Say You Love Me

Say You Love Me
Melihat wanita itu



Hari berganti.


Seperti biasa di pagi hari ini Anita menyiapkan keperluan kantor suaminya.


Ia juga terlihat rapi sudah membersihkan dirinya dengan dress cantik yang ia kenakan itu.


Bahkan Anita terlihat cantik sekali di mata Reyfan di pagi hari.


"Kau rapi sekali mau kemana?"


"Mama mengajakku keluar,apa aku boleh keluar rumah?"


"Cihh, sejak kapan aku pernah melarang mu keluar rumah. Yang penting hati-hati, banyak orang yang sudah mengenalimu sekarang,bila perlu bawa semua bodyguard"


"Tenanglah aku kan sama Mama dan Papa Dev"


"Ohh..sama Papa juga,ya sudah baiklah"


Tiba-tiba Anita juga menunjukkan ponselnya ke arah Reyfan.


Ia merasa bingung dengan begitu banyak panggilan dari nomor yang tak di kenali-nya.


Zayn!. Beraninya dia menelepon istriku terus-menerus.


Hafal sekali Reyfan dengan nomor itu, sepertinya ia memang yang berulah dalam hal ini.


"Sudahlah sayang biarkan saja, paling sales panci, biasalah jualannya gak laku!"


"Sales panci?"


"He'e'h"


Untung saja aku sudah memblokir kontaknya, jika tidak Anita pasti akan mengetahui nomor itu adalah Zayn.


Terus nanti ia malah terus bertanya-tanya tentang Zayn.


--------------


Matahari sudah naik begitu terik.


Bahkan panasnya masuk sampai ke pori-pori kulit tubuh Reyfan di dalam ruangan kantornya.


"Kenapa hari ini panas sekali, menyebalkan.."


"Maaf Nona,anda tidak boleh masuk, Tuan muda sedang istirahat!"


"Aku ingin masuk!,kau tidak tahu aku ini siapa?"


"Satpam!. Tidak penting kau siapa Nona. Tuan muda tidak ingin di ganggu,ia ingin istirahat"


Teriakan anak buah Reyfan yang sedang berjaga di depan ruangan itu terdengar marah.


Terlihat juga ada 2 satpam yang memang sedang berlari menuju ke lantai atas mengejar wanita itu.


"Bagaimana bisa dia masuk ke kantor,apa kalian tidak bisa berjaga dengan benar?"


"Maaf pak,dia menimpuk kita dengan sepatunya,dia benar-benar seperti serigala buas yang sedang marah dan terus memaksa untuk masuk"


"Beraninya kau mengataiku serigala!"


"Ada apa ini...?"Reyfan benar-benar terganggu dengan suasana dan kegaduhan di depan ruangannya itu.


Namun, yang ia lihat adalah kehadiran Sintya yang sedang gaduh dengan mereka.


"Reyfan!,kau melarang ku juga untuk datang kemari!"


Reyfan langsung menarik tangan Sintya dengan kesal ke dalam ruangan. Ia tidak tahu lagi apa yang di inginkan Sintya saat ini.


"Apa yang kau lakukan Sintya?, kenapa kau kemari"


"Aku sangat merindukanmu Reyfan"Sintya langsung memeluk Reyfan begitu saja semaunya.


"Sintya, lepaskan aku!,apa yang kau lakukan?"


Sintya mencibir kesal melihat tingkah Reyfan yang tampak menghindarinya itu.


"Ternyata benar,kau tidak lagi menyukaiku, buktinya aku hanya meminta pelukan sekali darimu saja tak boleh"


"Apa yang kau katakan Sintya?. Ini di kantor, jangan bersikap sembarangan"


"Benar-benar tidak ada kesempatan untukku agar kita tetap bisa bersama Reyfan?"


Reyfan terlihat membuang nafas panjangnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku.."


"Baiklah Fan,jika ini mau mu!, tunggu saja kematian ku hari ini!"


Reyfan terbelalak mendengar itu.


"Sintya,apa yang kau katakan?,apa kau gila?,jangan berani-berani melakukan hal bodoh seperti ini!"


"Cihh,apa kau peduli?, tidak juga kan!. Tunggu saja kematian ku Reyfan!"


"Sintya jangan mengada-ada yah!, jangan berani-berani menyakiti dirimu sendiri!"


"Rasa sakit yang kau berikan jauh lebih sakit dari apa yang sedang aku rasakan sekarang ini Fan"


"Aku mohon jangan melakukan hal gila Sintya!"


"Cihh,kau tidak percaya?, lihat ini!, saksikan di berita TV nanti sore"Sintya terlihat mengeluarkan sebuah pisau tajam dari tas yang ia bawa itu.


"Sintya!,kau tidak boleh melakukan hal ini,aku tidak bisa melihatmu seperti ini,apa kau gila?, buang pisaunya!"


Sintya dengan gilanya mengarahkan pisau tajam itu ke arah perutnya sendiri.


Kali ini ia benar-benar terlihat serius. Bahkan membuat Reyfan panik dan berkeringat.


"Aku ingin kau yang menyaksikannya Fan!"


"Sintya!. Prannkk..!"Reyfan berhasil menangkis tangan Sintya dan berhasil menjatuhkan pisau itu dari tangannya.


"Kau gila?,aku mohon jangan melakukan hal itu!, jangan bertindak bodoh seperti ini di ruangan ku!"


"Tidak Fan,ini yang terbaik!"Sintya berulah lagi ingin mengambil pisau itu dari lantai. Tapi di cegat oleh tangan Reyfan dengan kuat.


"Kenapa kau mencegat ku?, lepaskan aku Fan!"


"Tidak!,aku tidak bisa melihatmu seperti ini"


"Kau masih mencintaiku kan Fan?"


Sintya terlihat tersenyum kecil lalu mencium bibir Reyfan begitu saja.


Reyfan yang kaget pun terbelalak mendapati hal ini tiba-tiba.


"Reyfan"


Panggilan lembut seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu masuk ruangan itu.


Ia terlihat tercengang dan terdiam mendapati kenyataan ini.


"A...Anita..."


Kenapa Anita datang kesini juga?


Anita langsung pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja.


Sementara Reyfan menjadi panik dan langsung mengejarnya keluar ruangan.


"Bawa dia pergi dari ruangan ku!"


"Baik Tuan muda"


Saat pengawal Reyfan masuk ke ruang itu,dengan santainya Sintya mengacuhkan kedatangan mereka semua.


"Cihh,aku bisa pergi sendiri!, terimakasih atas perhatian kalian!"


Haha sudahlah, setidaknya aku bisa membuat mereka bertengkar.


Anita berjalan begitu cepat meninggalkan setiap lorong kantor.


Bahkan panggilan Reyfan yang berulangkali ia dengar pun tidak di jawab olehnya.


Apa ini yang Reyfan lakukan saat di kantor?, siapa wanita itu?. Apa yang sedang mereka lakukan tadi.


"Anita tunggu,kau mau kemana?"


"Reyfan!, inikah perilaku mu saat bekerja di kantor?!. Siapa wanita itu?. Menjijikan!"


"Aku akan jelasin semuanya Anita,tadi itu cuma .."


"Apa?. Dia istrimu lagi?, Selingkuhan?,


pacarmu?, sahabat?, teman?, atau kah yang pasti kalian berdua ada sesuatu kan?"


Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini kepadanya, sedangkan ia belum mengingat apapun tentang masa lalu.


"Dia hanyalah mantanku,kau pasti akan mengingatnya suatu saat nanti Anita"


"Tahulah, punya istri tapi masih berhubungan dengan mantan,lelaki menjijikkan!"


"Anita... Anita?"


Anita langsung masuk ke mobil dan pergi begitu saja meninggalkan lingkungan kantor.


Saat di rumah pun mereka terlihat saling diam-diaman. Tapi Reyfan dengan penuh rasa sabar mencoba untuk mengajak istrinya berbicara.


"Anita aku.."


"Jangan mengajakku berbicara sebelum aku mengingat semaunya!"


"Tapi kan.."


BRAKKK!.


Anita terlihat menutup pintu kamar mandi dengan kasar karena tidak ingin berbicara dengan suaminya.


Ternyata lupa ingatan pun ia sama galaknya seperti dulu.


Ponsel Reyfan Tiba-tiba menyala.


Ada pesan masuk dari Mama Ayana di situ.


"Datanglah ke rumah besok malam, sudah lama kita tidak makan malam bersama Rey"


Anita terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Ia juga tampak memakai gaun kecilnya untuk tidur.


"Mama mengajak kita untuk makan bersama besok malam"


"Emm"


Sepertinya dia benar-benar tidak bisa diajak berbicara.


Baiklah sebaiknya kita tidur saja.