The Antagonist

The Antagonist
chapter 3



Reysa berbaring di kasurnya, entah kenapa ia merasa sangat lelah hari ini padahal tak banyak hal yang terjadi. mungkin yang membuatnya lelah adalah karena ia marah marah pada seorang lelaki yang baru ia tau seorang pemeran utama itu.


Reysa menghela nafas untuk kesekian kalinya. sungguh ia tak menyangka kalau ia sudah berurusan dengan tokoh utama itu. dan Reysa juga tak menyangka kalau sikap tokoh utama laki laki nya seperti seorang baji*gan. kini Reysa mulai mempertanyakan bagaimana selera Reysa yang asli.


Reysa bangkit dari tidurnya, ia merasa ia perlu mandi karena kepalanya serasa sudah panas saja.


...×××...


setelah mandi, Reysa mengganti pakaiannya lalu ia duduk di pinggir kasur dan bermain hpnya. saat sedang melihat kontak siapa yang baru saja ia dapatkan tadi, Reysa teringat kalau Reysa asli memiliki seorang kakak laki-laki bernama Kenan Airsa Kartarendra.


Reysa nampak berpikir mempertimbangkan sesuatu, setelah itu Reysa menelfon Kenan.


"halo, dek? kenapa?"


Reysa tersenyum kecil saat mendengar suara seseorang yang adalah Kenan tersebut, orang yang membela Reysa mau itu benar atau salah.


"bang, gue mau pindah ke rumah Abang aja. boleh?" tanya Reysa to the points.


di seberang sana Kenan merasa aneh dengan adiknya itu. dahulu Reysa asli memang tidak mau pergi tinggal bersama dengan Kenan yang memilih pergi setelah kedatangan Felicia ke rumah ini dan kematian mama Reysa dan Kenan. Kenan memilih pergi karena ia tak tahan melihat wajah Felicia yang mirip dengan wanita yang membuat mamanya meninggal.


jadi ceritanya, dulu keluarga ini adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. tapi karena Edward, papanya Reysa Kenan selingkuh dengan seorang wanita dan punya seorang anak yaitu Felicia itu, kebahagiaan keluarga ini hancur.


awalnya Felicia hanya tinggal bersama dengan ibunya di tempat lain tapi dengan biaya dari Edward, tapi setahun lalu ibunya Felicia meninggal dunia. alhasil, Edward yang punya tanggung jawab pada Felicia membawanya ke rumah Reysa. mamanya Reysa yang tau kalau suaminya selingkuh itu merasa depresi dan berakhir bunuh diri. nah setelah itulah Kenan sangat membenci Edward dan Felicia. tapi karena membunuh orang bisa dikenai hukum pidana, Kenan memilih pergi karena tak tahan dengan Edward dan Felicia. Kenan mengajak Reysa pergi, tapi Reysa tak mau hidup susah sehingga ia tetap tinggal di rumah ini sembari menyiksa Felicia disini.


"yakin dek? kok tiba-tiba?" sungguh Kenan heran dengan adiknya ini.


"gapapa sih. pengen aja, tapi hang penting gimana? boleh nggak? kalo gak boleh gue bisa cari kosan sendiri kok" tanya Reysa lagi.


"eh boleh dong, kapan mau pindah? hari ini apa besok aja?"


"hari ini aja sekalian. tapi we mau beres beres dulu. nanti kalo udah we kabarin abang"


"oke, kalo gitu nanti kabarin abang ya dek. bay, cepetan beres beres sana"


"iya iya" jawab Reysa lalu menutup teleponnya.


setelah menutup teleponnya, Reysa segera bergerak membereskan barang barangnya. ia hanya mengambil barang yang cocok dan dibutuhkan olehnya saja. serta barang kesayangan Reysa asli.


sekitar 30 menit, Reysa sudah selesai mengepak barang bawaannya. kini jam menunjukkan pukul 6 sore, Reysa yang hendak menelfon Kenan terhenti karena ia merasa lapar. alhasil Reysa menunda untuk menelfon Kenan dan turun untuk memasak makanan.


...×××...


Reysa berada di dapur, ia melihat isi kulkas yang ada di sana. karena Reysa sedang malas saat ini, jadi ia hanya memasak mi instan dengan telur dan ditambah beberapa sayuran seperti sawi.


Reysa masak dengan telaten karena dia sebagai Alana hanya hidup bertiga dengan Kakak tirinya dan pembantunya, tanpa orang tua. dan Alana punya hobi memasak, jadi Alana selalu memasak untuk dirinya dan kakaknya walau di rumahnya ada pembantu. so wajar ya kalau Reysa sekarang bisa dengan telaten memasak dan tidak menghancurkan dapur, kan dalamnya Alana.


sesudah memasak, Reysa membawa makanannya ke meja makan. ia memakan masakannya dengan lahap karena lapar. apa kalian bingung dimana pembantu rumah ini, papanya dan Felicia? Edward belum pulang dari kantornya, Felicia sedang keluar yang entah untuk apa, para pembantu di belakang yang juga tak tau sedang apa.


setelah makan, Reysa minum air dan diam sebentar agar makanannya agak tercerna. dan setelah sekitar 5 menit, Reysa bergerak menuju kamarnya. ia akan menelfon Kenan untuk menjemputnya mumpung orang orang sedang tak melihat.


di kamar Reysa mengambil hpnya, ia segera menelpon Kenan.


"halo bang, jemput sekarang. udah siap" ujar Reysa pada Kenan di seberang sana.


"oke dek, tungguin abang ya. ini udah dijalan, bentar lagi nyampe" jawab Kenan membuat Reysa mengangguk paham padahal tidak mungkin dilihat oleh Kenan.


"oke bang, Rey tunggu di depan ya. bay" ujar Reysa menutup teleponnya.


setelah menutup teleponnya, Reysa berjalan keluar sembari membawa kopernya untuk menunggu Kenan di depan gerbang.


...×××...


"non Reysa mau kemana? kok bawa koper segala?" tanya salah seorang satpam yang bernama pak Ahmad itu


Reysa menoleh melihat ke arah pak Ahmad, lantas tersenyum ramah. "saya mau pindah ke tempat bang Kenan pak" jawabnya membuat pak Ahmad dan pak Budi tertegun.


"kok tiba-tiba non?" tanya pak Ahmad heran.


"nggak tiba tiba kok pak, ini udah lama sebenarnya, tapi belum sempat pindah. baru sempatnya sekarang" jawab Reysa tersenyum ramah.


ingin rasanya pak Ahmad bertanya lagi, tapi tak jadi karena sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah besar itu. tentunya kalian tau siapa pemilik mobil itu, dan ya, itu mobil Kenan.


"sori dek, udah nunggu lama?" tanya Kenan saat keluar dari mobilnya.


Reysa menggeleng "nggak kok bang. yok pergi" jawab Reysa yang diangguki oleh Kenan.


"yok, sini batangnya" ujar Kenan mengambil koper dan tas Reysa. Reysa memberikannya dengan senang hati karena ia juga malas harus membawa banyak barang begitu.


sembari Kenan yang memasukkan barang barangnya ke dalam mobil, Reysa pamit pada dua satpam disana.


"Pak Ahmad, pak Budi, saya permisi" ujar Reysa pamit dan masuk ke dalam mobil. disusul dengan Kenan, dan mereka segera meninggalkan rumah besar itu.


...×××...


di perjalanan, Reysa hanya diam melihat ke luar jendela. sementara Kenan fokus menyetir mobil. tapi karena bosan, Kenan bertanya pada Reysa.


"dek, lo pamit sama papa?" tanya Kenan yang ingin tau.


"nggak, ogah gue pamit ama itu orang" jawab Reysa mendesis kesal.


"di rumah lo di gimana? sering dimarahi?" tanya Kenan lagi


"banget bang. pernah ni ya, sekali gue nggak lakuin apa apa, tapi gue dimarahi tau nggak" jawab Reysa kesal mengingat tentang bagaimana Reysa asli diperlakukan.


"kok bisa? dimarahi padahal lo nggak ngapa ngapain" Kenan merasa heran. papanya itu biasanya orang yang adil, jadi kenapa adiknya yang tidak melakukan apa apa dimarahi?


"waktu itu kan gue minum. terus tiba tiba aja, di Felicia muncul di belakang gue. tentunya gue kaget dong, dan gue nengok ke belakang waktu itu. gelas yang gue bawa tumpah airnya terus kena Felicia. gelasnya juga jatuh dan kena kaki gue sampe berdarah. nah papa liatnya itu gue nyiram air ke Felicia, gimana tuh coba? bahkan gue ditampar bang saat bela diri sendiri. bajingan emang tu orang. padahal gue yang luka, tapi gue yang dimarahi. sumpah gue benci ama itu orang" jelas Reysa menggebu-gebu karena kesal.


Kenan ngerem mendadak saat mendengar cerita Reysa membuat Reysa kepentok.


"ishh bang sakit tau. kenapa ngerem mendadak sih?" tanya Reysa mengelus jidatnya.


"tadi lo bilang lo ditampar dek?" tanya Kenan dingin.


Reysa yang tak melihat raut wajah Kenan yang bagai bisa menerkam siapa saja itu menjawab ringan. "iya" jawabnya.


"gila tu orang. fix dia bukan papa kita lagi dek" ujar Kenan menatap manik mata Reysa.


Reysa yang tau Kenan tengah marah karena dirinya itu merasa hangat. ia jadi mengingat kakak laki-laki nya di dunia nyata,


Alen. Reysa tersenyum lembut.


"dia emang udah bukan papa kita lagi bang. sejak dia selingkuh dan bawa Felicia ke rumah, dia bukan papa kita lagi. sejak dia yang bikin Mama meninggal, dia udah bukan siapa-siapa buat kita lagi. kita sekarang cuma berdua bang, cuma ada Reysa dan Kenan. keluarga gue cuma lo seorang bang" ujar Reysa tersenyum lembut sembari memeluk Kenan.


Kenan balas memeluk Reysa dan mengelus kepalanya pelan. "iya, kita cuka berdua. dan lo bakal jadi prioritas gue dek"


dan jadilah disana peristiwa mengharukan antara sang adik dan sang kakak.