu hari...


Dua hari...


Tiga hari...


Sudah seminggu ia menunggu kemunculan Xiao Wu, namun gadis itu tetap tak terlihat.


"Aku tak boleh pergi, mungkin sebentar lagi ia akan datang." gumam Zi Lan.


Langit sudah mulai berwarna kuning kemerah-merahan dan membuat Zi Lan menyerah.


Mungkin dia sudah tak punya kesempatan untuk bertemu dengan Xiao Wu lagi.


"Huhhh...sebuah penyesalan besar tak mendekatinya waktu itu." gumam Zi Lan.


Zi Lan pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kedai.


Ia berjalan-jalan disekitar pasar untuk menghilangkan kesedihan dalam hatinya.


Matanya terbelalak melihat gadis yang ia tunggu tengah bermain dengan anak-anak kecil disalah satu gang.


"Sepertinya dewa berpihak kepadaku." ucap Zi Lan dengan senyum dibibirnya.