Say You Love Me

Say You Love Me
6. Pasrah



Mereka ke Taman Kota mengendarai motor. Rachel yang tak biasa menaiki kendaraan roda dua itu memeluk Bima erat, ia takut jatuh. Bima pun cukup canggung dengan situasi sekarang, selama ini ia tidak pernah membonceng wanita mana pun selain Ibunya, Nia. Rachel yang kini memeluk Bima dengan sangat erat membuat jantungnya jedag-jedug lebih kencang. Dengan sekuat tenaga ia berusaha membuat dirinya terlihat setenang mungkin.


“Rachel, peluknya kekencengan!” seru Bima sedikit berteriak.


“Hah?! Apa? Lu ngomong apaan? Gua gak denger!” Hembusan angin malam yang begitu dingin menusuk-nusuk setiap inci kulit mereka yang tak di tutupi kain itu. Gemuruh angin yang menampar-nampar telinga mereka begitu ampuh membuat suara mereka terdengar samar-samar.


“PELUKNYA KEKENCENGAN!!” Jelas Bima dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ya maap, Gua takut jatoh. Gak papa ya? Sekali-kali gak papa dong!” bukannya melonggarkan pelukannya. Wanita itu malah makin mengencangkannya. Yang namanya kesempatan gak boleh dilewatin dong, ya! Seperti itu kata pepatah.


Bulan yang membentuk sebuah lingkaran sempurna dan beberapa lampu jalan yang berbaris rapi di setiap trotoar itu sempurna menambah penerangan bagi perjalanan Rachel dan Bima. Beberapa muda mudi yang sedang berkumpul atau sepasang kekasih itu tampak memadati setiap spot-spot perkumpulan, menambah kesan malam mingguan mereka. ‘malam mingguan’ sendiri adalah istilah gaul bagi kalangan milenial, malam yang selalu dinantikan bagi setiap insan, entah itu sekedar melepas rindu kepada kekasih tercinta atau hanya menjadi malam Pelepas penat bagi sang Pekerja.


“Kamu tunggu disini. Aku parkirin motor dulu,” ucap Bima setelah menurunkan gadis boncengannya itu.


Setelah memarkirkan motornya. Dengan langkah pasti, Bima menghampiri Rachel.


“Ayo!” ucap Bima setelah menatap gadis itu lalu berjalan menuju Taman Kota, sedangkan Rachel mematung di tempat menatap Bima yang berjalan mendahuluinya. Gak peka! Kakuan! Gak tau apa dia jalan ama cewe, setidaknya gandeng tangannya kek! Lah itu main cabut aja. Liat aja, Gua bakal bikin lo susah. Gumamnya kesal dengan tingkah kaku Bima.


Bima berhenti lalu berbalik badan menatap Rachel yang sudah agak jauh dari hadapannya.


“Kenapa diam disitu?”


Rachel diam.


“Kamu kenapa?”


Masih diam.


“Kamu tidak apa-apa ‘kan?” Kemudian kembali menghampiri Rachel.


Rachel mengedarkan pandangannya tidak ingin menatap pria itu. Dan kini giliran Rachel yang berjalan meninggalkan Bima. Dengan sedikit berlari, Bima menghampirinya, mensejajarkan langkah kaki mereka.


“Kamu kenapa?” Bima kembali bertanya.


Bukannya menjawab pertanyaan Bima, Rachel malah melingkarkan tangannya di lengan kokoh Bima.


Spontan Bima terkesiap dengan perlakuan gadis itu.


Dengan gerakan selembut mungkin, Bima berusaha melepaskan tangan Rachel dari lengannya. Rachel yang tidak mau kalah semakin mengeratkan lingkaran tangannya. Bima pasrah.


“Kelihatannya enak. Kita ke situ, yuk!” Sambil menunjuk Pedagang Sate. Bima hanya mangut-mangut.


Bima dan Rachel duduk bersebelahan di kursi yang sudah dipersiapkan pedagang itu.


“Bang! Satenya dua porsi pake sambel pedas, ya!” pesan Rachel.


“Ok, siap Neng,” ucap Pria yang sedang memasukkan daging yang sudah ditusuk rapi itu ke dalam bara api.


“Biasanya kalo malam mingguan Lo ngapain aja? Bareng siapa?” Sekedar berbasa-basi.


“Gak ngapa-ngapain. Bagi Aku semua malam itu sama aja,” ucap Pria itu.


“Gak gaul dong,” ejeknya dengan sedikit seringaian.


“…”


“Jadi Lo gak pernah gitu, malam mingguan sama pacar lo?!”


“…”


“Jawab dong! Kok diem aja.” Dasar es! Gerutunya.


“Aku tidak punya pacar.”


“Kok Aku jadi seneng, ya?!” bisiknya. Namun, suaranya masih dapat ditangkap oleh pendengaran Bima.


Pria itu menatap Rachel. “Maksudnya?”