The Antagonist

The Antagonist
BAB 38



Setelah mengantar kembali Wei Lian dan juga Liuli, Xu Ye Han tak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi.


Apalagi ia sudah membawa mereka berdua pergi dari sekte Wei cukup lama.


"Tuan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih." ucap Liuli.


Ye Han pun hanya mengangguk tersenyum, "Liuli ingatlah yang dikatakan tabib tadi."


"Baik Tuan." jawab Liuli.


"Begitu Wei Lian sadar, katakan padanya kalau aku akan menemuinya lagi untuk memenuhi janjiku." ucap Ye Han lalu pergi meninggalkan sekte Wei.


Liuli sangatlah penasaran, janji apa yang dibuat oleh Xu Ye Han pada Wei Lian, sepertinya sangatlah serius.


Diselimutinya tubuh Wei Lian dengan kain tebal, ia juga menghidupkan dupa lagi.


"Nyonya, aku akan beristirahat disini, semoga kau segera bangun." ucap Liuli.


Disisi lain Jin Ling yang daritadi menahan rasa penasarannya pun bertanya pada Xu Ye Han tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, kenapa pak tua Chu berkata seperti itu ? Apa keadaan Nyonya Wei Lian sangat parah ?." tanya Jin Ling.


Xu Ye Han sendiri juga menunjukkan raut muka bingung, ia sendiri juga tak tahu, namun ia juga berpikiran sama seperti Jin Ling.


"Entahlah, itulah kenapa aku harus kembali kesana lagi." jawabnya.


Walaupun sudah terbiasa melihat Tuannya itu seperti ini namun bagi Jin Ling hari ini sangatlah keterlaluan.


"Tuan, anda harus beristirahat dulu, kalau sampai anda jatuh sakit pastinta pak tua dan juga yang lainnya akan memarahiku." ucap Jin Ling.


Xu Ye Han menggeleng, ia tak ingin menunda lagi walaupun hanya sebentar. Masalah ini sangatlah penting bagi dirinya.


"Kau kembalilah dulu ke penginapan, aku akan kembali secepatnya." titah Ye Han.


Jin Ling yang tak bisa menolak pun melaksanakan perintah Tuannya itu, setelah berpisah ditengah jalan, Ye Han semakin mempercepat perjalanannya menuju ke tempat tabib Chu berada.


......................


Tok..tok..tok


"Masuklah Tuan, aku tahu itu kau." sahut seseorang yang berada di dalam rumah.


Ye Han pun langsung masuk tanpa sungkan lagi, begitu ia duduk, lelaki tua itu langsung menyuguhkan sebuah arak kepadanya.


"Kau memanglah sangat tahu apa yany kusuka." ucap Ye Han seraya tersenyum.


"Huhh...aku tahu mengapa Tuan langsung kembali kemari, namun alangkah baiknya kalau anda beristirahat dulu Tuan, perhatikanlah kesehatan anda itu! Kalau anda sakit, aku akan menjadi sangat sibuk." ucap tabib itu.


"Maafkan aku tabib Chu, namun aku harus segera tahu." ucap Ye Han.


Tabib Chu pun menghembuskan nafasnya sangat panjang, tampak dapat dilihat ia menunjukkan raut muka marah dan juga sedih.


Ye Han sendiri yang tahu memincingkan alisnya yang tebal itu.


"Tuan, ada banyak sekali racun di tubuh Nyonya Wei Lian, seolah racun itu sudah menjadi darahnya." jelas tabib itu.


Brakk!!!


Xu Ye Han meletakkan arak diatas meja dengan sangat keras dan membuat tabib itu terkejut.


"Apa maksudmu pak tua ?." tanya Xu Ye Han.


"Ada sebuah racun yang bernama racun bunga biru dari daerah barat. Sebenarnya racun itu tak begitu berbahaya Tuan."


"Racun tetaplah racun Tuan, Wei Lian sampai seperti itu bagaimana mungkin kau berkata tak berbahaya ?." ucap Ye Han dengan menahan amarahnya.


Lagi-lagi helaan nafas tabib Chu terdengar lagi, ia sendiri juga tak dapat menahan amarahnya.


Dengan seksama Ye Han mendengarkan penjelasan dari tabib Chu.


"Tapi sepertinya racun ini sudah diberikan dari lama Tuan, racun ini menumpuk didalam tubuhnya, racun ini akan membuat berantakan energi didalam tubuhnya, membuatnya menjadi lemah dan sakit-sakitan. Dan lebih parahnya bisa membuat dia gila dan mati secara perlahan." ucap tabib itu.


"Kalau begitu bukankah seharusnya tabib dari sekte Wei tahu soal ini ?." tanya Ye Han.


"Tuan, racun ini tak sangat sulit untuk diketahui kalau bukan orang berpengalaman." ucap tabib itu dengan sedikit sombong.


Xu Ye Han pun terdiam, ia ingat Liuli tadi mengatakan kalau tabib pun sudah memeriksanya.


Tabib sekte Wei pastilah tabib berpengalaman dan hebat, sekte besar tak akan mempekerjakan seorang tabib bodoh.


Tabib Chu seolah paham dengan apa yang dipikirkan oleh Xu Ye Han.


"Tuan, pastilah orang dalam yang meracuni Nyonya Wei Lian, tabib itu pastinya juga terlibat dalam hal ini." ucap tabib Chu.


"Apa kau tahu cara menyembuhkannya pak tua ?." tanya Ye Han dengan raut muka penuh harap.


Lagi-lagi tabib Chu menghembuskan nafas panjangnya, tatapannya menjadi kosong.


Mengetahuinya hanya membuat Xu Ye Han kecewa.


"Tuan, racun itu sudah bersarang ditubuhnya, untuk menyembuhkannya kita akan membutuhkan waktu lama. Karena racun itu sendiri cukup sulit untuk disembuhkan oleh orang tak berpengalaman." jelas tabib Chu.


Xu Ye Han terlihat sangat kesal mendengarnya, kalau sulit mengapa tadi ia berkata racun ini rak berbahaya.


Memanglah pak tua ini selalu mengatakan apapun tak berbahaya dan mudah karena ia sangat percaya diri dengan kemampuannya.


"Kalau begitu aku harus meminta bantuan dari pak tua yang paling berpengalaman ini." ucap Ye Han.


"Aku membutuhkan batang dari bunga biru ini Tuan, itupun Nyonya Wei Lian harus meminumnya selam bertahun-tahun." ucapnya.


"Dimana aku bisa mendapatkannya ?." tanya Ye Han.


"Di daerah barat Tuan, pergilah ke tempat paling dingin, bunga ini banyak tumbuh disana." jawab tabib Chu.


"Berapa banyak yang kau butuhkan ?." tanya Ye Han.


Pak Tua Chu tertawa mendengarnya, setelah sekian lama baru inilah dia melihat Xu Ye Han bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu.


"Kau bersemangat seperti ini pada waktu berguru pada Wei Meng Fan, dan sekarang kau bersemangat karena putrinya." ucap tabib Chu.


Tabib Chu pun terlihat memikirkan sesuatu, Xu Ye Han tak berani mengganggunya karena pastilah ini sangat penting.


"Bawakan aku 365 batang Tuan, itu hanya cukup untuk beberapa bulan saja." ucap tabib itu.


Xu Ye Han membelalakan matanya, bukankah itu bunga yang sangat banyak ?.


Ia saja tak pernah memberikan setangkai bunga untuk seorang wanita, namun kali ini dia harus membawa sebanyak itu.


Namun ia tetaplah harus melakukannya demi menyelamatkan Wei Lian.


"Baiklah, waktu aku pergi nanti, aku akan meminta Xuan Yi dan Ah Ran bergiliran mengunjungimu." ucap Ye Han.


"Baik Tuan, terima kasih atas perhatianmu pada orang tua ini." ucap tabib itu.


Setelah itu Ye Han pun menikmati arak bersama dengan tabib Chu, malam yang penuh kejutan ini sangatlah pantas untuk dinikmati dengan arak yang sangat manis.


"Aku akan pergi dalam beberapa hari lagi, masih ada janji yang harus kupenuhi pada Wei Lian." ucap Ye Han.


"Untuk sementara kau bisa tenang Tuan, aku sudah memberikan obat dan juga sedikit penawar pada pelayan itu, namun apa pelayan itu benar-benar bisa dipercaya ?." tanya tabib yang khawatir.


"Dia bisa dipercaya tabib Chu." jawabnya.