
Wei Lian sudahlah mengikat tangan dan kaki Meixi.
Tentu ibu Meixi sendiri tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Wei Lian.
"Apa yang kau lakukan Wei Lian ?! Beraninya kau melakukan putriku seperti ini!." ucap Yan Zi yang baru saja tiba.
"Putrimu pantas menerima ini." jawab Wei Lian.
"Ck....apa yang kalian lakukan ?! Cepat lepaskan putriku!." ucap Yan Zi pada para pengawal.
Namun pengawal-pengawal itu hanyalah terdiam tak menggubris perintah Yan Zi.
"Kau pasti juga terlibat dengan kematian putraku bukan ?." tanya Wei Lian curiga.
"Apa maksudmu ? Kau memfitnahku ?!." tanya Yan Zi bingung.
Wei Lian pun memerintahkan pengawal untuk mengikat Yan Zi juga.
Ia juga memerintahkan mereka untuk mengurung Meixi dan ibunya di gudang untuk sementara.
Zi Yu sendiri nampak ketakutan melihat kejadian ini.
Anak itu kini sedang bersembunyi dibalik para pelayan.
"Kemarilah Zi Yu." panggil Wei Lian.
"Jangan sentuh putraku Wei Lian!." teriak Meixi.
"Diam kau! Cepat seret dia ke gudang sekarang!." teriak Wei Lian.
Setelah perginya Meixi dan ibunya itu, Wei Lian pun menggendong Zi Yu yang nampak ketakutan itu.
Di bawanya anak itu kedalam kamarnya.
"Nyonya...mengapa anda membawa Tuan Muda Zi Yu kemari ? Bukankah seharusnya ia bersama selir Meixi ?." tanya Liuli kebingungan.
"Anak ini tak bersalah Liuli, yang melakukan kejahatan adalah ibunya." ucap Wei Lian.
"Anda memang sangat baik hati Nyonya." puji Liuli.
Wei Lian pun berusaha menenangkan Zi Yu, anak itu tampak ingin menangis.
"I-ibu..." ucapnya pelan.
"Jangan menangis Zi Yu." ucap Wei Lian.
Ia pun seolah memberi nasehat pada anak kecil itu, entah dia akan mengerti atau tidak nantinya.
"Huhhh....Zi Yu kelak saat kau dewasa, janganlah melakukan kejahatan seperti ibumu. Setiap kejahatan yang kau lakukan pasti akan mendapat balasannya. Tumbuhlah menjadi anak yang baik hati dan tahu diri." ucap Wei Lian.
"Nyonya...kenapa anda berkata seperti itu pada anak kecil ?." tanya Liuli.
"Karena ingin saja." jawab Wei Lian.
Ia masihlah menunggu kepulangan Zi Lan ke sekte Wei.
Malam sudah makin larut, Zi Yu pun juga sudah tertidur, namun Zi Lan masih belum menunjukkan batang hidungnya.
Entah kemana suaminya itu pergi.
"Nyonya anda istirahatlah, saat Tuan Zi Lan kembali, aku akan membangunkan anda." ucap Liuli.
■■■■■■■■■■■■■
Di tempat lain Zi Lan sedang menikmati arak dengan ketua Dongfang.
Ya, dikala sekte Wei sedang gaduh, ia malah asyik bersenang-senang.
"Tuan Dongfang...kalau bukan karena anda, pastilah aku sudah menyerah sejak lama mengurus sekte Wei." ucap Zi Lan.
"Aisss....jangan sungkan, lagipula aku juga merasakan hal sama dulu. Aku tak ingin mereka selalu memandang rendah kita yang berasal dari keluarga tak terpandang." ucap Dongfang.
Terdengar helaan nafas panjang dari Dongfang, "Huhh....lagipula kau memanglah sangat berkemampuan daripada Wei Lian dan juga ayah sombongnya itu."
Zi Lan hanya tersenyum mendengar itu, ia tak ingin berkomentar sembarang, bagaimanapun ia masih belum menyandang status sebagai kepala sekte seperti Dongfang.
Tiba-tiba saja Zhou Li datang dan membuat kaget Zi Lan dan Dongfang.
Tampak sekaki raut muka khawatir dari wajah Zhou Li.
"Tuan...maaf mengganggu anda, tapi situasi ini sangat mendesak." ucapnya.
"Ada apa ?." tanya Zi Lan.
Zhou Li pun melirik Dongfang sekilas, Zi Lan yang paham pun berpamitan kepada Dongfang untuk mendengar laporan dari bawahannya itu sebentar.
Begitu situasi aman, Zhou Li pun langsung melaporkan apa yang ia ketahui.
"Tuan...Nyonya Meixi dan juga ibunya sedang ditahan oleh Nyonya Wei Lian." ucap Zhou Li.
Zi Lan pun mengernyitkan dahinya, ia berpikir mana mungkin Wei Lian seberani itu.
Meskipun ia menyadari kalau Wei Lian sedikit berbeda akhir-akhir ini, namun mana mungkin istri pertamanya itu melakukan hal luar biasa.
"Apa maksudmu itu Zhou Li ?." tanya Zi Lan.
Zhou Li pun menjelaskan semua yang apa ia terima tadi kepada Zi Lan.
"Tuan, sebelumnya Nyonya Wei Lian dimasukkan kedalam penjara oleh Nyonya Meixi, entah karena apa. Tadi juga sempat terjadi kebakaran di penjara Tuan. Tapi Nyonya Wei Lian selamat."
"Tapi setelah itu Nyonya Wei Lian menuduh Nyonya Meixi dan mengurungnya." lanjut Zhou Li.
"Menuduh ?." tanya Zi Lan bingung.
"Iya Tuan, Nyonya Wei Lian mengatakan dihadapan banyak orang bahwa Nyonya Meixi yang membunuh putranya." jelas Zhou Li.
Zi Lan pun terkejut, ia haruslah cepat kembali ke sekte Wei.
"Bersiaplah Zhou Li, aku akan kembali ke sekte Wei sekarang juga." ucap Zi Lan.
Zi Lan pun segera berpamitan pada Dongfang, namun Dongfang mengatakan bahwa ia akan ikut ke sekte Wei.
"Dari wajahmu sepertinya terjadi hal serius di sekte Wei, aku akan ikut membantumu Zi Lan." ucapnya.
Mau tak mau Zi Lan pun menurutinya.
Toh ia juga berpikir ini adalah rencana yang cukup bagus.
Namun ia masihlah berpikir keras.
Apakah Wei Lian sudah mengetahui bahwa Xian'er meninggal bukan karena penyakitnya ?.
"Semoga ia tak menyakiti Zi Yu." batin Zi Lan.
Dengan cepat ia dan Dongfang memacu kuda mereka.
Walaupun udara begitu dingin dan angin bertiup kencang, ia tetaplah terus melanjutkan perjalanan.
Tak butuh waktu lama, ia sudahlah sampai di sekte Wei.
Para pelayan setia Meixi langsung menghampiri dirinya, dan mengadukan bagaimana keadaan Meixi saat ini.
"Tuan, terjadi hal mengerikan pada Nyonya Meixi."
"Cepat selamatkan dia Tuan."
"Dimana Wei Lian sekarang ?." tanya Zi Lan.
Lebih baik ia menemui Wei Lian dulu dan merayu istri pertamanya itu.
Dongfang pun terlihat mencerna apa yang terjadi di sekte Wei saat ini.
"Nyonya Wei Lian berada dikamarnya, Tuan Muda Zi Yu juga berada disana." jawab pelayan itu.
Dengan cepat Zi Lan langsung pergi berlari ke kamar Wei Lian.
"Lian'Er...Lian'er..." panggil Zi Lan.
Wanita yang ia panggil itu teenyata sedang menggendong putranya.
Ia bahkan tersenyum lebar seolah tak terjadi apa-apa.
"Lian'er..." panggil Zi Lan lemah.
"Kau akhirnya kembali suamiku."jawab Wei Lian.
Mata Wei Lian tampak memerah, akhirnya ia bisa mengadukan semua pada suaminya itu.
"Suamiku aku harus memberitahu sesuatu padamu." ucap Wei Lian.
Wei Lian pun menurunkan Zi Yu, ia meminta anak itu untuk berbaring sebentar.
"Zi Yu, aku dan ayahmu akan mengobrol sebentar, tak perlu takut karena aku berada di depan." ucap Wei Lian.
Ia pun langsung menarik Zi Lan keluar.
Di peluknya Zi Lan dengan sangat erat, tangisnya itu sudahlah tumpah.
"Suamiku...putra kita itu mati karena Meixi." ucap Wei Lian.