Say You Love Me

Say You Love Me
2. Menikah?



“Dari mana saja kamu? kenapa sepagi ini baru pulang?”


“…”


“Kamu ini satu-satunya anak gadis Papah, bagaimana kalau ada yang merusak kamu diluar sana..”


“…”


“Setiap hari Papah harus mengingatkan kamu mengenai hal yang sama, ubah sikap buruk kamu! Sepertinya tidak ada cara lain selain menikahkan kamu—” belum sempat Wisnu menyelesaikan kalimatnya. Kini Rachel yang bersuara.


“Rachel tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan Papah.” Rachel melenggang pergi. Melangkahkan kaki menaiki anak tangga, menuju kamarnya. Kalau sampai papah tetep maksa gua buat nikah, lihat aja gua bakal kabur dari rumah. Rutuknya dalam hati.


“Rachel!! Papah belum selesai bicara denganmu” gadis itu tak bergeming sedikitpun. Masih melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga


Saat sampai dikamarnya, Rachel menutup pintu kamar kemudian menguncinya dari dalam. Ia melemparkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya, dengan posisi telentang menatap langit-langit kamarnya.


Sejak ditinggal Almira—Mamahnya Rachel—sedari kecil, Rachel menjadi tertutup untuk mengungkapkan isi hatinya kepada siapapun termasuk kepada Wisnu. Ia hanya akan bicara kepada Papahnya bila ada keperluan, tidak untuk sekedar berbasa-basi. Tapi tidak untuk Anita, sahabat Rachel sejak duduk di bangku SMA hinggah kuliah kini, Rachel masih Bersama dengan sahabatnya itu. Rachel sendiri sudah menganggap Anita sebagai saudaranya sendiri, mengingat ia adalah anak tunggal dari keluarga Pradipta sesuai dengan gelar nama yang diberikan padanya. Rachel Friona Pradipta. Setiap kali Rachel mempunyai masalah ia akan bercerita pada sahabatnya Anita berharap mendapat penyelesaian darinya.


Rachel bangkit dari tidurnya. Mengambil ponsel yang ada di tasnya. Tujuannya saat ini adalah untuk menelpon sahabatnya Anita, berharap dengan mencurahkan isi hatinya dapat mengurangi rasa gundahnya. Rachel lupa kalau ponselnya kini masih dalam keadaan kehabisan daya. Ia kemudian mengambil powerbank yang ada di laci nakasnya, kemudian menghubungkan kabel USB itu ke ponselnya. Mending gua mandi dulu aja deh, biar seger.. Pikirnya. Rachel bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya.


Kini Rachel telah selesai mandi dan mengenakan celana Jeans ketat berwarna abu-abu dengan atasan Blouse berwarna biru dongker. Tak lupa ia mengoleskan bedak tipis di beberapa area wajahnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai. Rencana Rachel akan pergi menemui Anita.


Rachel mengambil ponselnya kemudian melepaskan kabel USB dari powerbank miliknya. Ia menekan tombol power beberapa saat hinggah ponselnya aktif. Kemudian menekan aplikasi chat berwarna hijau bernama WhatsApp. Ada banyak pesan masuk yang sebagian berasal dari nomor tak dikenal, tidak lain adalah Mahasiswa kampus yang berniat PDKT pada Rachel. Rachel mengabaikan pesan itu, kini ia tengah fokus mencari kontak sahabatnya yang ia beri nama ‘My Luv❤’ pada daftar kontaknya. Buset 10 panggilan tak terjawab. Jangan-jangan tuh Bocah mau protes lagi, kemarin sore kan gua tinggalin pas kencan ama pacarnya. Heran gua, kena pelet apa tuh cowo ampe kepincut sama tuh bocah. Racau Rachel.


Rachel kemudian menekan tombol panggilan,


Tut.. tut.. Pangilan terhubung


“Akhirnya ponsel lo aktif juga, gua sampe uring-uringan nyariin elu tauk!” saut seseorang diseberang sana.


“…”


“katanya kemarin elu kecelakaan, ya? Ya ampun Ra,”


“…”


“lo gak apa-apa, kan? Gak ada yang hilang, kan?”


“Bisa diem dulu gak?! lu sekarang di Apartemen lu kan? Gue mau kesana.”


“Gua masih di Apartemen, Ra. Lu kesini aja, gua tungguin”


“Yaudah, diem baek-baek disana, jangan kemana-mana”


“Ra, lo gak ke—” belum selesai Anita berbicara. Rachel memutuskan panggilannya.


________________________________


“Jadi kamu bakal magang di perusahaan mana, Bim?”


“Bramajaya Group, Aku juga udah siapin formulirnya, tinggal dikirim doang”


“kalo gak yakin, mah, gak mungkin dong niat magang disitu.”


“Rupanya kamu udah siapin mulai dari lahir hingga batin, Aku aja belum dapet tempat magang.”


“Kamunya aja kebanyakan leye-leye. Nanti aku bantu cariin”


“Ehehe. Kita ke kantin, yuk, Bim”


“Gak lama lagi kan ada kelas, Dit”


“Aku belum sarapan dari tadi. Ayolah, bentar doang. Kelasnya ‘kan mulai sejam lagi” Dito beralasan.


“Yaudah, ayo.” Bima mengalah.


Ditempat lain, Rachel sudah berada di depan pintu Apartemen. Beberapa kali Rachel memencet bel tapi belum ada sautan dari dalam. Ia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi sahabatnya itu. Panggilan terhubung tapi Anita belum juga mengangkatnya. Ya ampun Nita, lo ngapain sih. Rutuk Rachel.


Ceklek … pintu dibuka seorang wanita dari dalam. Tanpa aba-aba wanita itu langsung menghambur memeluk Rachel.


“Lo gak papa, kan, Ra?”


“Gu aga papa. Udah, lepasin pelukan lo, sesek gua.”


“Eh, iya. Ayo masuk!”


Sesampainya mereka di ruang tengah. Rachel langsung mengehempaskan bokongnya di sofa depan TV.


“Jadi gimana? Lo kemarin kemana aja? Katanya kemarin lo gak pulang ke rumah” Anita membuka suara.


“Ta, lo punya makanan gak? gua laper nih,” ucap Rachel sambil mengusap perutnya.


“Lo kayak orang miskin aja. Emang di rumah lo gak ada makanan apa?!”


“Gua males makan di rumah”


“Yaudah lo tunggu disini” ucap Anita lalu melenggang pergi ke dapur. Sambil menunggu, Rachel membuka aplikasi chat di ponselnya. ia menggeser naik-turun daftar chatnya, hingga netranya tertuju pada kontak yang tak ia kenal, ada beberapa pesan didalamnya. Penasaran. Rachel kemudian menekan nomor tersebut.


[“Nanti sore aku tunggu kamu di Café Goldstar.”]


[“Kita bahas soal ganti rugi itu.”]


[“Ok”] balas Rachel singkat, padat, dan jelas.


*************


Maaf ya Reader, episode-nya singkat-singkat. Mengingat author juga punya banyak kesibukan, hehe. Ini udah diusahain update tiap hari✌


Jangan lupa tekan jempol, tinggalkan komentar, dan kalau Kakak suka sama ceritanya jangan lupa masukin ke daftar favorit, ya.