The Antagonist

The Antagonist
BAB 42



Xu Ye Han kehilangan jejak dari lelaki itu, ia sendiri masih terbatuk-batuk karena asap yang muncul dari ledakan tadi.


Tampak jelas kemarahan dari raut wajahnya, ia pun segera kembali menuju penginapan untuk memberikan tugas pada Xuan Yi dan juga Ah Ran.


Di sisi lain pria tadi semakin masuk kedalam hutan, ia menuju ke sebuah gua tempat persembunyiannya selama ini.


Kedatangannya itu sudah ditunggu-tunggu oleh Yuan Zi Lan.


"Zhou Li." sapanya.


Zhou Li pun langsung memberi hormat pada Yuan Zi Lan.


"Salam Tuan." ucapnya.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu itu Zhou Li ? Bajumu juga sangat kotor." ucap Zi Lan heran.


"Tuan, tadi aku diikuti oleh Xu Ye Han." ucapnya.


Ada sedikit ketakutan saat ia melaporkan hal itu, pastilah Tuannya itu akan menyalahkan dirinya yang tak berhati-hati dalam melaksanakan tugas.


Namun nyatanya Yuan Zi Lan justru terkejut dan heran.


"Dia mengikutimu ? Dia telah kembali ke sekte Xu, jadi mana mungkin mengikutimu." ucapnya dengan sangat yakin.


"Maaf Tuan, tapi lelaki tadi memanglah Xu Ye Han." jelas Zhou Li sekali lagi.


Yuan Zi Lan pun membalikkan tubuhnya, ia nampak berpikir sebentar.


"Apa yang dia katakan tadi Zhou Li ?." tanya Zi Lan.


"Tuan dia bertanya padaku siapa yang dalang dibalik peracunan Nyonya Wei Lian, dia bertanya padaku soal bunga biru Tuan." jawab Zhou Li.


Dikibaskannya dengan kencang tangan kirinya itu, Zi Lan juga mendengus kesal saat mendengarnya.


"Maksudmu dia tahu karena kecerobohanmu saat membawa bunga itu ?!." tanyanya dengan suara lantang.


Buru-buru Zhou Li bersujud, ia tak ingin nyawanya itu melayang untuk kesalahan yang tak ia lakukan.


"Tidak Tuan, aku menyembunyikan bunga ini. Namun dia mengetahuinya sendiri, aku sendiri juga tak tahu ia dapat informasi itu darimana." jelas Zhou Li.


"Jadi dia sudah mengetahuinya, memang orang itu selalu ikut campur dalam urusanku. Sudahkah kau pastikan ia tak mengikutimu sampai kesini Zhou Li ?." tanya Zi Lan.


"Sudah Tuan, aku melempar banyak peledak tadi."


Zi Lan terlihat tersenyum kecil mendengarnya, namun ia tetaplah tak boleh terlalu lega. Lelaki itu pastilah akan merencanakan sesuatu.


"T-tuan apa rencana kita akan gagal karena Xu Ye Han mengetahui soal itu ?." tanya Zhou Li.


Yuan Zi Lan pun menggeleng, "Walaupun dia tahu Wei Lian diracun, tetaplah ia masih tak mengetahui dalangnya. Lagipula ia juga tak mempunyai bukti apapun."


"Syukurlah kalau begitu Tuan, aku sangatlah menantikan kesuksesan dari semua rencana-rencana Anda." ucap Zhou Li.


"Saat itu tiba semua dendammu juga akan terbalaskan Zhou Li." ucap Zi Lan.


"Terima kasih Tuan." jawab Zhou Li.


Dilihatnya satu persatu bunga biru yang dibawakan oleh bawahannya itu.


Senyumnya semakin melebar setiap memeriksa satu tangkai bunga itu.


"Untuk sementara biarlah tabib yang menuju kesini Zhou Li, aku ingin memastikan terlebih dahulu apakah Xu Ye Han bajingan itu telah memberitahu pada Wei Lian." ucap Zi Lan.


"Baik Tuan, aku juga akan semakin memperketat keamanan didekat goa ini." jawabnya.


Setelah itu Yuan Zi Lan pun berpamitan untuk pergi.


Ia harus menemui istri pertamanya itu, banyak hal yang harus ia tanyakan padanya.


Begitu tiba didepan kediaman Wei Lian, ia melihat istrinya itu tengah melihat sebuah lukisan.


Lukisan mendiang putranya yakni Xian'er.


Melihatnya seperti ini membuat perasaan Zi Lan sedikit sedih.


Setiap melihat anaknya itu, dia akan teringat dengan masa kecilnya yang sangat menyedihkan.


Ia sangat membenci hal itu, itulah kenapa ia selalu menghindari Xian'er selama ini.


Yuan Zi Lan pun melangkah mendekat ke arah Wei Lian. Liuli yang melihatnya pun ingin memberitahukannya.


"Lian'er." panggil Zi Lan.


Istrinya itu sama sekali tak merespon dirinya.


"Lian'er." panggil Zi Lan seraya menepuk pundak Wei Lian.


Wei Lian tentunya terkejut, ia memanglah tengah terhipnotis dengan lukisan anaknya itu.


"Suamiku kau disini." ucap Wei Lian.


Ia pun duduk disamping Wei Lian.


"Bukankah lukisan ini sudah rusak ? Mengapa sekarang terlihat baik-baik saja, bahkan gambarnya pun lebih bagus dari sebelumnya." ucap Zi Lan.


Wei Lian terlihat gugup saat mendengar suaminya itu membicarakan lukisan Xian'er.


"A-aku membuat yang baru suamiku." jelas Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun hanya mengangguk, dilihatnya dengan lebih jelas lukisan itu.


"Dia sangat tampan." gumam Zi Lan.


Wei Lian pun tersenyum, yang dikatakan oleh Yuan Zi Lan memanglah benar.


Anaknya itu memang sangat tampan, namun wajah anaknya itu lebih mirip dengan dirinya dariapada Yuan Zi Lan.


"Kau merindukannya bukan suamiku ?." tanya Wei Lian.


"Aku tak pernah merindukannya Lian'er." ucap Zi Lan.


Wei Lian pun menunjukkan ekspresi sedih saat mendengar ucapan suaminya itu.


Jian Mei sendiri benar-benar tak habis pikir dengan Yuan Zi Lan.


Terkadang ia memanglah memahami kalau Yuan Zi Lan tak ingin Wei Lian terlarut dalam kesedihannya karena kematian Xian'er.


Namun bukankah dia terlalu kejam ? Bagaimanapun Xian'er adalah putranya.


Kehilangan anak itu seperti kehilangan masa depan bukan ?.


Yuan Zi Lan pun tersenyum padanya.


"Aku tak merindukannya karena dia selalu bersamaku Lian'er. Dia selalu berada didalam hatiku." jelas Zi Lan.


Sebuah senyuman langsung terukir begitu saja diwajahnya setelah mendengar ucapan Zi Lan.


"Lian'er apa kau menyembunyikan sesuatu dariku ?." tanya Zi Lan.


Wei Lian pun mengernyitkan dahinya, apakah mungkin suaminya itu mengetahui rahasianya.


"A-aku tak menyembunyikan apapun darimu suamiku." jawab Wei Lian.


"Saat itu kau memberikan sebuah hadiah pada Xu Ye Han, apa yang kau berikan padanya ?." tanya Zi Lan dengan penuh curiga.


"Aku hanya memberikan dia sebuah kipas suamiku." jawan Wei Lian.


"Apa kau membicarakan penyakitmu padanya ?." tanya Zi Lan.


Wei Lian menjadi semakin bingung, apa yang sebenarnya yang ingin diketahui suaminya itu.


"Aku tak pernah membicarakannya suamiku, toh tabib juga belum tahu dengan jelas penyakit apa yang kuderita selama ini." jawab Wei Lian.


Ya, selama ini memanglah tabib belum tahu-menahu dengan jelas soal penyakit yang ia derita.


Tabib mengatakan padanya kalau penyakit yang ia derita adalah penyakit langka.


Dan penyakit itu juga menurun pada putranya.


"Mengapa kau menanyakan hal itu suamiku ?." tanya Wei Lian.


Yuan Zi Lan pun menghela nafasnya cukup panjang, "Setiap penyakit pastilah ada obatnya, namun bagaimana kalau orang luar tahu soal penyakitmu dan tak ingin kau sembuh ?."


"Bisa saja bukan mereka menyembunyikan obatnya ?." ucap Zi Lan.


Wei Lian hanya terdiam mendengarnya, hari ini suaminya itu terlihat aneh dan mencurigakan.