The Antagonist

The Antagonist
BAB 43



"Kak Ah Ran..sebenarnya Tuan Ye Han akan pergi kemana ? Sepertinya masalah ini sangat serius, sampai-sampai dia pergi begitu mendadak." tanya Xuan Yi dengan wajah cemberut.


Ia tentulah sangat sedih karena dengan kepergian Tuannya itu, ia tak dapat lagi makan daging dengan bebas.


Ah Ran pasti akan menyuruhnya untuk lebih berhemat.


"Aku tahu apa yang ada didalam otakmu itu Xuan Yi, selama Tuan berada disini kau selalu saja boros. Mulai sekarang kau hanya boleh makan daging setiap 3 hari sekali." ucap Ah Ran.


"Kak, aku ini manusia bukan kambing ataupun sapi. Makan rumput tak akan membuatku kenyang." gerutu Xuan Yi.


"Sayur, karena kau terus menggerutu seperti itu maka mulai sekarang kita hanya makan daging seminggu sekali." ucap Ah Ran.


"Cihhh...kalau begitu aku akan menyusul Tuan saja." ucap Xuan Yi.


Dipukulnya kepala juniornya itu dengan sangat keras.


"Kau hanya akan mempersulit Tuan saja." teriak Ah Ran.


Ah Ran sendiri sebenarnya tak tahu mengapa Tuannya itu pergi ke daerah barat.


"Aku akan pergi ke tempat tabib Chu, kau berjaga disini, jangan pergi kemana-mana sebelum aku kembali." ucap Ah Ran lalu beranjak pergi.


Di tempat lain, Wei Lian tengah mengganti memakai sebuah tudung untuk penyamarannya.


Ia dan Liuli akan menyusup keluar agar bisa berlatih kultivasi.


Semalam ia memeriksa buku yang diberikan oleh Xu Ye Han, apa yang dijelaskan oleh buku itu sedikit berbeda dengan apa yang diajarkan Xu Ye Han secara langsung.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, ayo kita pergi sekarang Nyonya." ajak Liuli.


"Ayo." jawab Wei Lian.


Melangkahlah mereka meninggalkan sekte Wei, dengan terburu-buru mereka menuju sebuah danau di bukit.


Danau dimana ia melepaskan putra tercintanya.


Wei Lian POV


Begitu tiba kulepas sepatu yang kupakai, aku berjalan mendekati danau itu.


Aku tahu Liuli sangat khawatir, beberapa kali aku melihat ia ingin meraih tanganku.


Aku tak akan melakukan hal bodoh, aku hanya ingin mencelupkan kakiku, lalu membasuh wajahku.


"Xian'er...aku pasti akan membuat ibumu bahagia." batin Jian Mei.


......................


Sesuai apa yang diajarkan oleh Xu Ye Han, ia haruslah tenang dan damai saat berlatih.Tentunya setiap mantra dan gerakan yang ia lakukan haruslah benar dan tepat.


Jikalau ia melakukan kesalahan pastilah itu akan berdampak buruk pada dirinya.


Biarpun aku terus-menerus mengulang gerakan yang sama tetaplah itu harus benar dan tepat.


"Nyonya, mengapa anda terus melatih gerakan yang sama ?." tanya Liuli yang terheran-heran.


"Gerakanku belum benar Liuli, kau teruslah berlatih, jangan pedulikan aku." ucap Wei Lian.


Liuli pun mengangguk, ia juga sangatlah bertekad untuk menjadi lebih kuat.


Keringat mengucur deras dari badan Wei Lian dan juga Liuli.


Liuli sendiri sudah kehabisan tenaganya, ia sudah bebaring diatas rerumputan, dihirupnya oksigen dengan sangat boros.


"Nyonya beristirahatlah sebentar." ucap Liuli.


Namun Wei Lian tetap tak menggubrisnya, ia terus menerus menari dengan pedang ditangannya.


Pedang yang dipegang Wei Lian adalah pedang pemberian dari Xu Ye Han.


Pedang itu sangatlah nyaman saat ia gunakan, seolah pedang itu memanglah dibuat untuk dirinya.


Brukk....


Wei Lian kini juga sudah ambruk diatas rerumputan, nafasnya terengah-engah, tenggorokannya juga kering.


Di pandanginya langit-langit yang tak berawan itu, cahaya matahari cukuplah terik meskipun sudah sore.


Dia berusaha menutupi sinar matahari dengan jemarinya itu.


"Liuli, ambilkan aku minum, setelah ini kita akan pergi untuk makan." ucap Wei Lian.


......................


Restoran


Begitu menemukan tempat duduk yang pas, Liuli langsung memanggil seorang pelayan.


"Aku ingin memasan dua mangkuk mie, 3 piring irisan daging, dan juga hidangkan beberapa potong ayam goreng juga." ucap Liuli.


Wei Lian yang mendengarnya tentu saja melongo, mereka hanya berdua, untuk apa memesan makanan sebanyak itu.


"Liuli..." panggil Wei Lian.


"Ya Nyonya ?." tanya Liuli dengan polosnya.


"Mengapa kau pesan sebanyak itu ?." tanya Wei Lian.


"Anda harus makan dengan banyak, lagipula aku juga sedikit lapar." jawab Liuli.


Wei Lian pun terkekeh kecil mendengarnya, sepertinya ia sudah menyiksa pelayan setianya itu.


Begitu makanan sudah disajikan mereka berdua langsung menyantapnya.


Mereka terus-menerus memuji rasa masakan itu, tanpa disadari seorang lelaki memperhatikan mereka dengan menelan ludahnya berkali-kali.


"Kenapa mereka makan dengan sangat menggoda begitu ? Membuatku lapar saja." tuturnya.


Ia pun berjalan mendekat ke arah Wei Lian dan Liuli berada, ia duduk tepat disamping meja mereka berdua.


Begitu pelayan tiba, ia hanya memesan segelas air putih saja.


Wei Lian dan Liuli tentu saja menyadari kalau lelaki itu terus memperhatikan mereka.


"Maaf Tuan, kenapa kau terus memperhatikan kami ?." tanya Liuli.


"Aku tak memperhatikan kalian." elak lelaki itu.


"Mengapa anda mengelak ? Jelas-jelas sedari tadi anda melihat ke arah kami." ucap Liuli.


Tiba-tiba saja suara perut terdengar oleh Wei Lian dan juga Liuli.


"Makanlah bersama kami." ucap Wei Lian.


Liuli tentu saja terkejut mendengarnya, lelaki ini adalah orang asing, bagaimana kalau dia menyelakai Nyonyanya yang sangat berharga ini.


"Anda tak berbohong kan Nona ?." tanya lelaki itu.


"Nyonya, laki-laki ini mencurigakan." cegah Liuli.


"Sudahlah, lagipula kita juga tak akan bisa menghabiskan ini semua." ucap Wei Lian.


Liuli pun langsung menoleh lada lelaki itu, "Makanlah dengan tenang dan jangan mengusik Nyonyaku."


Lelaki itu pun bergadung dengan mereka berdua, ia makan dengan sangat lahap dan menghabiskan sepiring daging dengan sangat cepat.


"Namaku Xuan Yi, siapa nama kalian berdua ?." tanyanya.


Ya, lelaki itu adalah Xuan Yi, junior dan juga bawahan dari Xu Ye Han.


"Xiao Wu." ucap Wei Lian.


"Ahh...jadi anda bernama Xiao Wu, terima kasih Nona Xiao Wu sudah mengajakku makan bersama." ucap Xuan Yi dengan sangat tulus.


"Kalau begitu siapa nama anda ?." tanya Xuan Yi sembari memandang Liuli.


"Liuli." jawab Liuli.


Xuan Yi kembali menoleh ke arah Wei Lian.


Berkali-kali Wei Lian membenarkan jubah yang ia pakai saat mengambil makanan.


Niat baiknya saat ingin membantu Wei Lian pun membuat salah paham dan membuatnya hampir terluka.


"Nona Xiao Wu, mengapa anda memakai jubah yang merepotkan ini saat makan, aku akan membantu anda...." ucap Xuan Yi sembari berusaha memegang jubah Wei Lian.


Sringgg....


Sebuah pedang dihunuskan ke arah leher Xuan Yi.


"A-aku hanya ingin membantunya saja." ucap Xuan Yi setelah.


"Terima kasih Tuan Muda, namun anda tak perlu repot-repot begitu." ucap Wei Lian.


Xuan Yi sangat terpesona begitu melihat wajah Wei Lian dengan sangat jelas.


Ya, sejak tadi Wei Lian memanglah terus menunduk.


"Anda sangat cantik Nona Xiao Wu." ucap Xuan Yi.