
Anita tidak berani keluar kamarnya.
Rumahnya yang begitu besar membuatnya merasa takut sendiri untuk keluar.
Waktu sudah semakin malam.
Rintikan hujan mulai mengguyur genting- genting rumahnya dengan gemercik.
Sementara Anita belum bisa tidur sejak tadi, pikirannya tidak tenang karena ketakutan.
Ia terus menunggu kepulangan suaminya yang belum juga pulang.
Angin pun ikut serta dalam kehadiran hujan itu.
Menciptakan badai semakin terjadi.
Bukan hanya itu saja, petir juga ikut mendampingi datangnya hujan itu.
Membuat Anita semakin merasa ketakutan saja karena sendirian.
"Dia kemana, kenapa belum pulang juga?. Tega sekali dia meninggalkanku!"
JEDDDERRR
"Ya Tuhan tolong aku,aku takut"Suara petir semakin keras dan bergemuruh."Mama tolong Anita"Anita memeluk selimutnya erat sebagai penghangat tubuh dalam kesendirian
...----------------...
"Aaaa.., Reyfan ada petir"Merangkul tangan Reyfan dengan erat."Aku takut sayang"Seraya merengek.
"Tenanglah bentar lagi sampai"Reyfan masih menyetir dengan tenang menuju ke rumah Sintya.
"Yah hujannya deras banget lagi"Mobil sudah terparkir di dekat halaman rumahnya.
"Ya udah, kamu mampir dulu ya ke rumah!,aku tidak berani jika sendirian, pasti semuanya udah pada tidur. Aku mohon sayang"
Dengan cuaca hujan ini membuat Sintya berkesempatan untuk menahan kepergian Reyfan yang akan pulang ke rumah lebih awal.
"Aku tidak bisa Sintya,ini sudah terlalu malam, aku harus pulang"
Langsung memasang muka kusutnya dan menatap Reyfan lesu.
Ia terlihat bersedih jika Reyfan kekeh untuk tetap pulang.
"Aku mohon,kau tidak kasihan denganku?, selama ini aku selalu ada untukmu jika kau membutuhkan ku Reyfan,tapi ini balasan mu?"
"Bukan begitu sayang,ini sudah malam, aku juga meninggalkan Anita di rumah sendirian"
"Anita?. Anita Anita Anita dan Anita, itu yang kau pikirkan sekarang?!."Terlihat sekali Sintya yang begitu kesal menatap wajah Reyfan saat menyebut nama Anita dari mulutnya.
"Kau baru menikah beberapa hari denganya saja sudah begini Fan!.Kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku sekarang!. Betapa sakitnya di tinggal menikah Fan. Ini itu sangat sakit Fan!. You heard that!"
"Yes yes I know your feelings. But understand my current situation, I also don't leave you Sintya, because I love you, I really love you"
"Ya sudah buktikan!, temani aku malam ini, mampirlah ke rumah!. Aku akan buatkan kopi panas untukmu"Turun dari mobil begitu saja meninggalkan Reyfan.
"Sintya"
Tidak di dengarkan olehnya,ia keluar begitu saja dari mobil Reyfan menuju ke halaman rumahnya walaupun hujan.
Aku tidak rela jika kau menjadi milik orang Reyfan.
Membuat Reyfan terpaksa turun dari mobil itu dan mampir ke rumah Sintya hujan-hujanan.
Kini Reyfan duduk di ruang tamu.
Menunggu Sintya yang hilang entah kemana.
Terlihat juga bajunya yang basah karena kehujanan.
"Kau tidak ingin ganti pakaian?"Tanya Sintya, yang datang ke ruangan itu dengan pakaian mininya.
Ia terlihat habis mandi dan keramas.
Penampilannya sungguh menggoda bagi kaum Adam yang melihatnya.
"E'...tidak tidak, sebentar lagi aku juga akan pulang. Lagian aku juga tidak bawa baju ganti"
Apapun akan aku lakukan untuk membuat Reyfan tergoda.
Ia harus menjadi milikku kembali.
Dan ayahnya yang sombong itu!, beraninya dia tidak merestuiku dengan anaknya!.
Lihat saja nanti!.
Sintya terlihat Menyibakkan rambutnya berulang-ulang.Untuk menampakkan bagian bahunya yang mulus dan area dadanya yang sedikit terlihat agar Reyfan tergoda.
"Sayang, apakah tidak ada baju lain lagi yang bisa kau pakai?"
Justru dengan penampilan Sintya yang seperti itu membuat Reyfan merasa risih.
"Kenapa?,kau tergoda?. Bukankah di luar negeri fine fine saja memakai baju model seperti ini"
"Kenapa kau begitu takut?, tenang saja, keluargaku semua sudah pada tidur"
Sintya mendekat, duduk menjejeri Reyfan yang sedang menghadap ke layar ponselnya.
Duduk menggoda sambil melipatkan kakinya.
"Kau tidak ingin tidur di sini malam ini?"
Mengerutkan keningnya Reyfan, menatap kekasihnya yang belum pernah berbicara seperti ini sebelumnya.
"Apa yang kau katakan Sintya?, bagaimana bisa kau berbicara seperti ini?"
"Hehe..aku hanya bercanda sayang. Kenapa kau menganggapnya serius, lagian aku tahu ini bukan budaya luar"
Ya..ya aku tahu susah untuk melunakkan sifat kerasmu yang seperti batu ini.
Tapi lihatlah suatu saat kau pasti akan menjadi milikku seutuhnya Reyfan.
"Minumlah kopinya sayang!, nanti keburu dingin. Kau yakin tidak ingin ganti baju?, nanti akan aku pinjem kan baju kakakku"
"Tidak usah, sebentar lagi ak.."
Ponselnya bergetar, membuat Reyfan berhenti berbicara dan mengangkat telfon itu.
Setelah berbicara sesaat, Reyfan pun kembali melanjutkan bicaranya.
"Sepertinya aku harus pulang"
"Ada apa Fan?, kenapa kau terlihat terburu-buru sekali?"
"Intinya aku harus pulang,akan aku ceritakan kepadamu nanti. Dah.., aku tinggal ya sayang"
"Tapi.."
"Lain kali aku pasti kemari lagi, mengertilah!"
"Iya sudah gak papa, hati-hati di jalan ya sayang"
Sial, mungkin hari ini aku belum bisa mendapatkan apapun,tapi lihat saja nanti Fan!.
...----------------...
"Jika kau ngantuk tidur saja,aku akan menunggumu di sini sampai suamimu pulang"
"Jika dia pulang,jika tidak.."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?, bukankah kalian berdua saling mencintai?, pastinya suamimu akan segera pulang karena mengkhawatirkan mu kan"
Mata Anita terlihat sayu sekali.
Bahkan sudah merem melek karena mengantuk sejak tadi.
"Aku harap seperti itu"
"Aku bilang tidur saja, hujannya juga mulai reda, pasti suamimu akan segera pulang"
Tak lama setelah Anita terlelap dari tidurnya Reyfan pun melangkah ke ruang tamu.
Ia benar sudah pulang ke rumah.
Tatapan tajam tertuju kepada lelaki itu.
Sepertinya ia pulang karena ada kehadiran lelaki lain di rumahnya.
"Siapa kau?, kenapa datang kemari!"
"Hust, bicaralah pelan!,istrimu baru bisa tidur"
"Apa maksudnya ini!,kau siapa?!"
Sudah mencekik kerah baju lelaki yang berani datang ke rumahnya.
"Aku Zayn, temannya Anita"
"Teman?, teman yang berani datang malam-malam untuk menemui istri orang yang di tinggal suaminya?"
"Pertanyaannya kau meninggalkan dia kemana?, kenapa kau tega membiarkan istrimu ketakutan sendiri di rumah!. Kau tidak tahu istrimu mengalami phobia kesendirian,ia juga takut petir dan hujan!. Kenapa kau malah meninggalkannya?"
Mendengar itu pandangan Reyfan langsung teralihkan ke arah istrinya.
Istrinya yang sedang tertidur anteng di atas sofa terlihat bergerak karena terganggu dengan bisikan-bisikan suara itu.
"Baiklah aku pamit. Jaga istrimu baik-baik dan jangan sampai ada lelaki lain yang masuk ke rumah mu malam-malam lagi. Ingat itu!"
"Pergilah!,jika bukan karena dia sedang tidur aku pasti sudah menamparmu!"
"Tamparlah!"
"Pergi!"
Mengusir lelaki itu pergi dari rumah secepatnya.