
Ditepuknya berkali-kali pundak Jin Ling dengan sangat keras oleh Xu Ye Han.
Ah Ran dan Xuan Yi juga terlihat melongo melihat hasil lukisan Jin Ling.
Ya, karena sudah tak tahan melihat Xu Ye Han melukis, Jin Ling mengusir paksa Tuannya itu, dan dalam waktu singkat ia membuat lukisan amat sangat indah.
"Akhirnya kau berguna juga Jin Ling, aku akan memberimu bonus nanti." ucap Ye Han.
"Sejak kapan kau bisa melukis kak ?." tanya Xuan Yi.
"Sepertinya sejak dalam kandungan ibuku." jawab Jin Ling.
"Cihh...setiap hari kau pasti menyombong." ucap Xuan Yi dengan kesal karena mendengar jawaban itu.
"Tuan, sebenarnya siapa lukisan ini ? Ini bukan anda kan ? Kalau dilihat-lihat wajahnya cukup berbeda dengan anda." tanya Xuan Yi pada Tuannya itu.
"Bisa dibilang anak ini adalah malaikat." jawab Ye Han lalu pergi meninggalkan kamarnya.
Ah Ran sangat bingung mendengarnya.
"Siapa anak dalam lukisan ini ?." tanya Ah Ran pada Jin Ling.
Ia sangatlah yakin kalau Jin Ling pasti mengetahuinya karena selama ini Jin Ling lah yang selalu berada disamping Xu Ye Han.
"Bukankah sudah dijawab oleh Tuan kalau dia ini malaikat." jawab Jin Ling.
"Katakan saja yang sebenarnya Kak." timpal Xuan Yi.
"Dia memanglah malaikat bagi ibunya." jawab Jin Ling dengan tegas lalu pergi mengikuti Xu Ye Han.
Ah Ran dan Xuan Yi sangat kesal karena tak mendapatkan jawaban soal lukisan itu.
......................
Hari sudah malam, namun Wei Lian masih belum membuka matanya sama sekali.
Bahkan Zi Lan juga tak kembali untuk melihat keadaannya.
Liuli sendiri masih setia berada disisi Wei Lian, dengan telaten ia menyeka badan Wei Lian dengan kain yang sudah ia rendam di air hangat.
"Cepatlah bangun Nyonya, dengan begitu wajah cantik ini tak akan pucat lagi." gumam Liuli.
Xu Ye Han terus menunggu kemunculan Wei Lian di kolam cermin bulan.
Namun wanita itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Padahal dari luar ia melihat kalau cahaya lilin dari kamarnya belum mati.
"Apa yang dia lakukan didalam ?." gumam Xu Ye Han.
Sudah 2 jam ia dan Jin Ling berada diatas atap, namun hasilnya tetap saja seperti tadi.
"Kurasa Nyonya Wei Lian sangat sibuk Tuan." ucap Jin Ling.
"Kau tunggulah disini, aku akan mendekat ke kamarnya." ucap Ye Han.
"Baiklah Tuan, berhati-hatilah, aku khawatir ada Yuan Zi Lan didalam." jawab Jin Ling.
"Kau tenang saja."
Ye Han pun terbang mendekat ke arah kamar Wei Lian, awalnya ia tak mendengar apa-apa dari dalam kamar Wei Lian.
"Kamarnya sangat sunyi, kemana ia pergi ?." ucap Ye Han.
Namun tiba-tiba saja ia mendengar teriakan Liuli dari dalam kamar.
"Nyonya!!."
Dengan segera Ye Han langsung masuk kedalam kamar Wei Lian dan membuat kaget Liuli.
"Tuan Muda Xu Ye Han, kenapa anda berada disini ? Bagaimana kalau ada yang melihat ?." tanya Liuli.
Dengan segera Xu Ye Han menutup pintu kamar saat menyadari tak ada siapapun disitu selain Liuli dan juga Wei Lian.
"Aku hanya mengigau saja Tuan. Seperti yang anda lihat Nyonyaku sama sekali tak terkejut, dia tak sadarkan diri dari pagi." jelas Liuli.
"Apa dia diracun lagi oleh seseorang ?." tanya Ye Han.
"Tidak Tuan, tabib mengatakan kalau Nyonya hanya kelelahan tapi entah mengapa sampai sekarang Nyonya belum bangun." jawab Liuli.
"Kalau hanya kelelahan tak mungkin dia seperti ini, aku akan membawanya keluar." ucap Ye Han lalu langsung bergegas mendekati ranjang Wei Lian dan menggendong wanita itu.
"Apa yang Tuan lakukan ? Cepat letakkan Nyonya, kalau anda membawanya pergi, apa yang harus kukatan pada Tuan Zi Lan nanti ?." cegah Liuli.
"Aku akan membawanya ke tabib yang ku kenal, tak butuh waktu lama untuk sampai kesana dengan kemampuanku Liuli, aku juga akan membawanya kembali sesegera mungkin." jawab Ye Han.
"T-tapi Tuan..."
"Sudahlah, aku takut Wei Lian terluka parah namun tabibmu itu tak menyadarinya." jelas Ye Han.
"Kalau begitu bawa aku juga Tuan, aku ingin menemani Nyonya." pinta Liuli.
Xu Ye Han pun mengangguk, ia mengatakan kalau Jin Ling juga ikut bersamanya dan ia menunggu diluar kamar.
"Baiklah, kau akan bersama dengan Jin Ling." ucap Ye Han.
Mereka berempat pun langsung bergegas pergi meninggalkan sekte Wei.
Namun Ye Han memerintahkan agar mata Liuli ditutup, entah apa alasannya.
"Kau akan membawaku ke tempat dimana Tuanmu itu membawa Nyonya kan, Jin Ling ?." tanya Liuli yang takut mereka membohonginya.
"Tentu saja, kau jangan khawatir Liuli." jawab Jin Ling.
......................
"Bagaimana keadaan Nyonyaku, Tuan tabib ?." tanya Liuli seusai tabib itu memeriksa keadaan Wei Lian.
Mata tabib itu menatap Xu Ye Han, namun tiba-tiba saja ia tersenyum sembari menatap Liuli.
"Aku sudah mengobatinya, besok dia pasti sudah siuman. Aku akan membuatkan obat untuk Nyonya mu ini." ucap Tabib.
Liuli benar-benar lagi saat mendengarnya, tak lupa ia berterima kasih pada tabib itu.
"Terima kasih tabib." ucap Liuli.
"Kau harus memberi obat Nyonyamu dengan takaran yang pas dan tepat waktu, dan juga pastikan tak ada yang tahu soal obat ini." ucap tabib itu.
Liuli pun curiga saat mendengar peringatan tabib itu, mengapa harus begitu ?
Bukankah akan bagus kalau orang lain mengetahui ada seorang tabib hebat.
"Jangan curiga Nyonya, itu adalah aturan yang kuberlakukan untuk semua pasienku. Kalau saja kau bukan teman Xu Ye Han, tentunya aku tak akan mengobati wanita ini." ucap tabib itu sembari menunjuk Wei Lian.
Liuli pun hanya bisa mengangguk, ia sudah cukup bersyukur karena Nyonyanya itu akan sadar besok.
Mereka bertiga pun menunggu tabib yang pergi menyiapkan obat.
"Tuan Ye Han dan Tuan Jin Ling terima kasih sudah membantu Nyonya, aku pasti akan membayar jasa kalian berdua nanti." ucap Liuli.
Ye Han pun tersenyum mendengarnya, "Tak perlu sungkan Liuli, kau menjaga Wei Lian dengan baik saja itu sudah cukup bagiku."
"Tak bisa begitu Tuan, kalian telah menolong Nyonyaku, tentu saja aku berhutang pada kalian." jawab Liuli.
Liuli memanglah sangat setia pada Wei Lian, itu semua karena Wei Lian dan mendiang Nyonya Chang Xi lah yang telah menolongnya dulu.
Tanpa pertolongan mereka berdua pastinya ia sudah mati sejak dulu.
Tak butuh waktu lama tabib itu pun kembali, ia memberikan obat-obat yang ia bawa kepada Liuli.
Lagi-lagi ia memperingatkan Liuli agar tak memberitahu siapapun.
"Kalau kau memberitahu pada orang lain, pastilah nyawa Nyonya mu ini berada dalam bahaya dan siapapun tak akan ada yang bisa menyelamatkannya." tegas tabib itu.