
Dengan keadaan yang masih lemah, Wei Lian menunggu kedatangan Xu Ye Han di tempat biasa lelaki itu muncul.
Ya, di kolam cermin bulan ia menunggu.
Sembari menunggu kedatangan pria itu, Wei Lian teringat kembali tentang asal mula dibuatnya tempat ini.
Di dalam novel yang ia baca, kediaman ini sebenarnya dibuat untuk ibunya yakni Nyonya Chang Xi.
Wei Meng Fan memanglah sangat mencintai Chang Xi, ia akan melakukan apapun untuk membuat istrinya itu bahagia.
Istrinya itu sangatlah suka memandang langit malam dengan yang dipenuhi bulan dan bintang. Sayangnya istrinya itu terkadang mengalami sakit leher karena banyak mendongak melihat langit.
Itulah alasan kenapa dibuatnya kediaman dengan sebuah kolam yang amat cantik. Wei Chang Xi pun sangat menyukai kediaman ini.
Setelah kematiannya, Wei Lian mengambil alih tempat ini karena disinilah kenangan-kenangan indah tercipta antara ia dan ibunya.
Bahkan setelah menikah kembali, Wei Meng Fan menolak permintaan Yan Zi yang sangat ingin menempati kediaman Manyue ini.
"Dia sangat mencintai mendiang istrinya, pastilah ia juga mencintai putrinya, tapi mengapa mempunyai banyak kesalahpahaman ?." gumam Wei Lian.
"Lian'er." panggil seseorang.
Wei Lian pun langsung menoleh ke sumber suara itu, ia tersenyum sangat lebar saat mengetahui orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Tuan Muda Xu Ye Han." ucapnya dengan penuh semangat.
"Pelankan suaramu kalau tak ingin ketahuan aku berada disini." ucap Ye Han.
Ia sangat senang melihat Wei Lian sudah sadar, bahkan sekarang wanita itu tersenyum lebar dihadapannya.
Muncul sebuah ide nakal dalam pikirannya, pastilah wanita ini akan menjadi sangat kesal padanya.
"Apa kau merindukanku sampai-sampai menyambutku dengan senyum selebar itu ?." tanya Ye Han dengan tersenyum nakal.
"Cihhh...bukannya aku merindukanmu, hanya saja aku menantikan lukisan yang kau janjikan." ucap Wei Lian.
Ye Han pun mengeluarkan sebuah gulungan yang ia bawa dan langsung menyerahkannya pada Wei Lian.
Wei Lian sendiri langsung membukanya, ia benar-benar terpukau dengan hasilnya.
"Lukisan ini lebih bagus dari yang kubuat, kau memang sangat jago Tuan Muda Xu Ye Han." puji Wei Lian yang tengah terkagum-kagum.
"Y-ya...aku memanglah sangat hebat, karena itu bukan aku dipanggil dewa ?." gurau Ye Han.
Wei Lian pun terkekeh pelan mendengarnya, pria ini memanglah sadar akan kemampuannya.
"Tuan Ye Han sekali lagi aku berterima kasih padamu, Liuli sudah menceritakan semuanya padaku." ucap Wei Lian sembari menunduk kepada Xu Ye Han.
Mereka berdua pun duduk bersama sembari melihat betapa indahnya langit dari pantulan kolam.
"Lian'er 2 hari lagi aku akan pergi untuk suatu urusan." ucap Ye Han.
"Apa kau akan kembali ke sekte Xu ?." tanya Wei Lian.
Xu Ye Han pun menggeleng, namun ia tetap tak memberitahu kemana ia akan pergi.
"Aku akan kembali secepatnya, selama aku pergi bisakah kau tak bersinggungan dengan hal yang membahayakan nyawamu ?." tanya Ye Han dengan raut muka khawatir.
Wei Lian sendiri bingung, memangnya kenapa ? Toh! Dirinya juga tak berniat melakukannya, tubuhnya sangat lemah, kemampuan bela dirinya juga masih buruk.
"Aku hanya akan berlatih bela diri." jawab Wei Lian.
"Baguslah kalau begitu, berlatihlah dengan buku ini, bela diri ini sangat sesuai denganmu." ucap Ye Han sembari memberikan sebuah buku pada Wei Lian.
Lagi-lagi Wei Lian harus berhutang pada lelaki ini.
"Lian'er, aku pernah berguru pada ayahmu, namun aku tak menguasai semua ajarannya. Namun aku yakin akan sangat bagus untukmu berlatih dengan buku pedoman yang ia buat." ucap Ye Han.
Wei Lian pun menghembuskan nafas panjangnya.
"Huhh....sudah lama aku mencari buku tapak darah namun aku tak menemukan keberadaan buku itu." ucap Wei Lian.
"Tapak darah ? Aku tak menyuruhmu untuk berlatih jurus itu Lian'er, sangat berbahaya jika kau berlatih dengan keadaanmu sekarang." jelas Ye Han.
"Bukankah jurus ayah hanya itu ?." tanya Wei Lian dengan polosnya.
"Mana mungkin mendiang guruku itu hanya mempunyai 1 jurus, jurus tapak darah adalah salah satu jurusnya yang terkenal. Mengapa kau tak tahu apa-apa Lian'er ?." tanya Ye Han curiga.
Wei Lian pun berusaha mengalihkan pembicaraan agar Xu Ye Han tak semakin curiga pada dirinya.
"Sayangnya aku tak tahu dimana ayahku menyimpan buku-buku itu, tapi aku akan mencarinya lagi bersama Liuli." ucap Wei Lian.
"Baiklah, saat kau sudah mendapatkan buku itu, simpanlah dengan baik, itu adalah buku peninggalan ayahmu, hanya kau yang boleh memegangnya Wei Lian." tegas Ye Han.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama, Ye Han pun berpamitan untuk pergi.
"Aku harus pergi dulu, jangan lupakan janjimu itu, dan ingat saat kau membutuhkan sesuatu datanglah ke tempat yang ku beritahukan padamu." ucap Ye Han.
"Aku mengingatnya Tuan Muda Xu, sekali lagi aku sangat berterima kasih atas semua bantuanmu, berhati-hatilah." ucap Wei Lian.
Kini lelaki itu sudah terbang meninggalkan kediamannya.
Dipegangnya dengan erat buku dan juga lukisan yang diberikan oleh Xu Ye Han.
"Terima kasih Xu Ye Han." gumamnya.
......................
Jin Ling sendiri tengah berada di tempat tabib Chu berada.
Xu Ye Han pun juga baru saja tiba, Jin Ling pun tahu kalau Tuannya itu pasti pergi ke sekte Wei untuk menemui Wei Lian.
"Tuan, apa kau benar-benar pergi untuk mencari bunga itu ?." tanya Jin Ling penasaran.
Xu Ye Han langsung menatap tajam ke arah tabib Chu. Saat menatapnya ia hanya mendapat balasan sebuah senyuman memelas.
"Ya, aku memang akan pergi mencarinya, kalau tak begitu Wei Lian pasti bisa mati." jawab Ye Han.
Jin Ling pun berusaha mencegah rencana kepergian Tuannya itu.
"Tuan, semakin lama anda pergi pasti guru dan Tuan Si Ming akan sangat marah." ucap Jin Ling.
"Lagipula aku masih tak mengerti alasan anda melakukan banyak hal untuk Nyonya Wei Lian ? Daerah itu sangat terkenal dengan penjahat dan juga hewan-hewan buas." lanjutnya.
"Huhh...." hela Ye Han.
Ditepuknya pelan bahu Jin Ling, ia paham kalau Jin Ling pastilah khawatir dengan kepergiannya.
"Jin Ling, aku berhutang nyawa pada mendiang Tuan Wei Meng Fan, tentunya aku harus membalas hutang itu pada putrinya. Aku bukanlah orang yang tak tahu terima kasih Jin Ling." jelas Ye Han.
"T-tapi Tuan..."
"Untuk urusan ayah dan kakakku, aku sudah meminta bantuan seseorang untuk mengurusnya, jadi kau tenang saja." ucap Ye Han.
Jin Ling pun terdiam, ia tak akan bisa menghalangi kepergian Tuannya itu.
"Kalau begitu ijinkanlah aku ikut bersama Tuan, dengan begitu aku bisa melindungi anda ketika dalam bahaya." pinta Jin Ling.
Mau tak mau Ye Han pun mengiyakan, lagipula pasti dirinya juga membutuhkan bantuan Jin Ling untuk membawa bunga-bunga itu.