
Alana dan Raphael kini duduk berhadapan satu sama lain di sebuah ruangan yang didominasi oleh warna coklat mewah itu. di hadapan mereka terdapat meja berisi beberapa camilan dan sepoci teh yang sedang disiapkan oleh Barton, sang kepala pelayan.
"silahkan dinikmati teh anda nona, tuan" kata Barton pada Alana dan Raphael sembari meletakkan secangkir teh di depan masing masing.
"terima kasih Barton" kata Raphael pada Barton yang merupakan orang yang merawat Hendry asli sejak kecil.
"terima kasih tuan Barton" kata Alana ramah.
"sudah tugas saya tuan muda, nona" jawab Barton dan beranjak pergi dari ruangan itu. "saya permisi" katanya pergi.
Alana dan Raphael sama sama diam sepeninggalan Barton. Alana meminum teh yang ada di cangkirnya sedikit. setelah itu ia menatap datar Raphael yang masih diam menyeruput teh miliknya.
"jadi, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Alana sedikit formal.
Raphael meletakkan cangkir nya. "aku menemukannya, pemain ketiga" kata Raphael.
"pemain ketiga?" beo Alana
Raphael mengangguk, "pemain ketiga yang dibicarakan oleh-nya" kata Raphael.
Alana tersenyum, "hoo lalu, siapa dia? kau sudah membawanya?" tanya Alana
Raphael menggeleng, "belum" jawab Raphael singkat.
Alana mengernyit heran, "kenapa? apa dia orang yang berbahaya?" tanya Alana aneh.
Raphael mengangguk, "benar. aku belum tau identitasnya di dunia nyata. tapi, ku pikir dia orang yang berbahaya" jelas Raphael.
"apa yang membuatmu berpikir dia berbahaya? dia melakukan sesuatu?" tanya Alana serius.
Raphael mengangguk, lalu berdiri dan mengambil kertas yang ada di meja lain di ruangan itu. setelah itu menyerahkannya pada Alana.
"baca itu" katanya.
Alana mengangguk sembari mengambil kertas yang diberikan Raphael padanya. Alana mengernyit saat membaca isi kertas laporan itu. sungguh ia tak menduganya sama sekali.
Alana meletakkan kertas itu di atas meja di depannya. ia menghela nafas lelah.
"apa apaan itu? 3 kali pembunuhan. 7 kali pencurian. 15 kali perkelahian yang menyebabkan luka fatal. 8 kali membantu penyeludupan obat obatan. apa dia pekerja dunia gelap atau apa?" kata Alana tanpa niatan bertanya itu.
gadis itu memijit pelipisnya merasa kalau kepalanya sangat berat. "berapa lama dia disana?" tanya Alana
"dia datang lebih dulu dari kita. ku pikir sekitar 1 tahun. tapi sepertinya dia tidak bertemu dengan 'orang itu' sehingga dia tidak merasakan tentang kita" jelas Raphael mengambil dokumen yang diletakkan Alana di atas meja.
"baru satu tahun, tapi dia sudah melakukan hal hal macam ini. apa 'orang itu' gila meminta kita bekerjasama dengan bajingan macam ini?" tanya Alana kesal.
Alana makin banyak pikiran. ia merasa benar benar lelah dengan hidupnya di dunia ini. hidupnya di dunia nyata lebih menyenangkan dari pada disini. andai saja ia bisa kembali ke dunia nyata tanpa ada kemungkinan kehilangan nyawa, Alana pasti sudah pergi dari dunia ini secepatnya.
Raphael terkekeh "sabar lan. kita bisa pulang kalo udah ketemu sama mereka semua. GM sialan emang. tapi bukannya game ini bakal seru? kita hidup sebagai orang lain. terus kita harus jadi pemenang permainan sama para main character. dan kalo kita mati di dunia ini artinya kita juga mati di dunia nyata. bisa gila kan kita. batas waktunya 3 tahun. haha rasanya seru juga kan" ujar Raphael
Alana menghela nafas. "bukannya seru, bisa gila gue tau nggak" kata Alana.
"btw, pemain ketiga ini harusnya pemain terakhir kan? tapi kok dia dateng lebih dulu kesini. bukannya harusnya dia yang dateng terakhir ya?" tanya Alana aneh
Raphael berhenti tertawa dan duduk kembali. ia baru menyadari hal itu. ia mulai berpikir.
"hmm, apa bug ya? atau GM salah kasih informasi?" bingung Raphael.
"Ryuzeen Kirigaya... dia datang sebelum kita. hmm apa gue yang salah ya?" tanya Alana pada diri sendiri.
Raphael menggeleng, "nggak, bukan loe yang salah. gue udah pasti sama ini orang kalo dia juga orang dunia kita" jelas Raphael.
"hmm.. kalo gitu apa dong. nggak mungkin info dari GM salah. jadi yang salah itu ap–"
belum selesai Alana dengan kalimatnya, jantung Alana berdegup kencang, rasanya sakit. Alana mengalami sesak nafas, pandangannya tak fokus. Alana memegang dadanya. sungguh itu terasa menyakitkan untuk Alana.
Raphael yang ada disana panik, apa yang terjadi dengan Alana? apa mungkin ada pemain lain yang masuk ke dunia ini?
"Lan!! tahan oke, gue bawa loe ke kasur sekarang" kata Raphael panik.
Raphael segera menggendong Alana ala bridal style dan membawanya ke kamar tidur terdekat. di sana, Raphael membaringkan Alana yang masih kelihatan sesak nafas itu dengan lembut.
tak berapa lama, Alana mulai tenang. nafasnya mulai teratur dan dadanya sudah tak terlalu sakit. Raphael yang melihat itu menghela nafas lega.
Alana membuka matanya pelan, "air" katanya lirih.
Raphael segera membawakan air putih pada Alana. membantunya minum perlahan.
"Lan, loe oke?" tanya Raphael khawatir.
Alana mengangguk, "udah lumayan. huh padahal udah 2 kali gue kek gini. tapi belum juga gue tahan ama reaksinya" kata Alana kesal.
"loe lihat sesuatu?" tanya Raphael heran. apa yang Alana lihat? batinnya bingung.
"Ryuzeen Kirigaya bukan pemain ketiga. pemain ketiga, baru saja tiba" kata Alana yakin.
Raphael kaget, "hah? terus kalo dia bukan pemain ketiga, terus dia siapa?" tanya Raphael
"dia pemain sebelumnya. kau tau kan kalau ada beberapa orang yang juga mengalami hal seperti kita ini? dan dia adalah satu satunya yang selamat" jelas Alana.
"begitu ya.. lalu, siapa pemain ketiga?" tanya Raphael ingin tau.
"Isabel Na. seorang gadis. sekarang dia tinggal di Korea Selatan" kata Alana.
Raphael mengangguk, "aku mengerti. aku akan membawanya kemari segera" ujar Raphael.
"bagus" kata Alana tersenyum puas.
setelah itu, Alana pamit pulang karena keadaannya sudah lebih baik. tapi ia tak pulang ke pent house yang biasanya. ia pulang ke apartemen yang ada di dekat mansion Raphael. ia sudah terlalu lelah hari ini.