The Antagonist

The Antagonist
BAB 29



"Liuli, apa ini benar ?." tanya Wei Lian yang tengah berlatih dengan pedang ditangannya.


"Sepertinya benar seperti itu Nyonya." jawab pelayannya itu sembari mengikuti gerakan Wei Lian.


Mereka mengayunkan pedang itu ke kanan dan ke kiri, sesekali juga mengerahkan pedang itu seolah menusuk sesuatu.


Kira-kira sudah sepeminuman teh mereka berdua berlatih, dilihatnya oleh Liuli, Wei Lian terus mengucurkan keringat dengan deras. Bahkan sesekali tubuhnya goyah dan ingin terjatuh.


"Nyonya, kurasa anda harus beristirahat, saat anda sudah sembuh baru kita berlatih lagi." ucap Liuli dengan raut muka khawatir.


"Aku tak apa Liuli, kalau kau ingin beristirahat maka pergilah, aku akan terus berlatih." jawab Wei Lian dengan terus mengayunkan pedang ditangannya.


Klang....


Pedang itu jatuh dari tangan Wei Lian, begitu pula dengan Wei Lian. Tangannya kini juga ikut terluka karena berlatih.


"Nyonya, anda tak apa-apa bukan ?." tanya Liuli dengan penuh kekhawatiran, dibantunya Wei Lian untuk bangkit.


Dipapahnya menuju sebuah bangku yang tak jauh dari tempat mereka berlatih.


"Aku akan pergi untuk mengambil air dan juga obat, Nyonya tunggulah sebentar disini." ucap Liuli lalu beranjak pergi meninggalkan Wei Lian sendirian.


"Huhh..." hela nafas Wei Lian.


Jian Mei pun diam berfikir, ia teringat waktu bertarung dengan Lu Meixi.


Saat bertarung ia bisa bergerak dengan mudahnya, yah...meskipun tetap saja ia lemah saat itu.


Akan tetapi sekarang ia tak bisa melakukannya, bahkan saat mengangkat pedang saat berlatih tadi ia merasa sangat berat.


"Apa mungkin saat bertarung dengan Lu Meixi itu bukan aku ? Apa Wei Lian tiba-tiba saja kembali ?." pikirnya.


Tak berapa lama Liuli kembali dengan ditemani seorang pelayan.


"Nyonya, aku sudah kembali." ucapnya.


Ia langsung menyeka keringat Wei Lian, dengan telaten ia membasuh tangan Wei Lian yang tengah terluka.


"Aku akan membersihkannya dulu Nyonya, setelah itu aku akan mengoles obat." ucap Liuli.


Wei Lian hanya mengangguk saat mendengarnya. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang membuat Liuli sedikit ketakutan.


"Liuli, sebentar lagi temani aku pergi ke tempat murid-murid sekte Wei berlatih, aku akan mengawasi dan mempelajari bela diri mereka diam-diam." ucap Wei Lian.


"Nyonya, apa anda lupa kalau Tuan Zi Lan melarangmu untuk pergi kesana ? Kalau kita pergi, aku takut anda akan bertengkar lagi dengan Tuan." ucap Liuli.


Memanglah Liuli tak ingin Nyonyanya itu bertengkar dan menjadi sedih lagi.


Sebenarnya ia sendiri juga tak tahu mengapa Wei Lian dilarang pergi kesana, padahal dia adalah pemilik sekte Wei ini.


"Kalau saja Tuan tak tergoda Meixi sialan itu pasti Nyonya ku akan tersenyum selebar dulu." batin Meixi.


Wei Lian pun terdiam, ia berpikir kembali, mengapa Wei Lian dilarang pergi ?.


Apa mungkin kemampuan Wei Lian buruk karena larangan itu ?.


Namun dirinya sekarang sedikit berbeda, meskipun takut ia tetap harus pergi kesana. Ia tetap ingin melatih kultivasinya lagi.


Sejak ada didalam novel ini, ahh...sejak ia belum bertransmigrasi kemari memanglah ia sangat ingin nasib Wei Lian berubah.


Ia tak mati dan kembali bahagia dengan suaminya, ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi kuat, menarik dan sempurna.


"Selama suamiku itu tak tahu makan semua akan tetap aman Liuli."


"Tapi Nyonya bagaimana kalau..."


"Percayalah padaku, aku benar-benar bertekad kali ini Liuli." ucap Wei Lian.


Akhirnya Liuli pun mengalah, ia tak akan bisa melarang Wei Lian jika ia sudah bertekad seperti itu.


"Baiklah Nyonya." ucap Liuli.


"Kau pergilah, tugasmu sudah usai disini." ucap Wei Lian sambil menatap pelayan yang menemani Liuli tadi.


......................


Wei Lian mempertajam mata dan juga telinganya saat mengawasi para murid-murid sekte Wei berlatih.


"Sepertinya aku bisa melakukannya." batin Wei Lian.


Liuli sendiri juga sangat bersemangat saat mendengar salah satu murid senior mengajar.


"Liuli, karena tanganku masih sakit maka ambilkan saja pedang kayu." titah Wei Lian.


Dengan segera Liuli beranjak untuk melaksanakan titah dari Wei Lian.


Tak berapa lama Liuli lari terbirit-birit ke arahnya dengan membawa 2 pedang kayu ditangannya.


"Terima kasih Liuli." ucap Wei Lian.


Mereka berdua pun berlatih dengan mendengar arahan dari tempat murid-murid berlatih.


"Kurasa berlatih dengan pedang kayu ini akan sangat membantuku saat ini." gumam Wei Lian.


...****************...


Beberapa pelayan tengah memijat punggung dan juga lengan Meixi.


Ada juga pelayan yang menyuapi dirinya dengan buah anggur yang memang disediakan untuknya.


"Memanglah sangat nyaman hidup seperti ini." gumam Meixi.


"Naikkan sedikit tanganmu, kau memijit ditempat yang salah." ucap Meixi.


Dari luar kamarnya ada suara seorang wanita yang tengah memanggil dirinya itu.


"Nyonya...nyonya...."


"Nyonya...."


Meixi menjadi sangat kesal karena suara itu mengganggku kenikmatannya saat ini.


"Seret dia masuk, mengganggu sekali." ucap Meixi dengan nada kesal.


Para pelayan yang ia perintahkan pun menyeret wanita itu kehadapan Meixi.


"Lancang sekali kau menggangguku, apa kau sudah bosan hidup ?!." tanya Meixi dengan melempar anggur yang dihidangkan untuknya ke wajah pelayan itu.


"Tidak Nyonya, mohon ampuni aku, aku berteriak-teriak karena alasan penting Nyonya." jawab pelayan itu dengan suara bergetar, ia sangatlah ketakutan kalau Meixi akan benar-benar menghabisi dirinya.


"Alasan penting ? Sepenting dan seberharga apapun alasanmu itu tak seharusnya seorang pelayan sepertimu bersikap kurang ajar!." ucap Meixi.


"Maafkan aku Nyonya, hanya saja aku sudah tak sabar untuk menyampaikan informasi ini." ucap pelayan itu.


"Informasi ?." tanya Meixi, ia menjadi tertarik begitu mendengar ucapan pelayan kurang ajar itu.


"Ya Nyonya, tadi aku diminta Liuli untuk membantunya mengobati Nyonya Wei Lian yang terluka karena berlatih bela diri." ucap pelayan itu.


"Cepat beritahu aku semua informasi yang kau dapat itu." titah Meixi.


"Sekarang Nyonya Wei Lian sedang berada di tempat para murid sekte Wei berlatih." lanjut pelayan itu.


"Hahaha....apa yang dia lakukan disana ? Apa dia berlatih mengintip dan berlatih diam-diam ?." tanya Meixi dengan nada suara yang seolah mengejek.


"Begitulah yang aku dengar Nyonya." ucap pelayan itu.


Meixi pun tertawa terbahak-bahak mendengarnya, ia bahkan sampai mengeluarkan air mata.


"Mau seberapa keras ia berlatih pun kultivasinya itu tak akan meningkat, apalagi dia berlatih diam-diam seperti itu. Walaupun ada guru yang mendampinginya itu juga sia-sia saja..." ucap Meixi.


Pelayan yang memberikan informasi itupun menjadi bingung, bukankah seharusnya Lu Meixi ketakutan karen Wei Lian sudah berubah ?.


Namun menapa Lu Meixi terlihat sangat tenang dan malah semakin meremehkan Wei Lian ?.


"Sia-sia saja karena itu akan memperburuk kesehatannya, tanpa latihan yang benar energi dalam tubuhnya itu akan menjadi semakin berantakan dan tak lama ia akan mati hahaha..." batin Meixi.