
mobil BMW itu memasuki halaman SMA bina lanjut Jakarta alias SMA bilanta. sosok seorang gadis yang tak lain adalah Reysa itu turun dari mobilnya. saat ia turun dan menampilkan penampilan Reysa baru yang terkesan sangat berbeda dengan yang biasanya, sontak semua orang membicarakan dirinya. tapi Reysa alias Alana tak peduli karena ia sudah biasa dibicarakan.
Reysa berjalan menuju kelasnya, X IPA 3 adalah kelasnya. masih dengan tidak memperdulikan sekitarnya, Reysa yang berjalan sambil memainkan hpnya itu bertabrakan dengan seseorang.
"shit!" ujarnya memegang dahinya. Reysa berdiri dan membersihkan pakaian nya bersamaan dengan ia meminta maaf. "sorry gue nggak liat" ujarnya masih membersihkan seragamnya itu.
tak ada jawaban, Reysa yang selesai dengan seragamnya melihat sosok yang ditabraknya. seorang laki laki tampan dengan raut wajah datar menatap dirinya dingin.
"loe sengaja?" tanya laki laki itu sinis.
Reysa loading, ia tak tau kenapa orang di depannya ini sangat marah padahal kan ia sudah minta maaf. "nggak lah. ngapain juga gue sengaja? kan gak guna. terus gue juga jatoh jadi kan sakit" jawabnya jujur.
siapa sih yang suka dirinya sakit? hanya orang masokis yang mau melakukan hal yang menyakitkan. dan Reysa bukan seorang masokis maupun sikopat oke. yah tapi itu sekarang, tapi kalau lagi kumat beda cerita lagi ya.
hening di antara mereka. laki laki itu yang diam menatap Reysa datar dan Reysa balas menatap datar. dalam batinnya Reysa berujar kesal
ni orang ngapa dah? kan gue udah minta maaf. terus kenapa dia masih marah sih? dia juga tanya gue sengaja. ya nggak mungkin lah gue sengaja, kan gue lagi nggak kumat. terus kalaupun gue kumat terus nambrak orang, yang gue tabrak mendingan juga Lucas atau Mark Lee juga boleh. ngapain gue nabrak ni orang kagak guna bat. emang situ siapa? artis kayaknya bukan. ganteng sih iya, tapi masih gantengan bang Alen. jadi Kenapa gue harus nabrak orang kek gini?
Reysa membatin kesal. ia bahkan sampai membandingkan laki laki di depannya itu dengan Abang kesayangannya di dunia nyata.
masih diam, tak ada yang bicara. karena Reysa sudah malas berhadapan dengan orang di depannya ini, Reysa memutuskan untuk minta maaf dan pergi begitu saja.
"oke gue salah, gue ngaku gue salah karena main hp pas lagi jalan. ini murni kesalahan gue, so gue minta maaf. sekarang gue pergi" ujar Reysa lalu melewati laki laki di depannya itu begitu saja.
sepeninggal Reysa, laki laki itu yang ternyata adalah sang tokoh utama pria ke satu, Arfana Gibran Hanzata itu tersadar dari keterkejutannya. ia menoleh ke arah Reysa melewatinya, ia memandang lorong itu heran.
"dia kenapa?" gumamnya heran.
...×××...
Reysa duduk di salah satu bangku dengan asal. di sekolah ini tempat duduk bisa diubah sesukanya. jadi setiap hari bangku bisa berubah. dan hari ini kebetulan Reysa melihat bangku yang dekat dengan jenderal. walau bukan paling belakang seperti ia yang biasanya, Reysa duduk di deret nomor dua dari belakang dan samping jendela itu sudah cukup untuk Reysa. yang Reysa butuhkan adalah angin untuk kenyamanan tidurnya.
Reysa menggantung tasnya di mejanya seperti biasa. lalu karena ini masih agak pagi, Reysa mengeluarkan hpnya juga sekotak susu coklat. jika sarapan susu pisang, maka jika sedang menganggur begini ia akan meminum susu coklat. nggak ada arti apa apa kok, cuma ini kebiasaannya dari saat ia masih menjadi Alana.
Reysa memainkan hpnya. ia membuka semua sosial media milik Reysa asli, dan disana ia seketika begidik ngeri. bagaimana tidak? isi sosmed nya berisi postingan dengan pakaian terbuka. Alana sejak dulu yang tidak pernah begitu merasa jijik dengan isi album hp itu. alhasil, Reysa atau Alana menghapus semua yang ada di dalamnya. ia setel ulang semuanya. dan setelah ia menyetel ulang semua hal yang ada di hp itu, Reysa membuat akun sosmed yang baru. tentunya itu yang sesuai dengan gaya nya.
...×××...
"nagapain loe duduk sini?" tanya suara itu dingin.
Reysa terlonjak kaget dan sontak menoleh ke belakang melihat siapa yang mengagetkan dirinya. dalam sekejap mood Reysa yang awalnya sudah buruk kini tambah buruh sehingga ia marah marah pada laki laki di belakangnya.
"woi jangan muncul kek setan gitu kale!! untung gue nggak ada penyakit jantung, kalo ada gue bisa mati ****!! ya kalo loe itu Lucas atau Mark gitu sih gue fine fine aja!! lah ini loe bukan siapa siapa tiba tiba muncul kek setan ngagetin gue anying!! nggak seneng sama sekali gue liat loe yang pagi pagi bikin mood gue makin ancur aja!!" ujar Reysa yang sudah terlanjur kesal itu.
sementara itu, laki laki yang mengagetkan Reysa hanya diam dengan sebelah alisnya yang terangkat, heran dengan tingkah gadis di depannya ini yang sangat berbeda dari biasanya.
"loe kenapa?" tanya laki laki tak dikenal Reysa itu.
Reysa makin kesal dibuatnya karena bukannya minta maaf orang di depannya itu justru bertanya pada dirinya dengan wajah datar sedatar aspal.
"loe jadi orang nggak bener apa gimana seh oy?! harusnya loe minta maaf gitu kek!! lah ini malah nanya gue Kenapa!! gue kaget nying gara gara loe yang muncul tiba tiba sama wajah datar loe yang udah mirip jalan aspal depan rumah gue!! emang loe Minato yang bisa pakai hiraishin?!" kesal Reysa yang makin membuat bingung lawan bicaranya itu. semua orang juga sudah menempatkan perhatian pada Reysa yang marah marah pada si lelaki itu.
diam, tak ada jawaban dari lawan bicaranya sehingga membuat Reysa sadar akan apa yang baru saja ia lakukan. Reysa menghela nafas agar pikiran mendingin, lalu ia meminta maaf.
"sorry gue lagi ga mood diganggu orang. jadinya gue marah marah ke lu, sorry nggak sengaja" ujar Reysa sembari memijit pangkal hidungnya.
masih tak ada jawaban dari lawan bicaranya membuat Reysa jengah. ia menghela nafas lagi dan memilih pergi dari ruang kelas itu karena ia sudah jadi tontonan. tapi sebelum pergi tak lupa ia mengambil hpnya dan susu coklat nya. setelah itu barulah ia pergi.
"gue cabut, sorry" ujarnya singkat dan melenggang pergi meninggalkan laki laki yang masih diam itu.
...×××...
Reysa berjalan menuju perpustakaan yang pasti sekarang sedang sepi. ia berencana membolos hari ini, malas belajar karena moodnya jatuh ke dasar. dan benar saja, perpustakaan sangat sepi, bahkan tidak ada penjaganya sama sekali membuat Reysa bersyukur dibuatnya.
Reysa mencari tempat yang cocok di perpustakaan untuk dirinya tidur atau menyendiri. lama ia mengitari perpustakaan, akhirnya Reysa menemukan spot yang paling enak menurut dirinya. jadi segera melangkah menuju tempat itu dan duduk manis dengan sebuah buku yang kebetulan tadi ia melihatnya saat mencari tempat yang sesuai dengan seleranya.
Reysa duduk di dekat jendela. berhubung perpustakaan itu berlantai dua, Reysa memilih tempat di lantai dua yang pasti anginnya lebih kuat dari pada di lantai satu. dan karena perpustakaan berada di barat gedung sekolah yang harus dilewati jika ingin menuju kantin, jadi Reysa tak perlu khawatir ia ketiduran sampai sore atau bahkan malam. just because she sensitive. jadi Reysa akan terganggu hanya dengan suara kecil saja jika ia sedang tidak terlalu fokus pada sesuatu.
Reysa duduk dan memasang headset yang selau ada di kantongnya. Reysa menyetel musik yang baru ia download tadi setelah mereset hpnya. setelah semua suasana mendukung, Reysa membuka buku yang ia bawa dan membacanya. buku itu adalah buku novel karena Reysa yang sekarang adalah penggemar berat novel.
chapter 2_End