
Reysa beralih pada Felicia yang gemetaran itu. Reysa tersenyum lembut "sekarang, mari saya beritahu sesuatu" ujarnya memegang pundak Felicia. "kamu duduk aja dulu" lanjutnya.
Felicia langsung duduk menurut entah karena apa. sesaat tadi bukannya Felicia takut pada Reysa yang bisa menjatuhkan Arfan, tapi ia justru merasa kagum pada Reysa. ada apa dengannya?
Felicia menatap Reysa yang berdiri itu. Reysa yang ditatap tersenyum lembut, tangannya mengelus pipi putih Felicia.
"anda tau.. seharusnya anda tidak memanggil saya kakak. anda tau kenapa? karena anda bukan saudara saya" ujar Reysa lembut.
"kita satu ayah kak" ujar Felicia merasa tak terlalu takut seperti biasanya.
Reysa yang mendengar itu terkejut karena tak menyangka kalau Felicia akan berkata begitu. biasanya Felicia akan berkata maaf berulang kali sampai sampai Reysa asli jengah.
Reysa terkekeh "haha anda tau, itu jawaban yang tidak saya duga sama sekali. saya pikir anda akan berkata maaf berulang kali sepeti biasanya. tapi sayang tidak menyangka ini haha" ujar Reysa jujur.
"tapi anda tau? itu juga salah. walau saya putri biologi tuan Edward Kartarendra, tapi saya tidak menganggap beliau sebagai ayah saya. dia sudah tidak berarti di kehidupan saya setelah apa yang ia lakukan pada ibu saya. jadi anda salah disini. karena saya tidak menganggap tuan Edward sebagai ayah saya, artinya anda juga bukan saudara saya. satu satunya saudara saya yang tersisa adalah... kakak saya, Kenan. hanya dia seorang keluarga saya saat ini. anda mengerti?" ujar Reysa lalu mencium rambut panjang Felicia.
wajah Felicia memerah, entah kenapa dia bisa begini. tapi ia benar benar merasa kalau tidak akan bisa melepaskan diri dari pandangan lembut Reysa itu.
"kalau begitu saya harus panggil apa?" tanya Felicia.
Reysa tersenyum, ia memegang kedua pipi Felicia dan mendekatkan wajahnya ke wajah Felicia. karena posisi Reysa yang lebih tinggi itu, Felicia dibuat mendongak oleh Reysa. rambut panjang Reysa berjatuhan dan mengenai pundak Felicia.
"anda bisa memanggil saya Reysa, tanpa embel embel kakak" jawab Reysa lembut. "anda mengerti?" lanjutnya setelah kembali pada posisi tegaknya.
Felicia lagi lagi mengangguk menurut, "saya mengerti" jawabnya.
Reysa tersenyum puas, lantas mengusap kepala Felicia, "bagus, anda anak yang baik" ujarnya senang.
Felicia merasa pipinya panas, sungguh ia sudah terpesona oleh Reysa yang sekarang. di mata Felicia saat ini, ia hanya bisa melihat Reysa yang lembut padanya. ia bahkan melupakan semua yang pernah Reysa lakukan padanya. Felicia sudah terlanjur jatuh pada pesona Reysa itu.
Reysa beralih pada seluruh orang yang ada di kelas itu. mereka hanya bisa melongo melihat Reysa yang benar benar berubah. Reysa yang jadi pusat perhatian semua orang hanya melemparkan senyum yang mampu membuat laki laki maupun perempuan memerah.
"ngomong ngomong, tadi saya belum selesai dengan anda ya(?)" ujar Reysa yang entah pertanyaan atau pernyataan itu mengalihkan pandangannya pada Bu Nadia yang diam membeku.
Bu Nadia yang dilihat Reysa masih diam membeku. "oh ya tuhan apa anda sakit? anda diam seperti patung begitu. apa perlu saya panggilkan ambulan?" tanya Reysa pura pura khawatir.
"eh ya apa?" tanya Bu Nadia yang baru sadar itu.
"anda baik baik saja? anda terlihat tidak baik" ujar Reysa masih memasang wajah khawatirnya.
"ah iya saya baik baik saja" jawab Bu Nadia tanpa sadar.
Reysa menghembuskan nafas lega, lantas tersenyum ceria. "syukurlah kalau begitu. ngomong ngomong jam pelajaran anda sudah berakhir loh. anda tidak ingin pergi?" tanya Reysa menunjuk jam yang ada di atas papan tulis itu.
Bu Nadia melihat jamnya, dan benar saja jam pelajaran nya sudah selesai. Bu Nadia berdeham dan membereskan barangnya.
"baiklah karena jam pelajaran saya sudah selesai, saya akhiri sampai disini. silahkan bersiap untuk jam pelajaran selanjutnya" ujar Bu Nadia berjalan keluar kelas
saat ada di ambang pintu, Reysa berkata dengan ringannya. "Bu nanti saya akan kirim buktinya pada anda. dengan begitu anda akan bisa memastikan apakah saya berbohong atau tidak" ujar Reysa terdengar keras karena kelas itu senyap.
Bu Nadia yang merasa malu secepatnya meninggalkan kelas itu membuat tawa Reysa meledak.
"pfft ha hahahahaha gila Fel, loe liat nggak tadi gelagatnya haha sumpah ngakak gue hihihi" ujar Reysa di sela sela tawanya pada Felicia yang ada di sampingnya itu.
Felicia yang namanya disebut Reysa justru memerah lagi. biasanya Reysa tidak akan memanggil namanya, hanya dengan hei, loe, woi dan lain lain jika untuk memanggil dirinya. jadi Felicia merasa sangat senang saat Reysa menyebut namanya.
"wah nggak nyangka loe bisa ketawa kek gitu Rey" ujar seseorang dari arah jendela kelas membuat tawa Reysa berhenti dan beralih memandang sosok laki-laki yang berada di ambang jendela itu.
Reysa melihat laki laki itu dan tersenyum cerah. "Ethan!!" teriak Reysa saat melihat laki laki yang tak lain adalah tokoh antagonis laki laki, Ethan Ananta Salim.
Ethan masuk ke kelas Reysa dengan melompati jendela. "hey baby, come anda hug me" ujar Ethan dengan senyum pada Reysa.
Reysa balas tersenyum pada Ethan, "sure, as you wish dear" jawab Reysa dan berjalan ke arah Ethan lantas memeluknya membuat semua orang melongo lagi.
"wow you look changed dear" ujar Ethan terkejut. biasanya Reysa asli tidak akan mau ia peluk, tapi apa ini? Reysa setuju memeluknya. tentunya Ethan bahagia.
"what wrong?" tanya Ethan lembut. jujur saja ia senang dengan perubahan Reysa ini, tapi juga merasa aneh.
"i'm just happy Eth" jawab Reysa melepaskan pelukannya.
"So, apa yang bikin seorang Ethan, sang pangeran sekolah datang ke sini?" tanya Reysa duduk di meja yang ada di sampingnya.
Ethan menggeleng, "cuma ngecek, udah ada berapa yang loe kirim ke rumah sakit pagi ini. dan gue nggak nyangka sama sekali loe bikin drama begini" jawab Ethan asal. tujuannya datang ke sini ya untuk melihat sang pujaan hati dong.
"hmm pagi ini gue bawa bang Cesar ke RS, terus gue telat. hari ini gue cuma pukul Arfan doang. iya kayaknya itu doang deh" ujar Reysa membuat Ethan terkejut sekaligus heran.
"kenapa Cesar? kan Cesar tinggal bareng bang Kenan" tanya Ethan.
"gue pindah ke rumah bang Kenan kemarin. jadi kalo pengen main, ke rumah bang Kenan aja" jawab Reysa santai.
di sana yang terkejut bukan hanya Ethan, tapi juga seluruh orang yang ada di kelas ini. mereka mulai berbisik bisik.
Arfan yang tadinya belum bisa berdiri pun juga terkejut dan bertanya pada Felicia. "itu beneran Fel?" tanya Arfan berbisik.
Felicia mengangguk, "iya, Reysa udah nggak tinggal sama aku lagi" jawab Felicia berbisik
kembali ke Reysa dan Ethan, mereka masih saling melakukan sesi tanya jawab pertanyaan unfaedah.
"terus telurnya loe apain?" tanya Ethan yang entah kenapa bertanya pertanyaan tak berguna itu
"ya dimasak lah Ethan. dicampur sama sosisnya" jawab Reysa.
"ohh kalo pagi ini apa?" tanya Ethan
"gue lupa deh. tapi kayaknya nasi goreng, sayur asem, terus sama telur goreng deh kayaknya" jawab Reysa ikut menjadi tidak jelas kenapa menjawab pertanyaan unfaedah ini.
"kalo gitu gue juga dong. pengen gue coba, apa aja deh terserah. besok buatin gue ya" pinta Ethan memelas.
"puppy, mirip banget" ujar Reysa
"hah? gue loe samain kayak puppy?! Reysa! gue manusia" ujar Ethan kesal.
"ya kenapa emang? puppy kan imut" jawab Reysa polos.
"ya kan dari mananya gue mirip puppy Rey! gue nggak mirip sama sekali"
"mirip Ethan!! loe mirip puppy yang pernah gue temuin di kolong jembatan" ujar Reysa
"nggak bisa Rey. gue nggak mirip"
"mirip"
"nggak"
"mirip"
"nggak"
dan terjadilah perdebatan panjang tak bermanfaat antara Reysa dan Ethan. semua orang yang ada di kelas itu hanya bisa melongo melihat Reysa yang tadinya bagai iblis itu kini berubah seperti anak kecil.
"dasar serigala tsundere!!"
"Ratu gila!!"