The Antagonist

The Antagonist
BAB 39



Wei Lian yang sudah membuka mata pun tengah diperiksa keadaannya oleh tabib sekte Wei.


"Keadaan Nyonya baik-baik saja." ucap tabib itu.


Liuli langsung menunjukkan raut wajah bahagia, akhirnya Wei Lian membuka mata setelah membuatnya khawatir seharian.


"Sudah tahu lemah malah berlatih bela diri diam-diam." celetuk Meixi.


Yuan Zi Lan pun terkejut mendengarnya, mengapa Wei Lian tetap berlatih padahal dia sudah melarangnya.


"Apa benar seperti itu Lian'er ?." tanya Zi Lan.


"Tidak seperti itu Tuan, Nyonya pastilah kelelahan karena kemarin berkunjung ke kuil untuk berdoa." jawab Liuli.


Meixi pun berdecak kesal, selalu saja Liuli berusaha melindungi Wei Lian.


"Tak usah melindunginya terus-menerus Liuli, lagipula yang ditanya adalah Wei Lian bukan dirimu." ucap Meixi.


"Yang dikatakan Liuli benar suamiku, memang kemarin aku berjalan kaki ke kuil." jawab Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun tampak bingung, saat kepergian Wei Lian ke kuil, ia mengutus pengawal untuk mengantar dan juga mengawal Wei Lian dalam perjalanan.


"Bukankah aku sudah menyiapkan kereta kuda Lian'er ? Apa kau sedang membohongongiku ?." tanya Zi Lan penuh curiga.


Semua memperhatikan Wei Lian yang menggelengkan kepalanya, mereka sendiri sudah sangat penasaran jawaban apa yang akan dilontarkan dari mulut Wei Lian.


"Aku tak berbohong, memanglah aku berjalan kaki suamiku, aku melakukannya untuk menunjukkan ketulusanku pada dewa." jawab Wei Lian dengan penuh percaya diri.


Ia tak ingin Zi Lan melihat keragu-raguan dalam dirinya.


"Dasar pembohong." timpal Meixi.


"Terserah saja kau percaya atau tidak Meixi." jawab Wei Lian.


Uhukk...uhukk


Mendengar Nyonya nya itu batuk, dengan segera Liuli mengambilkan segelas air minum untuk diberikan pada Wei Lian.


"Sudah, kalian tenanglah." ucap Zi Lan.


"Jangan mengajak Wei Lian bertengkar Meixi, dia baru saja pulih." ucap Zi Lan pada istri keduanya itu.


"Cihhhh menjengkelkan." geruru Meixi.


Zi Lan pun berusaha membujuk Meixi yang kesal dihadapan Wei Lian.


Tentunya hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Meixi untuk membuat Wei Lian semakin cemburu.


"Baiklah-baiklah, maafkan aku sudah membuat keributan di pagi hari suamiku." ucap Meixi sambil mengelus pelan wajah Zi Lan.


Ia sendiri menyadari kalau Wei Lian memperhatikan perbuatannya.


Didekatkannya lah wajahnya itu ke arah wajah Yuan Zi Lan. Hingga menyisihkan sedikit jarak diantara bibirnya dan juga bibir Zi Lan.


"Kalian semua keluarlah, aku ingin beristirahat dengan tenang." ucap Wei Lian.


Lu Meixi pun tersenyum, ia menarik kembali wajahnya dan langsung membalikkan badannya untuk menghadap Wei Lian.


"Baiklah, suamiku pergilah dulu bersama tabib, aku akan membantu Liuli menyeduh obat sebentar." ucap Meixi.


Yuan Zi Lan pun menganggukkan kepalanya, "Terima kasih atas sikap baikmu."


"Lian'er istirahatlah sebentar lagi, saat keadaanmu membaik aku akan datang kembali." pamit Zi Lan lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Wei Lian.


Dilihatnya Meixi yang terkekeh kecil, melihat tingkah kurang ajarnya itu ingin sekali ia menampar wajah itu.


"Pergilah, Liuli bisa menyeduh obatku sendirian." ucap Wei Lian.


"Kkkkk...memangnya aku sudi membantunya ? Apa kau tak tahu kalau aku hanya beralasan saja pada Zi Lan ? Dasar bodoh!." ejek Meixi.


"Mengapa hanya terdiam ? Apa kau malu Wei Lian ? Ahhh....kau pasti tak sabar untuk menangis bukan karena melihat betapa mesranya aku dengan Zi Lan."


"Cemburu ? Untuk apa aku cemburu padamu ? Sejak awal Zi Lan adalah milikku, dan kau hanyalah seseorang yang berusaha mencurinya." jawab Wei Lian.


Meixi pun semakin tertawa mendengar ucapan Wei Lian.


"Jangan berkhayal terlalu tinggi Wei Lian, kalau kau jatuh itu sangat menyakitkan." ucap Meixi.


Lalu wanita itu berjalan pergi, saat tiba didepan pintu, ia membalikkan badannya dan mengatakan sesuatu.


"Kau tak akan bisa menyembunyikan kebohonganmu itu Wei Lian, sebentar lagi Zi Lan akan mengetahuinya." ucapnya lalu pergi.


Liuli pun sangat kesal mendengarnya, wanita itu selalu saja mengancam Nyonyanya yang berharga.


"Ingin sekali aku merobek mulut wanita itu!." gerutu Liuli.


"Berhati-hatilah Liuli, aku takut dia mendengarnya dan kau dihukum." ucap Wei Lian.


Dipandanginya wajah Wei Lian yang pucat itu.


"Memanglah Nyonyaku ini yang terbaik, wanita sepertinya memang tak pantas dibandingkan dengan anda." ucap Liuli.


Wei Lian hanya tersenyum mendengarnya, tubuhnya kini terasa sangat lemah.


Ia sendiri masih mengingat apa yang ia impikan saat tidur tadi. Hubungan ibu dan anak yang mengharukan.


Liuli pun mengeluarkan sebuah kantong putih dari bawah ranjang Wei Lian.


Wei Lian tentunya merasa heran, sejak kapan Liuli menjadi sejorok ini. Dikeluarkan sebuah pil dari dalam kantong itu.


"Nyonya, minumlah obat ini dengan segera." ucapnya.


"Apa ini obat baru ? Aku tak pernah melihat sebelumnya, juga kenapa kau menyimpannya dibawah ranjang ku Liuli ?." tanya Wei Lian yang penasaran pada pelayan setianya itu.


Di dekatkannya jarak antara ia dan Wei Lian, ia pun berbisik-bisik dengan Nyonyanya itu.


"Nyonya, ini adalah obat yang kuterima dari tabib yang dikenalkan Tuan Muda Xu Ye Han." ucap Liuli.


"Xu Ye Han ?."


"Apa yang terjadi sebenarnya ? Ceritakan semuanya padaku Liuli." titah Wei Lian.


Dengan suara yang teramat pelan, Liuli pun menceritakan apa yang terjadi saat Wei Lian tak sadarkan diri.


"Memanglah Xu Ye Han itu sangat misterius." gumam Wei Lian.


"Nyonya, demi keselamatan anda, kumohon jangan memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk Tuan Zi Lan. Berjanjilah padaku Nyonya, aku tak ingin kehilangan anda." mohon Liuli dengan sangat.


"Huhhh...entah sudah berapa rahasia yang harus kusimpan karena Xu Ye Han." ucap Wei Lian.


"Nyonya..."


"Aku berjanji Liuli, kau jangan khawatir lagi." jawabnya agar pelayannya itu berhenti merengek.


Di minumnya obat itu dengan perlahan, air matanya langsung menetes saat merasakan pil itu hancur didalam mulutnya.


"Nyonya, anda kenapa ?." tanya Liuli yang khawatir melihat Wei Lian yang menangis.


"Rasanya benar-benar pahit, obat apa yang diberikan tabib itu padaku ? Apa dia berniat membunuhku dengan rasa pahit ini." protesnya.


Liuli pun terkekeh kecil mendengarnya, Wei Lian memanglah sering mengeluh soal rasa pahit dari obat yang diberikan tabib sekte Wei.


Namun baru ini ia melihat Wei Lian sampai menangis karena tak sanggup dengan rasanya.


"Makanlah manisan ini Nyonya." ucap Liuli sambil menyuapi Wei Lian dengan manisan yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Apa tak ada barang yang dititipkan Xu Ye Han padamu Liuli ?." tanya Wei Lian.


Liuli pun menggelemgkan kepalanya, "Tidak Nyonya, tapi dia meninggalkan pesan kalau dia akan segera kembali untuk memenuhi janjinya."


"Kapan dia akan menemuiku ?." tanya Wei Lian dengan semangat dan membuat Liuli curiga.