Say You Love Me

Say You Love Me
4. Makan Bersama



Rachel mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari. Kini pandangannya tertuju pada seorang pria berpenampilan casual di ujung sana. Pria itu juga menatapnya sambil melemparkan senyum. Rachel berjalan menghampirinya.


Rachel menarik kursi yang ada didepan pria itu lalu mendudukinya.


Hening…


Pria itu melambaikan tangan memanggil pelayan.


“Mau pesan apa, Tuan?” ucap pelayan itu yang baru saja menghampiri mereka.


Pria itu kembali menatap Rachel hingga netra mereka saling bertemu, “Kamu mau makan apa?” ucap pria itu.


“Gak perlu, Gua pesan minum aja,” lalu menatap pelayan yang berdiri disampingnya, “satu Orange Juice.”


“Kamu juga harus ikut makan,” bujuk pria itu.


“Tenanglah, biar saya yang traktir,” tambahnya.


Rachel mengalah, “Oke, satu Fish Katsu dengan Orange Juice.” Pelayan itu mencatat makanan pesanan Rachel.


“Kalau Anda Tuan?” pelayan itu kembali menatap Sang Pria.


“Samakan saja,” Jawabnya.


“Baiklah, silahkan tunggu pesanan kalian,” lalu melenggang pergi.


“Siapa nama kamu?” pria itu bertanya pada Rachel.


“Rachel”


“0h,” lalu menjulurkan tanganya, kemudian dibalas oleh Rachel. Mereka berjabat tangan, “Perkenalkan, namaku Dito.” Rachel ber-oh tanpa bersuara.


Tak lama kemudian, pelayan itu datang membawa pesanan mereka. “Silahkan dinikmati, Tuan, Nona.” Lalu meninggalkan mereka.


Rachel terdiam menatap makanan didepannya.


“Makanlah,” ucap Dito


“Jadi kapan kita bahas soal ganti rugi itu?” tanya Rachel.


“Makanlah dulu, setelah ini kita bahas,” balas pria didepannya


Rachel dan Dito menyantap makanannya masing-masing. Disela-sela mereka makan, mereka berbincang, sekedar menanyakan makan favorit, warna kesukaan, dll. Ditto yang banyak tanya, sedangkan Rachel hanya menjawab pertanyaan dari pria itu.


“Jadi berapa biaya ganti rugi yang harus gue bayar?”sambil menatap pria di depannya.


“Kamu tidak perlu membayarnya dengan uangmu, kamu cukup jalan denganku.” sejak awal pertemuan mereka, gadis itu sudah menarik perhatiannya. Apalagi sejak Dito tau kalau gadis di didepannya itu adalah Mahasiswi Kedokteran yang cukup popular di Kampusnya. Tentu Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


“Hah?! Maksudnya?”Rachel terkejut. Kini ia memandang serius netra pria itu, menebak-nebak maksud dan tujuan dari perkataannya barusan.


“Kita cukup jalani hubungan, dalam artian PDKT-an. Kalau cocok kita lanjut ke yang lebih serius lagi.”


Sejenak pikiran Rachel melayang-layang ke perjodohan Papahnya. Bagaimana kalau Ia memanfaatkan situasi ini?! Tidak salah ‘kan?! Sampai kapan pun Rachel tidak akan menerima perjodohan dari Papahnya, Wisnu. Bagaimana kalau laki-laki yang dijodohkan dengannya jauh dari kata ideal, dalam artian jauh dari kriteria pria idamannya. Kalau dilihat-lihat pria di depan Rachel lumayan juga. Cukup lama Rachel bergelut dengan pikirannya, menimang-nimang apa keputusannya ini adalah jalan terbaik atau justru sebaliknya.


“Bagaimana? Apa kamu setuju?” Dito membuyarkan lamunan Rachel.


“Kasih gue waktu,” ucapnya.


“Kalau gitu gua pamit pulang,” ujar Rachel bangkit dari kursinya.


“Aku antar kamu pulang.” Lalu ikut bangkit dari kursinya.


Saat ini mereka sudah berada didalam mobil Dito.


Hening...


Tidak ada perbincangan. Rachel sibuk berkutat dengan ponselnya, menjelajahi beberapa jejaring media sosialnya. Sedangkan Dito memandang lurus kedepan, pandangannya menyusuri jalanan Ibu Kota. Kedua tangannya memegang kemudi mobil, memutar-mutarkannya.


Tingg...


Ponsel Dito berbunyi, satu pesan masuk. Ia lalu melirik ponselnya yang diletakkan di Dashboard mobil.


[“Kmu dmna? Aku ada di Aprtmn mu.”]


[“Cepat kesini.”]


Dito mengambil ponselnya kemudian mengetikkan pesan.


[“ok, bntr lg aku smpai,”] balasnya.


Kemudian Dito melirik wanita disampingnya. “Kita ke Apartemen aku dulu,” ucapnya. Kebetulan perjalan pulang ke rumah Rachel satu arah dengan Apartemen nya.


Kini mereka sudah sampai di koridor, dari kejauhan nampak seorang pria yang sedang menunggu, sambil duduk di kursi dekat pintu Apartemen Dito. Mereka mengampiri pria itu.