Say You Love Me

Say You Love Me
5. Bertemu Lagi



“Sudah berapa lama kamu disini, Bim?” Dito membuka suara.


“Baru setengah jam yang lalu,” ucap Bima setelah bangkit dari tempat duduknya. Setelah beberapa saat pandangannya tertuju pada sahabatnya, kini ia kembali melirik gadis disebelahnya itu.


“Perkenalkan, Namanya Rachel.” Mengetahui pelirikan Bima terhadap Rachel, Dito memperkenalkannya sambil melirik gadis disampingnya.


Gak nyangka Gua ketemu lagi sama si Babang Ngeran. Batin Rachel.


“Gak perlu di kenalin, kita udah saling kenal,” ucap Gadis itu.


“Sejak kapan?!”


“Ah, gak penting … Ada apa, Bim, Kamu ke Apartemen Aku?!” lanjutnya.


“Aku mau ngambil Flashdisk merah yang kamu pinjam kemarin, sekalian ngobrol-ngobrol. Hehe.” Cecarnya.


Dito menekan pin Apartemennya, kemudian membukakan pintu. “Ayo masuk!” sambil membuka lebar pintu, memberi jalan.


Sesampainya mereka di ruang tengah. Rachel mendudukkan dirinya di sofa Panjang nan empuk milik Dito, begitupun dengan Bima.


“Ra, kamu gak papa kan berlama-lama disini dulu?”


“Gak papa dong, lagipula gua juga lagi bosen di Rumah.”


“Kalian mau minum apa? Atau mau makan apa sekalian?” tawar Dito.


“Terserah lo aja.”


Pria itu berlalu menuju ke dapur, mengambil minum dan beberapa cemilan.


“lo temennya Dito?” Rachel membuka suara. “Gak nyangka, ya, kita ketemu lagi,” tambahnya.


“Iya,” ucapnya singkat. Sebenarnya Bima cukup canggung saat bertemu dengan gadis itu lagi, apalagi yang mempertemukan mereka sahabatnya sendiri.


“Maaf, ya. Waktu itu gue ketus banget sama lo, tapi gue gak ada maksud kayak gitu kok. Gue cuman kaget aja waktu itu,” jelas Rachel.


“Iya … lupain soal itu.” Bima menatap wanita disampingnya, mengamati bingkai-bingkai wajahnya. Senyum tersungging dari kedua sudut bibirnya, walau agak keliatan kikuk. Rachel membalas senyuman itu. Ya ampun bisa meleleh Gua diginiin. Gumamnya.


Dito datang membawa minuman beserta cemilan.


“Kalian minum, ya!” sambil meletakkan bawaannya di meja. “Aku ke kemar dulu ambil Flashdisk,” sambungnya.


Dito berlalu pergi. Sedangkan suasana di ruang tengah masih cukup canggung.


“Lo kenapa?! Dari tadi diem mulu.” Rachel kembali bersuara. Ia mencoba memecah keheningan.


“Orang, kalau lagi diem, emang keliatan lagi kenapa-napa, ya?!” tangkas Bima.


“Iya …,” jelas Rachel. “Biasanya sih, gitu,” tambahnya.


“Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,” jawabnya.


“Yang khawatir siapa cobak?! Gua Cuma nanya doang,” elak wanita itu.


Tidak berselang lama. Ditto kembali menghampiri mereka. “Ini … makasih, Bim.” Sambil menyodorkan Flashdisk ke arah Bima.


🎵*You told me not to cry when you were gone🎵


🎵But the feeling’s overwhelming, it’s much too strong🎵


🎵Can I lay by your side*—🎵


Belum sempat Dito mendudukan dirinya. Sebuah panggilan masuk dan lagi-lagi ia harus meninggalkan kedua orang itu di ruang tengah.


“Halo …,” Dito menjawab panggilan. “Apa?! … sekarang Ibu ada dimana? … Aku akan segera ke sana.” Terdengar suara Dito meninggi di sudut ruangan.


Dito menutup panggilan. Ia kemudian menghampiri sahabatnya dan juga Rachel.


“Bim, Papah aku … Papah aku anfal lagi. Sekarang dia di larikan ke Rumah Sakit.” Ia terlihat kesulitan berucap. Nampak guratan kepanikan di wajahnya.


Bima bangkit dari tempat duduknya.


“Sekarang Aku mau menemuinya,” lanjutnya.


“Aku ikut!” tegas Bima.


“Tidak … lebih baik kamu antar Rachel pulang ke rumahnya. Biar Aku sendiri yang kesana.”


“Baik,” ucap Bima. “Kamu hati-hati di jalan.” Ia takut sahabatnya itu akan ngebut di jalan.


Ditto melenggang pergi meninggalkan mereka berdua di Apartemennya.


Rachel sendiri udah kegirangan, karna yang mengantarnya adalah si Bima.


“Ayo!”


“Kemana?”


“Antar kamu pulang.”


“Sekarang?”


“Trus kapan?”


“Kita jalan-jalan dulu, ya. Plis,” ucap Rachel sembari mengatupkan kedua tangannya, mengisyaratkan permohonan. Tak lupa memasang Puppy Eyes jurus andalannya.


“Ini udah malam, gak baik gadis sepertimu keliaran di luar sana,” tolak Bima.


Gak asik! Apa bedanya cobak sama Bokap gua. Rachel membatin.


“Yaudah kalau lo gak mau temenin gua, lebih baik gua sendiri aja,” timpalnya.


Bima mengalah. Bagaimanapun Rachel adalah tanggungjawabnya saat ini, apalagi membiarkannya pergi keluyuran sendiri ia tak akan mau. Rachel sendiri tahu kalau dengan cara ini ia tidak akan menolak lagi, cowok seperti dia mana mau melepasnya sendiri malam-malam begini.


“Yaudah, kamu maunya kemana?”


“Ke Taman Kota, gimana? Pasti disana seru, apalagi ‘kan ini malam minggu,” sosor wanita itu.