Say You Love Me

Say You Love Me
1. Prolog (Revisi)



POV Rachel


“Hai Cantik,” aku menatap seorang pria menghampiriku, kulitnya yang agak mengendur tanda usianya jauh diatasku. Penglihatanku agak meremang-remang, tapi dapat dipastikan pria itu menatapku penuh nafsu. Aku sudah terbiasa mendapat penyambutan seperti ini dari pria hidung belang. Penampilanku yang agak terbuka, siapa yang tidak tergoda melihatku? Jangan salah, aku bukan wanita malam ataupun murahan, sampai sekarang aku masih berlabel gadis, kok.


“Main bareng yuk!” ucap pria itu sambil menyentil daguku.


“Jangan berani lo sentuh gua!”


“Galak juga lu..”


“Emang, kenapa? Jauh-jauh lu sana, dasar Tua Bangka!”


“Ayolah, apa kau tidak ingin merasakan barangku? Kujamin kau akan histeris kenikmatan.”


Nyatanya tiga gelas minuman ber-alcohol sudah cukup untuk mengalihkan kesadaranku. Tapi aku masih cukup sadar untuk menolak godaan pria itu. Mana mau aku sama yang keriputan, bagaimana kalau dia punya penyakit penular? Eww amit-amit! Ok, lebih baik aku cabut sebelum terjadi yang 'itu-itu'.


“Mau kemana kau.. saya belum selesai denganmu, Heii!” ucap pria itu setengah teriak saat Aku melenggang pergi dari Club Malam itu.


Saat tiba dibibir jalan Aku mengumpat habis-habisan. Ponsel yang Aku bawa kini kehabisan daya dan tak satupun kendaraan/taksi yang melintasi jalan. Tanpa aba-aba pandanganku semakin meremang-remang sebelum menjadi gelap dan…


Bugh..


Saat Aku sudah cukup kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhku sendiri, sebelum menyentuh tanah. Sebuah lengan kokoh melingkar di tubuhku dan kini aku telah lunglai dalam pelukan pria itu sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri.


POV END.


____________________________


Malam berganti pagi. Waktu dimana para manusia menyelesaikan istirahatnya dan kembali beraktivitas seperti biasa. Didalam sebuah kamar seorang gadis yang terlelap kini mengerjapkan mata akibat silaunya pantulan sinar matahari dari sebuah jendela minimalis berukuran [60×80]


Ia merasakan sakit pada kepalanya, efek alcohol semalam. Tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ia kembali menutup mata sambil berteriak, “Bik Sum, tolong ambilin aku air!” Hanya bila sedang berada di rumah Rachel berbicara formal


Beberapa menit kemudian…


Ceklek, pintu kamar terbuka dari luar


“Kamu sudah bangun? Ini airnya,” kata seorang pria sambil meletakan air di nakas samping kasur.


Masih diposisi yang sama. Tunggu dulu, aku tidak mengenal suara itu. Pikir Rachel


Bebrapa saat Rachel mengerjapkan matanya dan kemudian mencari sosok yang baru masuk ke kamar,


“lo siapa?”


“Dan gue dimana? Ini bukan kamar gue!” Racel mulai panik saat ini ia mulai menyadari bahwa ia tidur dikamar yang asing menurutnya.


“Apa yang lo lakuin ke gue? Jangan-jangan lo habis perk*sa gue, iya?” sejenak Racel melirik tubuhnya, hufhh, bajunya masih utuh dan ia juga tidak merasakan apapun, itu artinya ia tidak terjadi apapun semalam.


“Hei Nona, aku pria baik-baik. Semalam aku menemukanmu pingsang dipinggir jalan jadi aku menolongmu. Aku terpaksa membawamu kesini karna aku tidak tau kemana aku akan membawamu pulang. Kau tidak membawa kartu pengenal, lain kali bawalah tanda pengenalmu . gadis sepertimu tidak mungkin tidak memilikinya, ‘kan?!” ucap Bima Panjang lebar sambil sedikit menaikan intonasi pada kalimat terakhir.


Rachel berfikir beberapa saat. Kemarin sore ia sempat mengalami kecelakan sampai-sampai harus menyerahkan SIM dan KTP-nya sebagai jaminan sebab dalam insiden itu ialah yang bersalah. Mobilnya pun harus di bawa kebengkel untuk sementara waktu.. iapun ingat kejadian waktu di Club Malam itu.


“Hei, apa kau telah mengingatnya? Dan siapa namamu?”


Tanpa menjawab pertanyaan Bima, Rachel mengambil tasnya kemudian melenggang pergi. Saat tangannya hendak menyentuh handle pintu kamar, sebuah tangan menahan lengannya.


“lepas!!” pekiknya.


“kau mau kemana?” tanya Bima tanpa melepas cengkraman tengannya,


“kau belum menjawabku, siapa namamu?”


“Rachel, nama gue Rachel. Lepasin tangan lo, gue mau pergi.” Ucapnya ketus.


“Baiklah,” kata bima sambil melepaskan cengkramannya. “Tapi sebelum kau pergi makanlah dulu. Kau pasti lapar, kan?”


Sebenarnya saat ini Rachel memang lapar, sejak kemarin ia tidak makan apapun, tapi ia terlalu gensi untuk menerima tawaran pria itu, “gak. Gue mau pulang..”


“Dimana rumahmu? Biar kuantar kau pulang,”


“Gue bisa pulang sendiri” elak Rachel


Rachel melanjutkan langkahnya diikuti oleh Bima, namun saat sampai didepan pintu utama, Rachel menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Bima.


“Bay the way … makasih udah nolongin gua,” ucap Rachel sambil mengambil uang ratusan beberapa lembar dalam tasnya.


“buat lu..”sambil menyodorkan uang itu


“Tidak perlu,”


“kenapa? Apa kurang?”


“Aku iklas membantumu”


“Setelah ini, bolehkah kita berteman?” ucap Bima


Rachel menaikkan jari kelingkingnya. Sedangkan Bima masih mematung menatap heran tingkah gadis itu. Merasa tidak ada respon, Rachel berinisiatif menarik tangan Bima kemudian menyatukan jari kelingking mereka, “sekarang kita berteman” ucap Rachel dibalas senyuman oleh Bima.