
"Tapi dia baik-baik saja kan Dok?". Secuek-cueknya Ferland ia masih memiliki rasa peduli kepada orang lain sekalipun ia merasa kesal dengan wanita itu.
"Sebenarnya kondisinya lumayan parah,jika lebih dari 3 jam ia tidak sadar-sadar maka perlu pendonor darah cepat agar ia bisa tertolong"
"Ma-maksudnya Dok?"
"Ia mengalami kehilangan banyak darah waktu kecelakaan,jadi ia memerlukan pendonor darah cepat untuk pemulihan dari kondisinya yang kritis. Golongan darahnya A,kami sudah berusaha untuk mencari pendonor tapi kita memang sedang kehabisan pendonor darah A"
"What!. apa yang harus kita lakukan sekarang Fan?"
"Golongan darahmu apa?"
"O. Iya O tidak mungkin aku yang akan mendonorkannya"
"Golongan darah ku juga O tidak mungkin aku juga yang mendonorkannya"
"Wah benarkah?. Berarti jika sesuatu terjadi padamu aku tidak perlu pusing-pusing untuk mencari pendonor darah Tuan muda, karena kita memiliki golongan darah yang sama"
"Heh!. Kau mendo'akan sesuatu terjadi kepadaku Hah?"
"Oops sorry Tuan muda,aku hanya bercanda"
"Sebenarnya panggilan mu kepada ku itu yang benar yang mana?"
"Terserah aku Fan,kadang mulutku spontan dan lebih enak memanggilmu Tuan muda hehe"
"Ahh.. terserah kau saja"Reyfan belum bisa berpikir jernih tentang ini. Pikirannya bahkan ketinggalan di kantor saking banyaknya kerjaan. "Begini saja Dok tetep berusaha untuk mencari pendonor darahnya, kami juga akan berusaha untuk mencari pendonor darah secepatnya"
"Baiklah, permisi"
Urusan mereka sepertinya sangat rumit.
Waktu juga sudah semakin sore bahkan hampir gelap. Reyfan dari tadi masih berada di lingkungan rumah sakit untuk menemani Ferland sekaligus mengurus administrasi rumah sakit Sintya.
"Aduh.., aku lupa bawa power bank"
Ponsel Reyfan tampak lowbat, ia pun memutuskan untuk kembali ke ruangan itu dan mengisi daya baterai ponselnya terlebih dahulu sebelum kembali ke ruangan resepsionis rumah sakit.
"Kau bawa charger kan?"
"Bawa dong Fan"
"Tolong cas..!"Memberikan ponselnya dengan terburu-buru untuk kembali ke ruangan resepsionis rumah sakit.
"Siap Tuan muda"
Reyfan tampak menggelengkan kepalanya karena heran dengan panggilan Ferland yang semaunya itu.
Reyfan dengan cepat menghilang dari ruangan itu lagi.
Lama ia mengurus administrasi rumah sakit Sintya. Ini juga rumah sakit terbaik dan termahal yang ada di kota itu, membuat Reyfan mengulurkan banyak dana untuk pengobatan tentunya.
******
Reyfan sama sekali tidak mengabari ku hari ini, segitu sibuknya dia ya sampai-sampai tidak sempat mengabari ku.
Anita sedang menunggu kabar dari Reyfan sejak tadi,ia berharap Reyfan lah yang mengirimkan pesan terlebih dahulu padanya.
Untuk menghilangkan rasa bosannya Anita memilih untuk menonton TV, namun begitu kagetnya dia setelah mengetahui berita tentang kecelakaan di depan gedung kantor milik Reyfan.
"Siapa yang kecelakaan?. Apa yang terjadi?" Anita panik. Pikirannya sudah kemana-mana tentang Reyfan,terlebih seharian ia sama sekali belum mengirimkan pesan padanya.
Anita bahkan mencoba untuk menghubungi Ferland juga namun ia sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Ada apa ini, kenapa Ferland juga tidak bisa di hubungi?"
*****
"Ferland aku harus kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan"
"Tenang saja Tuan muda,tak usah memikirkan hal ini, akan aku urus semuanya dengan baik"
"Kau sudah menghubungi keluarganya?"
"Sudah tapi semuanya sedang berada di la luar negeri,mungkin mereka baru bisa datang kemari besok"
"Reyfan"
Terdengar suara lirih dari mulut Sintya. Sepertinya sejak tadi Sintya mulai siuman dan dapat mendengar suara Reyfan yang berbicara.
Akhir-akhir ini Sintya memang selalu kepikiran akan Reyfan. Bahkan hampir depresi karena berat untuk melupakannya.
"Kau dengar itu?"
"Sepertinya dia memanggilmu Fan"
"Reyfan Reyfan"
"Dok Dok apa dia sadar kenapa dia memanggil-manggil mamaku terus?"Reyfan yang semula akan pergi jadi penasaran dengan kondisi Sintya.
"Anda yang bernama Reyfan?"
"Iya saya"
"Sepertinya dia sangat merindukanmu, bahkan rintihannya terus memanggil namamu,apa kalian berdua dekat?"
"Lumayan.."
Drama apa lagi ini,aku benar-benar tidak percaya dengan wanita ini. Tuan muda aku harap ini bukanlah pemainannya.
"Tunggu sebentar. Suster.."Dokter meminta bantuan kepada salah satu susternya untuk membantu memeriksanya.
Dokter itu juga terlihat menggunakan alat pacu jantung ketika melihat kondisi pasien yang semakin ngedrop tiba-tiba.
Ya Tuhan apa yang terjadi padanya.
"Sepertinya kondisinya saat ini sangat memburuk"
"Tunggu sebentar aku cek ponselku,siapa tahu ada informasi tentang pendonor darahnya"
"Reyfan"Tiba-tiba ada seseorang yang sudah masuk ke ruangan itu sambil menatap Reyfan kesal karena melihatnya memegang ponsel.
"Anita"
Bagaimana dia bisa kesini?
"Aku menelpon mu sejak tadi kenapa tidak di angkat, sedangkan kau sekarang sedang memegang ponsel kan"
"Maaf sayang aku baru saja melihat beberapa panggilan darimu. Ponselku sejak tadi di cas"
Anita hanya bermuka masam mendengar jawaban Reyfan.
Melihat wanita yang terbaring itu membuat Anita begitu penasaran dan berjalan mendekati ranjang,terlebih raut wajahnya yang terasa tak asing lagi baginya.
"Pantaslah kau tidak mengangkat panggilanku, jadi ini yang sedang kau temani"
"Anita aku mohon jangan salah paham akan ini,ini benar-benar murni kecelakaan"Reyfan tahu istrinya sangat membenci mantannya itu,ia hanya bisa memohon dan mencoba untuk membuatnya mengerti.
"Apakah tidak ada yang bisa mengurus masalah ini selain dirimu?. Kau itu pimpinan perusahaan bagaimana dengan mudahnya kau keluar untuk mengurusi urusan lain dari kantor?"
"Anita ini bukan soal siapa yang harus mengurus tapi ini keadaan darurat, keluarganya tidak ada disini mereka semua berada di luar negeri"
"Bukan urusanku!. Bilang saja karena kau begitu peduli dan sangat mencintainya. Aku muak ada di sini, sebaiknya aku pergi saja"
"Anita"
Di saat ribut-ributnya mereka berdua alat pendeteksi tubuh Sintya berbunyi kencang tanpa henti (EKG)
Membuat mereka semua panik. Ferland bergegas memanggil dokter sampai keluar ruangan.
Dengan cepat Sintya langsung di tangani oleh dokter, Anita yang semula akan pergi pun merasa simpati dengan keadaan tersebut.
"Kalian sudah menemukan pendonornya?. Pihak rumah sakit sudah berusaha keras untuk mencarinya tetapi kami tetap belum menemukannya. Sungguh kondisinya sangat buruk bahkan kritis"
Ferland dan Reyfan tampak menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Pendonor apa maksudnya Dok?"
"Darah Nona. Kami sedang kehabisan pendonor darah A untuknya,ia sangat membutuhkannya"
"Aku yang akan mendonorkannya"
Reyfan dan Edward tampak terbelalak tak percaya mendengar ucapan Anita.
"Golongan darahnya A Tuan muda?"
"Aku juga tidak tahu Land. Mungkin, makannya ia mau mendonorkannya..."
Inilah salah satu penyebab nona selalu ngambek padamu Fan,kau kurang memperhatikan istrimu.
Selang beberapa waktu urusan pendonoran darah telah selesai. Kondisi Sintya terlihat lebih baik daripada tadi berkat Anita.
Setelah itu Anita juga keluar dari ruangan itu begitu saja tanpa menoleh ke arah Reyfan. Ia terlihat masih marah padanya.
"Anita tunggu dulu aku mau bicara. Anita"
Tidak di pedulikan oleh Anita,ia bahkan terus berjalan dengan cepat untuk pergi.
Tapi kenapa semakin cepat jalannya semakin membuatnya merasa pusing dan kleyengan. Bahkan pandangan semakin terasa buram dan Anita pun pingsan di lorong rumah sakit. Tentunya terlihat sekali Reyfan yang begitu panik dan khawatir akan istrinya yang pingsan.