
"Sudahlah, sebaiknya kita tidur"
"Tidur?,makan malam saja belum kok tidur"
"Aku tidak berselera"
"Kenapa?, kenapa kau tiba-tiba tidak berselera?,apa ada yang membuatmu kesal?"Rasa sakit di perutnya perlahan mereda karena terhibur dengan raut wajah Reyfan yang tampak kusut.
"Tidak"
"Benarkah?"
"Berhenti berbicara aneh Anita!,apaan si!"
"Tapi aku lapar Fan"
"Iya udah makan!"
Haha apa dia marah karena aku kenal dekat dengan Rendi?, terlihat sekali kalau dia kesal.
Reyfan terlihat memejamkan matanya untuk mencoba tidur.
Tapi rasanya Anita ingin sekali mengganggunya. Entah kenapa melihat Reyfan kesal membuatnya merasa senang.
"Fan.."
"Hmm?"
"Reyfan.."
"Apa lagi si?"Bener-bener terlihat kesal Reyfan, kali ini ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kusut itu.
"Aku cantik kan?"
"Cihh, apaan si!,gak jelas!"
"Katakan kalau aku ini cantik Fan!"
"Anita!, jangan membuatku semakin kesal yah!"
"Lalu apa alasanmu kesal?, kenapa kau tiba-tiba kesal tanpa alasan?"
"Sudah diam!,aku mau tidur, berbicara denganmu membuang waktu saja!"
Cihh, menyebalkan sekali jadi suami.
Reyfan memejamkan matanya kembali untuk tidur, membuat Anita kesal juga jadinya.
"Perutku terasa enakan. Hebat juga ya Rendi, sekarang sudah menjadi dokter, bahkan dia terlihat semakin tampan"
Tersenyum sendiri sambil mengelus perutnya.
Sementara seseorang terlihat mencengkram sprei ranjang dengan kesal mendengar perkataan istrinya yang memuji dokter sialan itu.
"Mungkin kau hanya pura-pura sakit perut,iya kan?"
Suara yang melintas sengit tiba-tiba, membuat Anita yang sedang tersenyum itu langsung menciut.
"Bisakah waras sedikit jadi suami!, istri lagi sakit perut bukanya pengertian malah menuduhku yang tidak-tidak"
"Ini kah sakit perut?, yang terlihat girang dan gembira tiba-tiba setelah bertemu seseorang"
"Yeay, namanya juga sedang seneng"
"Oh kau seneng ya bertemu dokter itu?, kalau gitu lain kali kalau ada apa-apa hubungi dia!, jangan panggil Fan..Fan..Fan,brisik!"
Haha.. Reyfan benar-benar membuatku tertawa.
"Oke siap"
Oke siap!, benar-benar keterlaluan jadi istri.
Keduanya langsung saling memutar badan dan saling membelakangi masing-masing untuk mengalihkan pandangan.
Aku tahu Fan kalau kau cemburu, tidak mungkin kau tiba-tiba merasa kesal sendiri tanpa alasan, buktinya kau sampai mengusir Rendi tadi gara-gara aku akrab dengannya kan.
Lihat saja aku pasti bisa merebut hatimu dari perempuan gila itu.
"Fan.."
Tidak ada jawaban dari Reyfan.
Ia sangat kesal sepertinya.
"Reyfan.."
Tetap sama tidak ada jawaban juga darinya.
"Reyfan sayang..."
"Apa?!. Bisa gak sih tidak menggangu tidurku!"
Cihh,di panggil sayang saja baru mau nengok.
"Kau cemburu yah?"
"Apaan sih gak jelas banget!"
"Katakan kalau kau cemburu Fan!"
"Heh,aku bilang tidak ya tidak, mengesalkan sekali!"
Cihh, baiklah jika kau belum mengaku juga!.
Anita memilih untuk memainkan ponselnya.
Walaupun hanya tarik ulur beranda namun ini membantunya untuk menarik mata saat belum ngantuk.
"Wah ganteng banget..."
Tersenyum manis menatap layar ponselnya.
"Aku tidak menyangka aku bisa bertemu dengannya lagi"
Telinga Reyfan mulai hidup kembali, bahkan semakin tegak untuk mendengarkan omongan istrinya yang sedang mengoceh itu.
Ohh sekarang mulai berani-berani terang-terangan yah!.
Ada hubungan apa kau dengan dokter itu?, kenapa kau terlihat akrab sekali dengannya?.
Terlebih saat lelaki itu bilang kalau kau memang sering sakit saat menstruasi.
Apa maksudnya ini?.
Lama Reyfan terdiam.
Ia berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Namun hati dan telinga tidak bisa berbohong.
Ia tetap ingin mendengarkan dan mengawasi istrinya yang sedang sibuk bermain ponsel itu.
"Eh..eh,dia DM aku tiba-tiba"
Hah,siapa yang DM dia?,apa yang dimaksud dia dokter sialan itu?.
Reyfan mulai terpancing,ia beralih menatap istrinya yang membelakanginya dan sibuk memainkan ponselnya.
Saat Anita mulai menengok ke belakang Reyfan juga pura-pura tertidur pulas.
"Cihh, cepat sekali dia tidur"
Anita, apakah ada salah satu barang ku yang tertinggal?.
Pesan masuk yang di terimanya dari Rendi.
"Hah.."Mata Anita langsung jelalatan ke arah meja dan tempat duduk yang di tempati dokter itu.
Bahkan ia sampai berdiri dari ranjang.
Sementara Reyfan sedang mengintip dan memperhatikan istrinya yang bangun itu.
Apa yang sedang dia cari?.
Ternyata benar ada alat tensi darah digital yang tertinggal di atas tempat duduk itu. Mungkin akibat Reyfan yang terburu-buru mengusirnya tadi.
"Ini semua gara-gara Reyfan,dia mengusirnya cepat-cepat"
Anita langsung menelpon Rendi untuk memberikan kabar.
"Halo Ren,alat tensi dara digital mu tertinggal di kursi kamarku"
Anita terdiam mendengar suara Rendi di telepon.
"Ohh oke baiklah kalau gitu.."Menutup panggilan itu.
Reyfan terlihat duduk menyender di atas ranjang. Ia terbangun dari tidurnya yang pura-pura itu. Tatapan masih masam bahkan semakin sengit saat di pandang istrinya.
Terlebih mendengar perihal tentang dokter itu lagi. Membuatnya semakin kesal saja.
"Apa maksudnya gara-gara aku?"
"Kenapa kau bangun?,kau pura-pura tidur yah"Menghampiri suaminya ke atas ranjang.
"Orang kamu brisik banget!"
Tuh kan nyalahin aku terus, bilang aja pura-pura tidur tadi.
"Kenapa kau telpon dia?"
"Alat tensi darahnya tertinggal, gara-gara kau mengusirnya tadi!"
"Cihh, alasan!. Bilang saja dia mau balik lagi agar bisa bertemu denganmu,ya kan?"
"Mungkin..."Anita malah terlihat senang dan tersenyum manis.
"Sudah ku duga cowok brengsek ada di mana-mana"
"Apa kau bilang?"
"Sejak kapan kau mengenalnya?"
"Sejak kapan juga kau memperdulikan aku Fan?"
"Anita!"Menatap tajam istrinya,kali ini kesabarannya sudah habis. Ia memegang kedua tangan istrinya untuk mengajaknya berbicara.
"Percuma kau bilang orang lain brengsek!, sedangkan kamu lebih brengsek daripada mereka!,ya kan?"
Reyfan tidak bisa mengatakan apapun,ia juga menyadari atas apa yang ia lakukan selama ini.
Tapi rasa kesalnya sungguh menginginkannya untuk meluapkan amarah yang ia tahan sejak tadi.
"Aku tahu aku salah, selama pernikahan kita aku masih berhubungan dengan Sintya,tapi pernahkah kau menyadari aku sedang menjauh darinya, kenapa kau tidak mengerti juga!"
"Mencoba menjauh untuk siapa?. Untukku?, atau hanya untuk ayahmu?. Memaksakan perasaan itu sakit Fan,aku tahu apa yang kau rasakan dan aku juga tahu apa yang sedang aku rasakan, tapi kenapa kau selalu memaksakan diri untuk mengasihani ku?,aku membutuhkan rasa cinta bukan rasa paksaan karena cinta atas dasar kasihan. Jika kau ingin menikahi Sintya ya lepaskanlah aku!. Jika itu memang kebahagiaanmu maka ambillah,aku tidak ingin menjadi penghalang cinta di antara kalian!..."
"Drettt... drettt... drettt "Panggilan masuk tiba-tiba datang ke ponsel Anita yang sedang dipegangnya itu. Terlihat nama Rendi di layar itu.
PRAKKK!
Spontan Reyfan menyambar ponsel itu dan membuatnya terbanting di lantai saking kesalnya.
"Rey..F.."
Reyfan langsung menyambar bibi Anita dengan bibirnya yang terus mengoceh itu dengan kasar.
Keduanya saling berpacu tanpa sadar saling membalas ciuman indah itu.
Anita terbelalak kaget sebenarnya tadi, namun hal yang di lakukan Reyfan adalah hal yang diinginkannya sejak lama.
Keduanya saling melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas dan terengah-engah.
Namun suasana hati Reyfan masih belum pulih dari kesalnya,ia masih terlihat kesal dan marah.
"Hentikan pertikaian ini!, karena aku tidak suka!"
Reyfan terlihat menarik selimutnya untuk tidur tanpa berdosa atas apa yang dia lakukan tadi.
Sementara Anita masih terdiam karena bingung harus bersikap bagaimana.