Say You Love Me

Say You Love Me
Bertemu teman lama



"Anita"


"Sudahlah biarkan dia pergi Fan, lagian kan aku ada disini"bujuk Sintya untuk menghentikan langkah Reyfan yang akan mengejar kepergian istrinya.


"Apa yang kau katakan?,dia istriku"Bergegas untuk keluar dari ruangan itu.


"Fan.. Fan, Reyfan"


Dia benar-benar tidak memperdulikan aku lagi sekarang!.


Reyfan juga merasa bersalah dan peduli dengan kehadiran Anita tadi.Terlebih melihatnya yang sudah membawakan makanan untuknya tadi. Ia juga tidak menyangka jika istrinya akan datang ke kantor.


Namun setelah ia keluar dari ruangan itu ia tidak melihat kehadiran istrinya sama sekali.


Kenapa Anita cepat sekali jalannya!


Kau tidak tahu ya Reyfan, bahkan Anita sampai berlari karena tidak ingin melihatmu tadi.


Kenapa aku harus menikah dengan seseorang yang sudah memiliki kekasih.


Sedangkan dia masih berhubungan dengan kekasihnya itu.


BRAKKK!


Keduanya sama-sama terlihat terburu-buru dan membuat mereka bertabrakan.


"Eh maaf,aku benar-benar tidak sengaja"


"Iya iya baiklah tidak papa,aku juga...Zayn!"Anita baru sadar ia bertabrakan dengan orang yang ia kenali.


Dia adalah teman sekolah Anita dulu.


Kepribadian Zayn sendiri terbilang baik dan ramah.


"Anita!, ya ampun aku kira siapa"Sambil tersenyum mengambil kotak makan itu yang jatuh untuk di kembalikan kenapa Anita.


Kau semakin cantik saja Anita,lama tidak bertemu.


"Terimakasih"


"E'.. sekali lagi aku minta maaf telah menabrak mu tadi"


"Iya ampun aku tidak kenapa-napa Zayn, ngomong-ngomong kok kamu ada di sini?"


"Biasalah ada urusan kerjaan.Ini untuk siapa?"Tanya Zayn iseng sambil menyodorkan kotak makannya itu.


"Bukan untuk siapa-siapa"


"Oh iya kebetulan aku belum makan siang,e'... maksudku mumpung kita ketemu kamu mau gak temenin aku makan siang,aku tidak terlalu tahu di mana restoran yang bagus di kota ini"


"Tapi aku.."


"Ohh jika kau ada urusan lain aku tidak memaksa kok,aku hanya bingung harus makan di mana"


"Iya sudah baiklah,aku akan menemanimu"


Keduanya pun pergi untuk mencari restoran terdekat dari kantor itu.


Sementara supir yang mengantar Anita tentunya sudah pulang terlebih dahulu ke rumah.


"Kau ingin makan sesuatu?"


"Tidak"


"kenapa kau tidak mau makan?"


"Aku hanya tidak berselera"


Zayn memanggil salah satu pelayan restoran itu dan memesan beberapa makanan pilihnya.


"Sebenarnya makanan itu untuk siapa si, kenapa hanya kau mainkan?"


Melihat Anita yang hanya menatap tempat bekal sambil memainkannya membuatnya geram. Ia juga terlihat melamun dan banyak pikiran.


"Hanya untuk yang mau saja!"


"Iya sudah aku mau,aku mau makanan itu!"


Karena perasaan Zayn yang memang menyukai Anita sejak lama membuatnya ingin melakukan apapun agar Anita terseyum.


Ia tampak murung dan cemberut saat ini.


Membusakannya tidak enak diri.


"Eh.. enggak, aku hanya bercanda,ini sungguh tidak enak"


"Itu masakan mu kan?"


"Iyah, tapi aku baru belajar memasak jadi mungkin ini sangatlah tidak enak"


"Mungkin kan belum pasti,sini berikan kepadaku!"


"Zayn, jangan di makan!, aku takut gak enak"


"Tapi aku ingin mencicipinya!"


"Aku tidak pernah memasak sebelumnya,dan kamu kan lagi pesen makanan, Zayn.. Zayn.."


Zayn tetap memakan masakan itu.


Waktu sudah semakin sore.


Anita dan Zayn berjalan-jalan sebentar keliling kota.


Kebetulan Zayn sedang mencari apartemen yang bagus untuknya tinggal di kota ini sementara.


Ia pun bertanya kepada Anita dan meminta bantuan untuk mencarikannya apartemen yang bagus dan ternama.


Setelah urusannya selesai dengan Anita,


Zayn langsung mengantar Anita pulang ke rumahnya.


"Loh kamu tinggal di sini sekarang?, bukanya rumahmu itu ada di.."


"Iyah, ini rumah baruku dan suamiku!"


"Suami!?" Sebenarnya Zayn merasa begitu kaget bercampur kecewa karena tidak percaya. Ia tidak tahu jika Anita sudah menikah.


Bahkan sepanjang perjalanan tadi Anita tidak mengatakan apapun tentang dirinya.


"Kapan kau menikah?, kenapa aku tidak tahu?"


"Kemarin. Aku memang baru menikah,lagian aku menikah karena di jodohkan dan itupun hanya ijab qobul saja, jadi tidak ada pesta besar di hari pernikahanku atupun mengundang banyak orang"


"Ohh.. gitu, berarti aku telat dong"


"Maksudnya?"


"E'...tidak, ngomong-ngomong masakanmu enak tadi,jika kau belum pernah memasak sebelumnya,ini sudah termasuk 80 %,kau hebat"


"Jangan memujiku,ini hanya satu masakan, bagaimana dengan masakan yang lain nanti jika keasinan. Ya sudah aku turun yah.."


"Iya baiklah, terimakasih untuk hari ini"


Anita melambaikan tangannya sambil masuk ke halaman rumahnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Dia sudah menikah?,aku kira masih ada kesempatan atas pertemuanku hari ini denganya, ternyata dia sudah menjadi milik orang"


Sedikit kecewa dengan keadaan, sebagian ia merasa senang karena telah di pertemukan dengan Anita setelah sekian lama.


Namun kabar ini benar-benar membuatnya merasa lesu.


Lalu pergi dan kembali mengemudikan mobil dengan cepat.


Terlihat suaminya yang sedang berdiri di depan pintu menunggunya sejak tadi.


"Oh baru pulang yah, darimana kamu?"


"Aku habis nemenin temen cari apartemen" Menjawab jujur dengan muka datar tanpa menatap suaminya sedikitpun.


"Nemenin temen,cari apartemen?, memang temanmu itu tidak memiliki kerjaan?"


"Tanyakan sendiri padanya"


Ketika Anita akan masuk ke dalam rumah, tangannya yang memegang kotak makan itu langsung di rebut oleh Reyfan.


"Di mana isinya?"


"Aku buang"


"Kenapa di buang?"


"Tidak penting,kau juga tidak mau makan kan"


"Aku bukanya tidak mau ataupun mau, tapi aku hanya ingin mencicipi masakanmu"


"Untuk apa?, lagian aku juga tidak bisa memasak, sudah pasti tidak enak"


Kenapa raut wajahnya kusut sekali, sepertinya dia sangat marah kepadaku soal tadi siang.


"Aku capek,aku mau istirahat"


"Anita,kau tidak ingin bertanya kepada suamimu kenapa aku pulang cepat?"


"Untuk apa?,kau ingin pamer karena kau habis berjalan-jalan dengan kekasihmu itu hah, tidak penting!"Teriakannya dari lantai atas menuju ke dalam kamar dengan sengit.


Apa dia benar-benar cemburu,tapi kenapa ini membuatku senang.


Reyfan juga berjalan menuju ke lantai atas untuk ke kamarnya.


Kali ini keduanya sudah berada di dalam kamar.


Anita masih terdiam menyisir rambutnya tanpa berpaling dari kaca.


"Anita,aku ingin berbicara denganmu"


"Bicaralah!"


"Aku harap kau mengerti tentang hubunganku dengan Sintya,aku sudah menjalin hubungan dengannya hampir 3 tahu,aku juga sangat mencintainya"


"Langsung ke inti saja!,tak usah bertele-tele dan maaf aku telah menyela bicaramu. Aku banyak kerjaan belum nyetrika dan belum membereskan bajumu,jadi bicaralah ke inti saja.."Mendengar kata Sintya saja sudah membuat Anita sakit kepala.


"Aku ingin kau tidak memberitahu tentang hubunganku dengan Sintya kepada Papa dan Mama"


"Kenapa?, bukankah kau ingin hidup denganya?, maka beri tahu Mama Papa kalau kau ingin menceraikan ku dan menikahlah dengannya!"


"Aku tidak menyuruhmu untuk berbicara tentang hal lain!,aku hanya sedang menyuruhmu untuk menutup mulut tentang hubunganku dengan Sintya kepada Papa dan Mama, bukan yang lain!,kau mengerti?!"