
Sehabis membersihkan diri Anita langsung duduk di ruang makan.
Terlihat suaminya yang menyusulnya dan duduk di ruang itu juga.
Keduanya masih sama-sama terdiam.
Tidak saling bicara.
Bahkan Anita mengambil piring dan sendok untuk dirinya sendiri.
Reyfan tak perlu bertanya lagi, karena ia juga menyadari istrinya sedang marah kepadanya.
Anita terlihat menggeser makanannya lebih jauh dari arah Reyfan.
Membuat Reyfan menaikan alisnya seraya menatap istrinya heran.
"Makanlah makanan kita masing-masing"Dengan raut wajah juteknya tanpa menatap suaminya sedikitpun.
"Tidak,aku ingin makan makananmu"
"Aku tidak mengizinkanmu untuk makan makanan ini!. Kau punya makananmu sendiri kan?,jadi makanlah!. Ini makanan ku,aku yang berhak memakannya"
"Kau sengaja memasak semua ini untukku kan?"
"Cih,kata siapa?.Ini semua untukku sendiri"
"Benarkah?,kau tidak sedang membohongi suamimu kan?"
"Iya aku memang memasak semua ini untukmu, Puas!. Tapi aku rasa besok-besok aku tidak perlu repot-repot untuk memasak lagi, karena apa?, karena ada perempuan lain di luaran sana yang sudah melayani mu dengan baik. Jadi aku tak perlu lagi repot-repot melayani mu."
Melihat istrinya yang banyak mengoceh membuat Reyfan mengambil makanan itu dan memakannya langsung.
"Masakanmu enak juga"
"Sudah ku bilang jangan makan, kenapa kau masih tetap saja memakannya"
"Karena masakan ini untukku, jadi ini milikku"
"Ihh.. kenapa kau jadi orang menyebalkan sekali..."
Tiba-tiba ponsel berdering.
Anita langsung menarik nafas panjang dan mengangkat panggilan itu.
"Iya halo Ma.."
Terlihat mengobrol lama, membuat Reyfan lebih leluasa untuk memakan banyak makanan yang di buatkan oleh istrinya itu.
"Ada apa?"
"Kita di suruh datang ke rumah Mama"
"Sekarang!"
"Tahun depan!"
"Oke baiklah, tahun depan kita baru kesana yah"
"Sekarang. Ayo kita pergi sekarang ke rumah Mama!". Anita sudah hampir emosi jiwa.
"Kau sendiri yang bilang tahun depan!"
Sebenarnya Anita tidak ingin berpergian kanan-mana.
Namun karena ada acara makan malam bersama yang mendadak membuat mereka berdua bergegas untuk pulang ke rumah orang tua Anita.
Di dalam perjalanan pun Anita tetap terdiam, tidak berbicara sama sekali. Suasana hatinya memang sedang buruk.
Sepertinya dia benar-benar marah kepadaku!, berbicara saja tidak.
Batin Reyfan sambil fokus menyetir.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Reyfan dan Anita langsung masuk ke ruang tamu.
Terlihat Anggota keluarga Reyfan yang sudah datang juga dan duduk menunggu di kursi ruangan itu.
Di iringi dengan senyuman kedua orang tua mereka yang melihat kehadiran anak dan menantunya.
Tumben pada kumpul malam-malam begini!
"Malam sayang apa kabar?"Memeluk putrinya hangat yang baru saja tiba ke rumah.
"Malam juga Ma,aku sangat baik,Mama juga kan"
"Pastinya"
"Malam menantuku"
"Malam Pa,Mam."
Hal yang sama juga di lakukan oleh keluarga Reyfan untuk keduanya.
"Kalian berdua belum pada makan kan?"
"Sebenarnya tadi kita lagi makan Ma, Anita yang memasak, tapi tidak jadi karena Mama telvon dan menyuruh kita kemari"
"Wah Anita yang memasak?,kau masak sendiri sayang?, hebat sekali menantuku"
"Aku hanya belajar sedikit saja mah,aku tidak bisa memasak sebenarnya"
"Semua orang pasti bisa memasak, perlahan-lahan,kau pasti akan semakin pandai memasak sayang"
"Iya Ma"
Benar apa kata Ferland,ayah dan ibuku juga sangat menyukai Anita.
Jika dia memang baik pasti dia akan di sukai banyak orang, termasuk orang terdekat dan keluargaku sendiri.
Ia juga merasa bersalah sendiri masih berhubungan dengan Sintya setelah menikahinya. Tetapi sampai sekarang ia belum bisa untuk meninggalkan Sintya.
Karena hatinya belum bisa berpaling dari nama Sintya.
"Happy birthday sayang..., Happy birthday sayang, Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday to you"
Suara nyanyian yang tiba-tiba datang dari arah salah satu ruangan dalam rumahnya.
Seorang ibu dengan penuh senyuman mendekat ke arah meja dan menyodorkan kue ulang tahun yang sangat indah untuk putrinya.
Anita masih terdiam menatap kue ulang tahun itu,hanya sedikit senyuman yang ikut menimpali.
Sedangkan Reyfan baru ingat, ini adalah hari ulang tahun istrinya. Ia benar-benar lupa dan tidak menyadari bahwa ini adalah hari kelahirannya.
"Terimakasih Ma"
Ya ampun,aku bahkan lupa kalau Anita ulang tahun hari ini.
"Tiup lilinnya sayang, mohonlah sesuatu yang kau inginkan"
Anita hanya terdiam sesaat, lalu dengan cepat meniup lilin itu.
Entah apa yang dia inginkan, yang jelas hanya hatinya dan Tuhan saja yang tahu.
"Semoga apa yang kau inginkan di kabulkan oleh Tuhan sayang"
"Aammiin, makasih Ma"
Berdiri dari duduknya.
Lalu Anita justru pergi meninggalkan ruangan begitu saja menuju ke lantai atas.
Membuat semua orang bingung dengan tingkah lakunya.
"Sayang kau mau kemana?, potong kuenya dulu!"
"Aku sudah kenyang Ma,mama saja yang potong kuenya"
Sikap diam dan cuek Anita terlihat sekali di mata ibunya.
Selama ini ketika ia sedang berulang tahun Anita selama cerita dan terseyum saat di rayakan.
Tapi kali ini ia benar-benar terlihat cuek dan diam tak bertingkah sedikitpun.
Ada apa dengan putriku?, kenapa dia bersikap seperti itu tiba-tiba.
"Reyfan,apa kau sedang ada masalah denganya?" Tanya Papa Rey yang ikut bingung dengan sikap diamnya Anita.
"Ti..tidak, e'...tunggu sebentar Pa"
Reyfan langsung berlari menuju ke lantai atas untuk menyusul Anita.
Aneh sekali,apa yang sedang anak itu sembunyikan.
Reyfan juga tidak ingin mengecewakan mereka semua yang sedang berkumpul itu.
"Anita..!, thok..thok..thok,Anita buka pintunya Anita"
Tidak ada sahutan dari dalam.
Namun ternyata pintu kamar tidak di kunci.
Reyfan pun langsung masuk begitu saja ke dalam kamar.
Anita tidak ada di ruangan kamarnya, melainkan di dalam kamar mandi.
"Anita buka pintunya!. Anita kau sedang apa di dalam"
"Aku tidak mengunci pintunya"
Dengan bodohnya Reyfan langsung membuka pintu kamar mandi itu setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Apa?,kau mau ikut aku kencing?"
"Ya ampun,sorry"
Begitu kagetnya Reyfan setelah melihat istrinya yang sedang duduk di kloset tanpa mengenakan celana.
Ia bergegas keluar dan menutup pintu kembali dengan canggung.
Apa yang dia lakukan?,dia sedang menggodaku yah.,
Beraninya tidak memakai celana!
Menelan ludahnya sendiri, melihat kaki mulus istrinya dari atas sampai bawah yang masih terbayang.
Tak lama Anita keluar dari dalam kamar mandi dan melihat suaminya yang masih berdiri menunggu.
"Kenapa?"
"Turunlah potong kuenya!"
"Kau saja yang memotong!,aku tidak ingin memotongnya!"
"Apa yang kau lakukan Anita, bersikaplah yang benar aku mohon!"
"Bersikap benar bagaimana?, memang selama ini aku tidak benar saat bersikap?"
"Aku mohon, demi keluarga kita!,jangan begini kau membuat mereka bingung dan cemas"
"Baiklah,Tapi ini untuk mereka,bakan untukmu!"
Anita pun mau turun untuk memotong kue dengan penuh senyuman bahagia menatap mereka semua.
Walaupun suasana hatinya sedang buruk,ia mencoba bersikap sebaik-baiknya,agar terlihat tidak terjadi masalah di antara rumah tangganya bersama Reyfan.