Say You Love Me

Say You Love Me
Ke taman bunga



Mobil sudah sampai di tempat parkiran wisata bunga.


Keduanya langsung saja turun dari dalam mobil.


"Ini kan tempat yang terkenal itu fan"


"Iyah,kau suka dengan tempat ini kan"


"Hehe...,aku suka sekali Fan"Tersenyum manis penuh dengan kegembiraan.


Sebenarnya bukan tempat ini yang membuatnya tersenyum, namun kejadian di mobil tadi.


Kenapa melihatnya tersenyum saja sudah membuatku begitu senang.


"Fan.."


"Emm?"


"Yang kau lakukan di dalam mobil tadi itu apa?,kau sakit kah?"


Mampus kan,tanya juga dia.


"Kau yang sakit!. Kau terus berbicara di dalam mobil,itu yang membuatku kesal"


"Alasanmu tidak masuk akal Fan,kau juga yang terus bertanya kan tadi, kau juga berbicara di dalam mobil dan menawariku apa yang aku mau,tapi kenapa kau..."


Reyfan langsung merangkul Anita erat.


Dengan penuh kelembutan dan rasa gregetan karena istrinya terus mengoceh.


"Bisakah kau berhenti berbicara?, jangan membuatku kesal Anita!. Ini di tempat umum, hilangkan bawel mu itu sesaat!, bolehkah sayang?..."


"Oke oke baiklah, hehe.."


Lihat saja nanti di hotel Fan, kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan tadi.


Dan ini panggilan sayang yang tak pernah tulus kau katakan, sungguh menyebalkan!.


Semerbak harum bunga begitu terasa wangi dan harum di hidung Anita.


Melihat bunga-bunga indah warna-warni yang luasnya memenuhi lapangan juga membuat jiwanya meronta-ronta ingin berbaring di atasnya.


"Tempat ini indah sekali Fan,aku boleh memetik bunganya?"


"Tidak boleh!,di sentuh pun jangan,kena denda nanti!"


"Cihh,lalu apa gunanya kita kesini, jika tidak boleh di sentuh sama sekali"


Raut wajah Anita yang semula gembira langsung sirna begitu saja menghilang entah kemana.


Hanya melihat dan berjalan di tepi bunga-bunga saja benar-benar terasa menyebalkan baginya.


Sementara Reyfan sedang tersenyum melihat raut wajah istrinya yang super kusut.


Kemudian Reyfan memetik bunga berwarna putih yang indah dari salah satu tangkai bunga


Ini membuat Anita panik.


"Fan,apa yang kau lakukan?, nanti kena denda kan?"


"Dendanya berapa si,1 miliar?"


"Entah 1 miliar atau seberapapun itu tetap saja kau melanggar peraturan kan Fan, jangan memetik bunganya!"


"Memang kau tahu siapa yang membuat peraturannya?"


"Yang punya wisata kebun bunga ini lah"


"Bodoh.., apapun yang aku katakan pasti akan kau percayai"


"Maksudnya?!"Anita sudah terlihat kesal di katai bodoh oleh suaminya itu.


Reyfan menatap Anita lekat.


Ini membuat Anita bingung sekaligus canggung.


"Aku yang membuat peraturannya,jadi aku juga berhak mengubah peraturan itu"


"Haha..memang kau siapa?, memang kau pemilik wisata ini?..."


Reyfan menyentuh pundak Anita dan menghadapkannya lurus.


Kemudian menyibakkan rambutnya yang panjang itu ke sela-sela teling istrinya.


Dan apa yang di lakukan Reyfan saat ini?. Ia menaruh sekuntum bunga itu ke sela-sela teling dan rambut istrinya dengan indah.


Ya ampun Reyfan apa yang kau lakukan, bunga ini untukku?.


Kenapa akhir-akhir ini kau selalu membuatku terkesan dan habis itu kau akan bersikap sangat menyebalkan!.


"Tak penting juga kan siapa pemilik usaha property ini, yang penting sekarang kita ada di kebun bunga."


Ya ampun Anita kau terlihat cantik sekali, terlebih pipimu yang memerah karena panas,kau sungguh manis.


"Maksud apalagi ini?,kau ingin mencari perhatian para pengawal kan supaya kita terlihat romantis?, hah!"


"Ya tentu saja. Tapi ngomong-ngomong cantik juga.."


Anita sudah tersipu malu sambil tersenyum senang, mendengar suaminya yang memujinya membuatnya merasa begitu senang.


"Bunganya, bukan dirimu!. Corak dan bentuk mekarnya sangat indah dan menawan"


Lelaki ini benar-benar keterlaluan yah, menyebalkan sekali kalau meledek.


"Sudahlah ayo kita keliling!, petik saja bunga yang kau mau!. Bebas,semuanya untukmu"


"Oke baiklah, jika di suruh bayar denda kau yang bayar ya Reyfan"


"Iya tenang saja"


Anita terlihat tersenyum sendiri sambil memilih bunga-bunga yang akan ia petik.


Sementara Reyfan langsung mengeluarkan kamera yang ia bawa di dalam tas kecilnya.


Lalu memotret istrinya dengan sesuka hati yang sedang sibuk memetik bunga itu.


-------------


Di pintu keluar keduanya tampak berhenti dan berbicara dengan salah satu petugas kebun bunga itu.


"Mohon maaf Nona,di tempat ini tidak boleh memetik bunga sembarangan, apalagi sampai membawanya pulang,anda harus membayar dendanya!"


"Tuh kan Fan,kamu harus tanggung jawab!, memalukan sekali"


"Aku yang menyuruhnya memetik"Dengan penuh senyuman Reyfan memberikan kartu namanya kepada petugas itu.


Wajah petugas itu langsung pias,dan mengembalikannya dengan penuh hormat kepada Reyfan.


"Mohon maaf Tuan, atas ketidak nyamanan-nya"


"Baiklah santai saja"


"Nona, mohon maaf atas ketidak nyamanan-nya juga"


"Hah,tapi.."


"Sudah ayo kita pergi dari sini"Reyfan langsung menggandeng tangan istrinya untuk segera pergi meninggalkan tempat.


"Kau benar-benar pemilik wisata ini?, katakan ini juga bagian dari perusahaan mu juga?"


"Ngomong apa si?, tidak penting untuk hal ini,ayo kita lanjutkan perjalanan"


Di lanjutkan dengan perjalanan mereka menuju ke suatu tempat dan suatu tempat.


Seperti halnya museum, beberapa candi yang terkenal di kota ini dan yang lainnya.


Tak terasa waktu sudah semakin sore.


Kini rencana keduanya adalah pergi ke pantai.


Mumpung hari yang terik sudah redup,mereka ingin menghabiskan waktu di pantai di sore hari ini.


Namun di tengah perjalanan terlihat Anita yang begitu pucat sedang menarik lengan Reyfan di dalam mobil.


"Reyfan,kita pulang saja ke hotel yah,aku mohon"


"Ya .. ampun Anita,ada apa denganmu?,kau terlihat pucat sekali"


Reyfan langsung terlihat gelisah dan khawatir dengan raut wajah istrinya yang pucat.


"Perutku sakit sekali Fan"


"Kita ke dokter yah!"


"Gak usah Fan aku sudah biasa,aku hanya ingin tiduran,ayo kita pulang!"


"Iya...iya sudah kita langsung kembali ke hotel, tidak jadi ke pantai. Tapi apa maksudmu sudah biasa?,kau sudah biasa sakit perut?"


"Iya setiap kali datang bulan aku pasti akan seperti ini selama sehari"


"Iya sudah kita kembali ke hotel"Reyfan langsung menidurkan istrinya dengan bertumpu-an di kedua pahanya.


Anita terlihat memejamkan mata menahan rasa sakit yang ia rasakan di bagian perutnya.


Tak lama mobil sudah sampai di parkiran hotel megah itu.


"Ayo Anita kita turun!, kita sudah sampai"


Anita hanya menganggukkan kepalanya lalu segera turun dari mobil itu,tapi ia malah berjongkok di samping mobil.


Ia benar-benar tidak bisa berjalan karena nyeri perut yang ia rasakan sampai kepalanya pusing.


"Anita kau tidak papa kan?"Reyfan semakin gelisah melihat Anita yang pucat pasi.


Anita hanya terdiam dan menggelengkan kepalanya.


Tanpa pikir panjang Reyfan langsung menggendong istrinya dan segera membawanya ke dalam kamar hotelnya.