
Wei Lian pun tengah menari, ia sangat yakin kalau ia tak akan berpasangan dengan Xu Ye Han nantinya.
"Memanglah Xu Ye Han itu sangat kekanakan, bisa-bisanya ia percaya dengan mitos seperti ini." ucap Wei Lian.
Tak lama tarian pun akan segera berakhir dan Wei Lian akan menang.
Deg!
Lagu telah berhenti begitu juga dengan tariannya, kini Wei Lian sudah berada dipelukan Xu Ye Han.
Meskipun Ye Han memakai topeng, tentunya ia masih bisa mengenali pria itu, karena topeng yang mereka kenakan adalah topeng pasangan.
Dilihatnya lelaki itu tersenyum padanya, "Aku menang bukan ?." tanya Ye Han.
Wei Lian pun melepaskan pelukannya itu, "Ya, kali ini kau memang menang tapi aku tak percaya pada mitos seperti itu."
Xu Ye Han hanya tersenyum saja mendengar ucapan Wei Lian.
Ia menarik tangan Wei Lian untuk keluar dari kerumunan.
"Kau pasti lapar setelah menari cukup lama." ucap Ye Han.
Saat berjalan menuju ke sebuah kedai, Xu Ye Han sadar kalau ia tengah diikuti oleh seseorang.
"Keluarlah, jangan mengendap-endap seperti seekor tikus." teriak Ye Han.
Wei Lian tentunya terkejut karena ia sama sekali tak sadar tengah diikuti oleh seseorang. Dengan cepat ia langsung mendekat ke Xu Ye Han.
Karena geram orang itu tak kunjung keluar, Ye Han pun melempar sebuah serangan ke tempat orang itu bersembunyi.
"Sepertinya gossipnya, anda memang sangat hebat Tuan Muda Xu." ucap orang tersebut.
"Siapa kau ? Lepaskan penutup wajahmu itu!." ucap Ye Han.
"Sayangnya aku tak akan membuka penutup wajahku ini dan juga aku tak punya urusan denganmu." jawab lelaki itu.
Mendengar itu Xu Ye Han langsung berdiri didepan Wei Lian, dalam keheningan ia berpikir seberapa banyak musuh Wei Lian.
"Apa kau mengenalnya Lian'er ?." tanya Ye Han.
"Tentu saja aku tak mengenalnya." jawab Wei Lian.
"Katakan siapa kau ? Mengapa kau mengikuti Wei Lian ?." tanya Xu Ye Han.
Lelaki itu tak menjawab, ia justru menghunus pedang yang ia sembunyikan ke arah Xu Ye Han.
"Bukan urusanmu, serahkan saja Wei Lian padaku dan aku akan melepaskanmu." ucap lelaki itu.
"Rupanya kau sangat berani meminta kepunyaanku." ucap Ye Han.
Ye Han pun melemparkan kipas yang ia bawa ke arah lelaki itu.
Swooshhh......
Saat lelaki itu berusaha menghindari lemparan kipas itu Xu Ye Han sudah ada didepannya, gerakan Xu Ye Han benar-benar cepat.
"Lambat." ejek Xu Ye Han.
Xu Ye Han terus menyerang lelaki itu dengan gerakan yang amat cepat dan membuat lelaki itu kuwalahan.
Brukkk...
Lelaki itu terjatuh, sebelum ia semakin terluka karena kegilaan Xu Ye Han, ia memilih untuk kabur.
Ye Han sendiri tak berniat untuk mengejat lelaki bercadar itu, matanya kini kembali menatap Wei Lian yang sedang terpaku menatapnya.
"Kau tak apa ?." tanya Xu Ye Han.
Wei Lian pun akhirnya mengangguk, meskipun pernah melihat Xu Ye Han bertarung sebelumnya namun kali ini ia benar-benar terpukau melihatnya.
"Sepertinya sudah tak aman bagi kita untuk bersenang-senang." ucap Ye Han.
Wei Lian mengiyakan apa yang dikatakan oleh Xu Ye Han, padahal ia dan Ye Han mengenakan sebuah topeng tapi lelaki tadi tetap mengenali dirinya.
"Apa ada sesuatu di wajahku ?." tanya Wei Lian.
Ye Han pun menggeleng, "Tak ada." ucapnya.
"Lalu kenapa kau memandangiku seperti itu ?." tanya Wei Lian.
"Mungkin ini akan membuatmu tersinggung, sebenarnya seberapa banyak musuhmu Lian'er ?." tanya Xu Ye Han.
Jian Mei pun terdiam, ia mengingat-ingat kembali alur novel ini.
Seingatnya musuh terbesar bagi Wei Lian adalah Lu Meixi, apalagi setelah ia membunuh putranya yakni Yuan Zi Yu.
Namun kali ini ia belum membunuh Zi Yu dan juga tak berniat untuk membunuhnya, jadi mana mungkin ia mempunyai musuh yang sangat dendam terhadap dirinya.
"Aku hanya punya 1 musuh selama ini, itupun aku mengenalnya. Pria tadi aku tak mengenalnya sama sekali." ucap Wei Lian.
"Hufttt....kalau begitu aku semakin tak tahu mengapa banyak orang yang ingin membunuhmu Lian'er." jawab Ye Han.
Xu Ye Han pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong yang ia bawa.
"Apa kau akan memberikan jepit rambut itu pada seseorang Tuan Muda Xu ?." tanya Wei Lian penasaran.
"Memang aku akan memberikan jepit rambut ini pada seseorang." jawab Ye Han.
"Pasti orang itu sangat spesial." ucap Wei Lian.
Ye Han pun tersenyum mendengarnya, "Mengapa bisa kau berkata begitu Lian'er ?."
"Sudah jelas barang secantik itu pasti diberikan pada orang yang spesial." jawab Wei Lian.
"Benar, kau menebaknya dengan sangat tepat." ucap Ye Han.
Ye Han pun menyerahkan jepit rambut itu pada Wei Lian dan berhasil membuat wanita itu kebingungan.
"Aku memberikan ini padamu." ucap Ye Han.
"Tuan Muda Xu a-apa kau lupa aku sudah menikah ?." tanya Wei Lian yang sedang gugup.
"Aku tahu, anggaplah ini sebuah hadiah dari seorang teman yang sebentar lagi akan pergi." ucap Ye Han.
Ya, Wei Lian pun baru ingat kalau esok pagi Xu Ye Han akan pergi meninggalkan istana Wei karena pesta ulang tahun Zi Yu telah berakhir.
"Baru saja aku mendapat teman huhh...." batin Wei Lian.
Tiba-tiba saja Xu Ye Han memberikan sebuah catatan kepada Wei Lian.
"Sebuah puisi ?." tanya Wei Lian.
"Lian'er saat kau berada dalam kesulitan datanglah ke penginapan Luo, pergilah ke lantai dua dan berjalanlah ke arah kanan, diruangan terakhir kau akan bertemu kakak beradik, berikan catatan ini atau baca puisi ini didepan mereka lalu tunjukkan jepit rambut ini, mereka pasti akan membantumu." jelas Ye Han.
"Aku tak akan mengalami kesulitan dirumahku sendiri Tuan Muda Xu tapi baiklah aku akan menerimanya. Terima kasih akan niat baikmu." ucap Wei Lian.
Kini mereka berdua tengah sampai di kediaman Wei.
"Tuan Muda Xu terima kasih sudah menemaniku." ucap Wei Lian lalu menunduk pada Ye Han.
"Jangan lupa dengan apa yang kukatakan tadi Lian'er dan jangan sampai orang lain tahu meskipun itu suamimu sendiri." ucap Ye Han.
Wei Lian pun mengernyitkan dahinya, apa harus hal seperti ini ia rahasiakan dari suaminya sendiri ?.
"Berjanjilah padaku Lian'er ?." pinta Xu Ye Han.
"Baiklah aku akan merahasiakannya." jawab Wei Lian.
Setelah itu Wei Lian pun pergi menuju ke kediamannya meskipun masih bertanya-tanya mengapa ia harus merahasiakannya.
Begitu tiba didalam kamarnya, ia sangat terkejut karena Yuan Zi Lan berada disana dengan ekspresi marah.
Bahkan Liuli juga berada disana dengan ekspresi takut.