
“Gak ada apa-apa,” sangkal Rachel.
“Ini satenya, Neng,” ucap Penjual Sate tersebut lalu meletakkan dua porsi sate di depan Rachel dan Bima.
“Bang, sekalian pesan buburnya dua porsi.” Sambil menaikkan dua jarinya membentuk angka Romawi II.
“Siap, Neng. Tunggu bentar.” Lalu melenggang pergi.
Sambil menunggu Penjual tersebut membawakan buburnya, Rachel mengambil botol saus cabe lalu menuangkannya di sate miliknya dan juga milik Bima. Untuk milik Bima, Rachel menumpahkan saus 3kali lebih banyak dari miliknya.
Mampuss!! Gua bakal bikin lo mangap-mangap sekalian. Sambil menunjukan sedikit seringaian di wajahnya.
“Eh … punyaku kok dikasih saus juga?” ucap Bima.
“Kenapa? Lo takut kepedesan? Ck,” tantangnya.
Bima tak lagi membalas ucapan wanita itu.
Tak berselang lama akhirnya dua mangkuk bubur pesanan Rachel datang juga.
Wanita itu langsung menyantap bubur miliknya. Sejenak Rachel melirik pria disampingnya, ia hanya menatap makanan di depannya.
“Kenapa diliatin doang? Ayo makan!”
“Ini bubur apa?” tanya Bima.
“Mana Gua tau, ‘kan bukan Gua yang buat,” ucapnya.
“Ayo makan! Apa mau Gua suapin?!”
Bima menyantap bubur miliknya, walau sedikit ragu. Rachel yang sudah tidak sabar melihat Bima mangap-mangap kepedasan langsung mengambil satu tusuk sate milik pria itu lalu menyodorkannya di mulut Bima.
“Buka mulutmu!” perintah Rachel.
Rachel memasukan sate tersebut ke mulut Bima.
“Nih, makan sendiri, jangan keenakan.” Sambil menyodorkan sisa sate suapannya tadi ke tangan Bima.
Sedangkan muka Bima sudah pucat pasi, kelihatan sedang menahan sesuatu. Bima memegang perutnya.
Huwek..
Huwek..
Bima memuntahkan isi perutnya.
“Kamu kenapa?” Rachel cemas. Lalu memijit-mijit lehernya.
“Kamu tidak apa-apa kan?” ya ampun, udah jelas-jelas dianya kenapa-napa masih pake nanya. Rutuknya dalam hati.
Rachel menuangkan air putih ke gelas. “Ini minum.” Bima mengambil gelas
tersebut lalu meminumnya. Rasa mualnya sudah sedikit berkurang.
Bima kembali memegangi perutnya.
Huwek..
Huwek..
Rachel mulai panik. “Bang, ada minuman jahenya?” teriak Rachel ke Abang penjual tersebut.
“Maaf, Neng. Tidak ada.”
Keringat di wajah Bima mengucur deras. Wajanya kini sudah memucat, seakan tidak ada darah yang mengalirinya. Bima masih terus memegangi perutnya. Perih. Semua isi perutnya telah ia muntahkan. Tubuhnya kini melemas tak bertenaga.
Rachel menebak-nebak gejala apa yang dialami Bima. Rasanya tidak mungkin jika hanya karna kepedasan sampai separah ini. “Apa kamu ada alergi?” tanyanya sambil memijat pelipis pria itu.
“U-udang.” Suara Bima terdengar parau.
Rachel menatap mangkuk bubur milik Bima. Kemudian mengalihkan netranya ke Abang penjual.
“Bang, buburnya ada dicampur udang gak,” tanyanya.
“Iya, Neng. Buburnya pake udang,” jawabnya.
Ya ampun…
Rachel beranjak dari duduknya menuju ke Abang penjual sate tersebut. Rachel memberikan beberapa lembar uang ke penjual itu. “Maaf, ya, Bang. bikin keributan disini.”
“Tidak apa-apa Neng.” Wanita itu kembali menuju ke tempat Bima. Ia kemudian membopong tubuh pria tersebut, berjalan keluar dari area Taman Kota. Saat sampai di sisi jalan Rachel kemudian menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Rachel menggiring tubuh Bima dengan sekuat tenaga ke mobil taksi tersebut. Saat ini tujuannya adalah ke rumahnya, karna ia rasa akan lebih aman jika dibawa ke rumahnya saja. Keringat dingin tak hentinya mengucur di sekujur kulit Bima. Kini keadaanya setengah sadar sampai tak bisa berkomentar apa yang dilakukan gadis itu kepadanya.
Rachel memegangi kening Bima.
Ya ampun, sampe demam. Jangan sampe besok muncul berita seorang Rachel keluarga Pradipta ketahuan ngeracunin anak orang. Gak … gak … jangan sampai!! Gumamnya. Rachel semakin panik mengetahui keadaan pria itu kian memparah.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Rachel sampai juga di kediaman Pradipta. Wanita itu kembali membopong tubuh Bima memasuki kediaman tersebut.
Bik Sum yang sedang berada di ruang tengah, sedang mengelap perabot rumah. Betapa terkejutnya mendapati anak majikannya itu membawa masuk seorang pria, yang pasti tidak ia kenal. Wanita paruh baya itu menghampiri mereka.
“Ada yang bisa saya bantu, Non?” tanyanya kembali memandang pria asing itu.
“Tolong bantu saya bawa Dia ke kamar tamu,” pinta wanita itu.
Bik Sum membantu Rachel membawa pria itu ke kamar tamu. Sesampainya mereka di kamar tamu, Rachel langsung membaringkan tubuh Bima diatas ranjang.
“Bik, tolong bikini jahe hangat. Sama sekalian kompresan air hangat.”
“Baik, Non.” Wanita paruh baya itu langsung melenggang pergi menuju dapur. Sedangkan Rachel menuju lantai atas, ke kamarnya. Meninggalkan Bima sendiri. Ia mengambil alat praktek kedokteran yang biasa ia pakai. Tak berselang lama Rachel kembali membawa alat—stetoskop dan alat pemeriksa suhu tubuh—yang akan dia pakaikan ke Bima. Saat sampai di ambang pintu Rachel mendapati Bima yang sedang susah payah menegakkan tubuhnya. Namun, ia masih tak cukup bertenaga untuk itu, akhirnya ia jatuh juga ke lantai.
Rachel segera menghampiri pria itu, kemudian menidurkannya balik di ranjang.
“Aku mau pulang,” Bima membuka suara.
“Eh, jangan kemana-mana dulu, lo masih sakit,” tolak Rachel.
*******
Halo, Reader..
jika kalian suka ceritanya jangan lupa tekan jompolnya(👍) dan juga berikan komentar ❤
Ehh, sekalian dukung Author dengan cara memberikan vote, yaa.
selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan🙏