
Pandangan Meixi langsung melebar setelah menangkap basah Wei Lian yang baru saja kembali setelah menyusup keluar.
Ia tertawa bahkan bertepuk tangan dengan hebohnya.
Wanita ini memanglah sangat bodoh, selalu saja tertangkap basah oleh dirinya.
"Berusalahan memberi alasan terbaik pada suamiku nanti kakak." ucap Meixi.
Dan benar saja Zi Lan kini sudah tiba dan berdiri dihadapannya.
Memandangnya sudahlah pasti jawabannya, lelaki itu pasti akan memarahinya.
"Suamiku..." panggil Wei Lian.
"Alasan apalagi yang akan kau buat Lian'er ?" tanya Zi Lan.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja." ucap Wei Lian dengan terbata-bata.
"Janganlah terus-menerus membohongiku Lian'er, kau sangat mengecewakanku." ucap Zi Lan.
Tubuhnya itu langsung membelakangi Wei Lian.
"Kurung dia didalam kamar, jangan sampai ia keluar selangkahpun dari kediamannya!." titah Zi Lan.
"T-tuan ini semua salahku jadi jangan menghukum Nyonya, akulah yang mengajaknya, aku sangat ingin bermain-main di pasar." ucap Liuli.
Liuli berusaha menjelaskan semuanya pada Zi Lan, ia sangatlah tak ingin Wei Lian dihukum, setiap Nyonyanya itu dihukum pastilah Meixi akan bertindak dengan semena-mena.
"Tuan...ini salahku jadi hukum saja aku, jangan menghukum Nyonya, ia sedang sakit." jelas Liuli.
"Kau juga akan dihukum Liuli." ucap Zi Lan lalu berjalan pergi.
Meixi pun kembali tertawa dengan keras begitu Zi Lan pergi.
Dipandangnya Liuli yang tengah bersujud itu, sangatlah memalukan.
Dialihkan pandangannya itu pada Wei Lian, lagi-lagi matanya itu berkaca-kaca.
"Apa kau sedih ? Aiyoo...pastilah kau sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi aku tak bisa menyimpan sebuah rahasia." ucap Meixi.
Ditatapnya dengan tajam Lu Meixi, mengapa wanita itu sangat suka mengganggunya ?.
"Tertawalah dengan puas Meixi, karena sebentar lagi aku akan membuatmu menangis darah." ucap Wei Lian.
"Hahaha....kau membuatku menangis ? Janganlah berkhayal Wei Lian, akulah yang akan membuatmu menangis, bahkan sampai air matamu itu terkuras habis." ancam Meixi balik.
Para pelayan pun menarik Wei Lian dan Liuli dengan paksa, mereka menarik dengan sangat kasar.
Bahkan mereka juga mentertawakan Wei Lian tanpa menyadari bahwa Wei Lian lah yang sebenarnya berkuasa di sekte Wei ini.
Bruk....
Mereka mendorong Wei Lian dengan sangat keras hingga ia terjatuh ke lantai kamarnya.
"Kalian!!." teriak Liuli marah.
Plakkk!!
Meixi melayangkan tamparan ke pipi Liuli dengan kerasnya.
"Nyonya Meixi.."
Plakkk...
Plakkk....
Meixi menamparnya hingga bibir Liuli berdarah.
"Semakin kau membela Wei Lian, semakin kejam juga hukuman yang akan kau dapatkan Liuli!!." teriak Meixi.
"Dasar pelayan rendahan!!." teriak Wei Lian sembari menampar Meixi.
Wajah Meixi pun memerah begitu mendengarnya, beraninya Wei Lian memanggilnya sebagai pelayan.
Di tamparnya balik wajah Wei Lian dengan sangat keras.
"Aku akan membuatmu mati dengan mengenaskan Wei Lian!." teriak Meixi.
Dia pun memerintahkan pelayan untuk menyeret Liuli kedalam penjara.
"Masukkan Liuli kedalam penjara!."
"Dan jangan sampai kalian memberi makan pada Wei Lian selama ia dihukum!." teriak Meixi.
"Memangnya kau siapa Meixi ? Kau hanyalah pelayan yang kebetulan menjadi selir suamiku!." teriak Wei Lian lagi.
Ia memerintahkan para pelayan untuk menyegel kamar Wei Lian.
"Membusuklah didalam sana kakakku tercinta." ucap Meixi lalu berjalan pergi meninggalkan kediaman Wei Lian.
......................
"Ye Han...kau kah itu ?." tanya seorang wanita dengan paras elok yang sangat memikat.
Pandangan Xu Ye Han pun teralihkan pada wanita itu, sebuah senyuman terukir tipis begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Yifei...apa yang kau lakukan disini ?." tanya Ye Han dengan ramah.
Wanita itu tersenyum senang, ia tak menyangka akan bertemu dengan Xu Ye Han di tempat seperti ini.
"Aku baru saja membantu warga di desa bawah, kau sendiri ? Apa yang kau lakukan disini Ye Han ?." tanya perempuan bernama Yifei itu.
"Hanya bersenang-senang." jawab Ye Han singkat.
Yifei adalah anak dari salah satu teman ayahnya, gadis itu sangatlah suka mengembara untuk membantu orang-orang lemah.
Gadis itu menyimpan rasa untuk dirinya, itulah yang Ye Han ketahui.
Itu semua dikarenakan ucapan-ucapan orang tua yang dengan mudahnya berkata akan menjodohkan mereka.
Namun itu semua gagal karena Ye Han tak menginginkannya, baginya Yifei terlalu baik dan sempurna.
Sedangkan dirinya sangatlah kotor, ia tak ingin gadis itu terkontaminasi dengan hal-hal buruk yang ia lakukan.
"Kau masih saja seperti dulu Ye Han." ucap Yifei.
Xu Ye Han pun tersenyum, "Kau juga sama."
"Nona Yifei." sapa Jin Ling yang baru saja tiba.
"Ahh...Tuan Jin Ling, seharusnya aku tak melupakan hal ini, dimanapun Ye Han berada pastilah ada Jin Ling." ucap Yifei.
"Ayo kita pergi Jin Ling." ucap Ye Han.
Yifei pun terpenjerat, ia menahan kepergian Ye Han.
Baru saja ia bertemu, bagaimana mungkin ia rela berpisah begitu saja ?.
"Ehhhhh....kita baru saja ditakdirkan bertemu mengapa dengan mudahnya kau akan menghancurkan takdir itu." ucap Yifei.
"Kalau kita berjodoh, pastilah akan bertemu lagi Yifei." ucap Ye Han.
Di tahannya lagi kepergian Ye Han itu, ia tahu kalau seharusnya tak melakukan hal ini.
"Aku membutuhkan bantuanmu." ucap Yifei mendadak.
Ye Han pun merasa heran, bantuan apa yang dibutuhkan Yifei darinya ?.
Apalagi mereka baru saja bertemu, apa ia tak malu berkata seperti itu.
"Aku tahu kalau ini mengejutkan, namun aku sangat membutuhkan bantuanmu." ucap Yifei.
"Bantuan apa yang bisa kulakukan untukmu Yifei ?." tanya Xu Ye Han.
Yifei pun terduduk, tatapannya menjadi sendu.
"Selama ini aku selalu mendengar gossip tentangmu, aku tahu kalau dari dulu kau adalah orang yang sangat hebat Ye Han."
"Ayahku sudah lama tak terdengar kabarnya, apa kau bisa membantuku untuk mencarinya ?." tanya Yifei.
Ye Han hanya terdiam, ia sedang berpikir sangat dalam, apakah gadis ini sedang mencari-cari alasan agar bisa bersamanya lebih lama ?.
"Aku tak berbohong, dia pergi ke wilayah barat, namum sudah beberapa minggu ini dia tak mengirim pesan padaku." ujar Yifei.
"Ahhh...kebetulan sekali kami berdua juga akan pergi ke wilayah barat." celetuk Jin Ling.
Upsss!
Jin Ling menyadari kebodohan yang ia buat kali ini, bagaimana bisa ia mengatakan sesuatu sebelum diperintahkan Tuannya itu.
Apalagi ia menyadari hubungan antara Tuannya itu dengan Nona Yifei.
"Benarkah ? Kalau begitu kita harus berangkat bersama, dengan bersama kalian pasti perjalananku sangat aman." ucap Yifei dengan penuh semangat.
Ia tersenyum memandang Xu Ye Han yang tengah memainkan kipas ditangannya.
Tak disangka kalau mereka akan menuju ke wilayah yang sama, mungkin lah ini semua rencana indah yang diatur dewa untuk dirinya.