Say You Love Me

Say You Love Me
48. Anita hamil



Sintya sedang menikmati kopinya sambil menarik ulur beranda layar ponselnya.


Hari-hari yang ia lalui terasa begitu hampa semenjak ia putus hubungan cinta dengan Reyfan.


Ia juga selalu teringat akan kemesraan yang ia lalui bersama Reyfan waktu di luar negri.


Walaupun kesibukan selalu melanda dan menyertainya namun tetap saja ia merasa bosan dengan hidupnya akhir-akhir ini.


Ini semua gara-gara wanita itu. Reyfan dulu sangat sayang dan perhatian kepadaku,tapi sekarang melirik ku saja tidak ini sungguh keterlaluan Reyfan.


Aku baru sadar kebahagiaan ku bukalah hidup banyak uang tapi hidup bersama Reyfan.


******


Tidak seperti biasanya sewaktu Anita hilang ingatan. Dia mempersiapkan keperluan suaminya dengan baik dan penuh senyuman,tapi saat ini semua kembali seperti ke awal suasana pernikahan yang penuh dengan sikap cuek istrinya.


"Aku akan pulang terlambat hari ini,kamu jangan sampai telat makan"


"Iya baiklah"


"Aku berangkat sekarang, jaga dirimu di rumah"


"Iya tenang saja. Kamu juga hati-hati di jalan"Berbicara seadanya dan Anita hanya melambaikan tangan kecil untuk suaminya.


Apa dia tidak mau mencium ku seperti sebelumnya, ingatannya benar-benar telah kembali. Baiklah sebaiknya aku berangkat saja.


Anita terlihat tersenyum kecil sambil meninggalkan teras rumah untuk masuk ke dalam.


Aku tahu dari raut wajahmu Fan,kau pasti ingin di cium olehku kan.


Setelah menempuh perjalanan jauh dari rumah ke kantor akhirnya Reyfan sampai juga di kantornya. Ia segera bersiap-siap untuk melaksanakan meeting pagi.


Jadwal kerjanya hari ini begitu padat sampai-sampai jam makan siangnya pun sudah lewat.


"Ferland belikan aku makanan"


"Maaf Fan aku sudah selesai makan sejak tadi, bahkan aku sudah mengirimkan pesan kepadamu tadi,tapi kau malah diam saja"


"Hari ini aku sangat sibuk,ada beberapa data keuangan yang harus aku analisa untuk di laporkan ke Papa"


"Baiklah"


"Hanya baiklah?.Pantaskah kau bersikap seperti ini kepadaku, bukankah seharusnya kau membelikan makan siang untukku tanpa aku perintah?"


"Yap tentu saja, tapi apa perlu aku membeli makanan jika sudah ada seseorang yang mengirimkan makanan untuk anda Tuan muda?"


"Benarkah?"Reyfan langsung berdiri dari kursi duduknya, lalu berjalan menuju ke sofa untuk memastikan makanan itu. "Siapa yang mengirimkan makanan ini untukku?"


"Kata satpam ini titipan dari Nyonya"


"Tumben. Kenapa Mama tidak mampir kemari, kenapa juga di titipkan di satpam makanannya?"


"Sungguh aku tidak tahu Tuan muda. Mungkin Tante sedang terburu-buru atau ada urusan lain, mungkin juga dia tahu anda begitu sibuk jadi ia tidak ingin mengganggumu"


Tanpa pikir panjang karena lapar Reyfan memakan makanan itu dengan lahap. Rasa dan aroma masakan itupun terlihat cocok di mulutnya. Bahkan ia menghabiskan makanan itu dengan hanya beberapa menit saja.


"Enakan Fan?"


"Iya enak lah kan ini dari Mama"


"Iyalah Mama muda "


"Maksudnya?"


"Mama muda, istrimu"


"What!, seriously"


"Yes of course"


Ponsel Ferland berdering tiba-tiba. Ia dengan cepat mengangkat panggilan itu, sementara Reyfan sedang tersenyum melihat tempat makan yang ada di depannya itu.


Ternyata walaupun cuek Anita begitu perhatian kepadaku.


"Tuan muda,ada keributan di depan kantor"


"Sudahlah biar satpam saja yang mengatasinya, ini juga bukan urusan kita"


"Tapi ini kecelakaan Tuan muda, salah satu karyawan kantor kita menabrak seseorang yang akan menyebrang jalan"


"What!?"


Ferland berlari ke arah jendela untuk melihat situasi di sekitar kantor itu.Di bawah sebrang jalan sana terlihat ramai dan ribut dari atas gedung.


"Ramai sekali Tuan muda,apa kondisinya parah?"


"Iya sudah sebaiknya kita cek ke bawah sekarang"


Ferland dan Reyfan menuju ke lantai bawah dengan terburu-buru untuk melihat situasi yang ada.


Ada banyak orang yang sedang berkumpul di situ.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"begitu kagetnya Reyfan setelah melihat wanita yang tertabrak itu berlumuran darah, yang lebih mengejutkan lagi ketika ia melihat seseorang yang tertabrak itu adalah "Sintya"


Awalnya Reyfan langsung terlihat peduli namun di tahan oleh Ferland.


"Baiklah itu lebih baik,aku akan menyelesaikan ini dengan supir yang menabraknya dulu"


******


Beberapa saat setelah mandi dan membersihkan diri Anita merasa pusing dan mual-mual. Tidak seperti biasanya ia seperti ini, namun akhir-akhir ini ia memang merasa aneh dan tidak nyaman dengan dirinya.


Terlebih saat ia memasak makanan untuk Reyfan tadi siang,ia merasa begitu enek masih terasa sampai sekarang.


"Huekk... huekk"


Ya ampun apa aku masuk angin ya...


"Li..,Lili"


"Ya Nona"


Lili adalah salah satu pekerja yang ada di rumah itu.


"Tolong ambilin aku minyak untuk masuk angin"


"Baik Nona"


"Aduh kepalaku pusing sekali"


"Minyak yang ini atau yang ini Nona?"Menunjukkan dua merek minyak yang berbeda.


"Huek.. itu baunya gak enak. Huek"Mual kembali. Dan kali ini Anita terlihat mual-mual lebih sering.


"Nona yakin masuk angin,ini bukanya yang sering di pakai Nona saat tidak enak badan kan?"


Aneh, waktu itu kan Nona bilang wangi minyak ini begitu harum, kenapa sekarang jadi tidak suka.


"Iya tapi ini baunya tidak enak Li"


"Apa Nona sedang hamil?"


"Hamil!. Haha... ngaco kamu"


"Hehe ya wajar saja Nona,Nona kan punya suami"


"Tapi.."


Reyfan!,kau melakukannya di saat aku hilang ingatan kan waktu itu?. Dasar keterlaluan!. Jadi waktu itu, lelaki menyebalkan!.


Anita terdiam sejenak. Ia jadi kepikiran kapan terakhir kalinya menstruasi.


Untuk menenangkan pikirannya sendiri Anita benar-benar membeli alat tes kehamilan secara langsung untuk mengecek kebenarannya.


"Hah!. Ini aku mimpi kan?" Setelah melihat hasil itu Anita tampak terkejut.


Tanda menunjukan 2 garis merah.


Kaget namun sekaligus merasa senang. "Aku benar-benar hamil oh my God Mama..,ih.. aku senang banget". Bahagia tak terkira Anita, bahkan wajahnya tampak begitu merah merona karena saking senangnya.


Tapi lelaki itu benar-benar keterlaluan!. Beraninya dia melakukan hal ini di saat aku hilang ingatan,awas saja Reyfan aku akan memukulmu.


******


Setelah urusan Reyfan selesai dengan supir yang menabraknya itu ia langsung pergi menuju ke rumah sakit untuk menyusul Ferland.


Di ruangan pasien itu masih terasa begitu sunyi,bahkan Sintya belum juga sadar dari pingsannya.


"Dia belum bangun?"


"Belum. Sepertinya dia sedikit parah Tuan muda"


"Aku hanya heran kenapa dia bisa berada di depan kantorku?"


Dokter tiba-tiba datang ke ruangan itu untuk mengecek dan memeriksanya.


Dokter juga menjelaskan tentang keadaan Sintya saat ini. Ia berkata mungkin sekitar 3-4 jam lagi ia baru sadar akan pingsannya.


Ponsel Ferland bergetar. Terdapat pesan dari Nona muda di situ.


"Tuan muda yang menyebalkan itu pulang jam berapa?. Kasih tahu padanya kalau aku menunggunya"


"Baik Nona"


"Apa yang sedang kau lihat, kenapa kau senyum-senyum seperti itu?"Reyfan tampak heran dengan raut wajah Ferland saat menerima pesan itu.


"Nona mengirimkan pesan untukmu Tuan muda"Ferland langsung memperlihatkan pesan yang ada.


Kali ini Reyfan begitu kesal melihat istrinya mengirim pesan ke orang lain.


"Kenapa dia tidak mengirimkan pesan kepadaku, kenapa harus ke kamu?"


"I don't know young master. Sepertinya ia belum bisa memanfaatkan mu"Terdapat senyuman kecil di wajah Ferland.


"Kau senang hah!"


"Haha.. sorry Tuan muda"