The Antagonist

The Antagonist
chapter 5



Reysa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk para penghuni rumah ini seperti yang ia janjikan. ini sudah jam setengah 6 pagi, matahari sudah nampak saat ini.


hari ini Reysa akan memasak nasi goreng dan sayur asam dengan lauk berupa telur goreng. Reysa memasak semuanya dengan telaten, ia selesai memasak pada pukul 6.


setelah selesai, Reysa membawa semua itu ke meja makan. ia sudah mempersiapkan semuanya. bahkan ia juga menyediakan teh hangat untuk diminum, juga air putih. Reysa juga menyiapkan beberapa potong buah yang sudah dikupas. sungguh perfect memang.


selesai dengan semua persiapan itu, Reysa melihat jam dan ternyata sudah jam 6 lebih. tapi belum ada yang turun sarapan.


"udah jam enem lebih, mereka belum bangun apa gimana sih? gue ke sana aja ya" ujar Reysa pada diri sendiri.


Reysa berjalan menaiki tangga, ia mengecek kamar yang paling dekat dengan tangga yaitu kamarnya Riko.


tok..tok..tok.. Reysa mengetuk pintu pelan. lalu seseorang membuka pintu dan nampaklah Riko yang sudah siap dengan seragam rapi itu.


"kenapa Rey?" tanya Riko.


"we kira belok bangun. turun sana gih, sarapan" ujar Reysa memberitahu lalu pergi meninggalkan Riko menuju kamar sampingnya yaitu kamarnya Rian.


tok..tok..tok.. Reysa mengetuk pintu pelan. "bang Rian, udah bangun?" tanya Reysa


"udah, lagi pake baju" kata Rian yang ada di dalam.


"kalo udah cepetan turun sarapan" kata Reysa dan pergi ke kamar sebelah, kamar Cesar.


Reysa mengetuk pintu kamar Cesar, "bang Esa udah bangun?" tanya Reysa dari luar.


tak ada jawaban membuat Reysa bertanya lagi dengan lebih keras. "bang Esa udah bangun?" tanya Reysa agak lebih keras.


masih tak ada jawaban membuat Reysa kesal. ia mencoba membuka pintu kamar Cesar dan ternyata tidak dikunci.


"bang Esa gue masuk" ujar Reysa saat memasuki kamar Cesar yang bernuansa abu abu tua itu.


di tempat tidur bisa Reysa lihat sosok Cesar tidur dengan keringat yang keluar. Reysa menjadi khawatir karena biasanya orang yang berkeringat saat tidur dan nafasnya tidak teratur itu orang sakit.


Reysa segera mendekati Cesar. ia melihat wajah Cesar yang terlihat merah itu, sontak Reysa meletakkan tangannya di dahi Cesar. dan panas, langsung saja Reysa keluar dan menuju ke bawah untuk bertanya dimana kotak obat.


"bang Riko, kotak obat mana?!" tanya Reysa terburu buru.


"oh di sana" ujar Riko sembari menunjuk ke sebuah lemari.


Reysa segera mengambil kotak obat itu dan menuju kamar Cesar tanpa melihat yang lainnya sudah ada di meja makan.


Reysa mengecek suhu tubuh Cesar. "39?!" beo Reysa terkejut. ia segera keluar dari kamar Cesar dan berteriak dari atas.


"bang! bang Cesar demam! bawa ke rumah sakit! suhunya 39!" teriak Reysa keras sontak mengejutkan semua orang.


Kenan yang mendengar teriakkan adiknya segera ke atas menuju kamar Cesar bersama Riko. lalu Rian diminta untuk menyiapkan mobil agar bisa segera membawa Cesar ke rumah sakit.


"dek Cesar gimana?!" tanya Kenan khawatir.


"di dalem, beneran deh cepetan. suhu 39 itu tinggi loh" ujar Reysa juga khawatir.


semua orang ikut pergi ke rumah sakit karena khawatir pada Cesar. mereka juga membawa tas mereka agar mereka bisa ke sekolah setelah membawa Cesar ke rumah sakit dan mengetahui keadaannya.


beruntung di dunia novel ini jarang ada yang namanya macet sehingga bisa cepat sampai di rumah sakit.


...×××...


Reysa, Kenan dan 3 temannya menunggu di depan ruangan tempat dimana Cesar dirawat. mereka menunggu dengan rasa cemas hingga mereka tak sadar kalau sekarang sudah pukul setengah 7 lebih.


tak berapa lama, seorang dokter keluar dari ruangan Cesar. semuanya langsung menghadap dokter itu dengan pertanyaan tentang keadaan Cesar.


"dok gimana keadaannya?" tanya Riko yang masih lebih tenang.


"kalian bisa tenang. dia sekarang sudah baik baik saja, untung segera dibawa ke rumah sakit. tadi keadaan kritis, tapi sekarang sudah baik baik saja. tapi tetap saja badannya masih lemah. dan itu tadi gejala alergi. apa yang dia makan sebelumnya bisa jadi alergi begitu?" ujar dokter itu.


"alergi?" beo Reysa yang mendengarkan dengan serius itu. lalu ia mengingat apa yang dimakan Cesar sebelum ia jatuh demam begini.


cuma makanan yang gue masak semalem yang dimakan bang Cesar. apa bang Cesar ada alergi tertentu sama makanan yang disana?


Reysa dibuat bingung. lalu ia menatap tajam ke empat laki laki yang ada di sana. "gue kemarin tanya ada yang punya alergi atau lainnya kan? kenapa kalian jawab nggak ada yang punya alergi? buktinya sekarang bang Cesar jadi kayak gini loh. harusnya kalian sebagai sahabatnya tau dong apa yang boleh dimakan bang Cesar dan mana yang nggak boleh" tanya Reysa marah.


keempat laki laki itu hanya bisa menunduk. mereka tak tau kalau Cesar ada alergi tertentu, eh salah bukannya tak tau tapi tak ingat.


"sekarang jawab gue apa yang nggak boleh bang Cesar makan dari makanan semalem" perintah Reysa masih marah. mereka masih diam dan menunduk membuat Reysa makin marah saja. "jawab!!" ujarnya membentak.


mereka masih menunduk takut karena mereka merasa tak tau. dan mereka tak menyangka kalau Reysa akan sampai semarah ini karena keadaan Cesar.


tapi tiba tiba Kevin ingat apa yang tidak boleh dimakan Cesar. "telur, Cesar alergi kuning telur" ujar Kevin yang baru ingat.


Reysa yang mendengar jawaban itu, mengangguk. "kenapa nggak bilang kalau bang Cesar nggak boleh makan yah ada kuning telurnya?" tanya Reysa melembut.


"maaf Rey kita nggak ingat" jawab mereka bersamaan.


Reysa hanya menghela nafas "oke, terserah kalian aja" ujar Reysa lalu berbalik menatap dokter perempuan yang diam memperhatikan apa yang terjadi di depannya.


"dok apa perlu dirawat inap?" tanya Reysa pada sang dokter.


"mungkin dirawat lebih baik karena tadi keadaan kritis, jadi lebih baik tetap dipantau oleh ahli saja" jawab dokter yang bernama dokter Vania itu.


Reysa mengangguk, "baik. kalau begitu saya akan urus rawat inap nya. terima kasih dok" ujar Reysa


dokter Vania tersenyum, "iya, sudah tugas saya. dan mau saya saja yang urus ruang rawatnya? kalian bisa pergi sekolah saja" tanya dokter Vania lembut.


Reysa mengangguk, "jika tidak merepotkan dokter, tolong dok" jawab Reysa sopan.


"iya, tidak masalah" ujar dokter Vania. "sekarang pergi ke sekolah sana. nanti terlambat" perintah dokter Vania yang diangguki oleh Reysa dkk.


"kalau begitu kami permisi dok" pamit Reysa dan pergi dari sana bersama dengan Kenan dkk.