
ยฐ Rein Pov ยฐ
Aku hanya bisa menggeleng melihat kedua sahabatku ini, mereka berdua sungguh lucu. Nara dan Aro tidak pernah saling memahami satu sama lain. Aku tau Nara ini cara berfikirnya terlalu sederhana dan naif. Wajarlah, dia ini anak bungsu dari empat bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dikeluarganya. Ketiga kakak laki-lakinya juga begitu menyayangi dan memanjakan Nara, mereka menganggap Nara ini adik kecil mereka. Padahal, usianya kini sudah tujuh belas tahun. Kakak pertamanya Keenan Narindra seorang dokter muda yang begitu tampan. Kedua kakaknya Kevan dan Devan merupakan anak kembar, mereka berdua juga tidak kalah tampan dari kak Keenan. Mereka adalah mahasiswa tahun kedua.
Sedangkan Aro, dia tipe laki-laki yang tidak peka dan lebih sering bodo amat. Dia ini anak yang mandiri dan selalu dapat diandalkan. Terlahir menjadi anak sulung dikeluarganya membuatnya menjadi seorang yang dewasa. Dia mempunyai seorang adik perempuan yang cantik, namanya Devara Dewantara atau bisa dipanggil Ara yang masih duduk dikelas satu sekolah dasar.
Aku sendiri adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku adalah seorang perempuan, namanya Kirana Anastasya. Kak kiran sudah mulai membuka usaha butiknya sejak dua tahun lalu. Kakak keduaku laki-laki, namanya Alvino Deniswara. Kak Vino baru masuk universitas setahun yang lalu dan hampir semua gadis di kampusnya mengenal kak Vino. Entahlah, aku kurang tau kenapa dia begitu populer di kalangan gadis-gadis di kampusnya. Tapi dia pernah bilang padaku, "Beginilah takdir orang tampan". Terdengar narsis? Memang. Tapi itulah kenyataannya, tidak bisa di pungkiri kakakku itu memang tampan. Kulit putih, hidung mancung, rahang tegas, mata tajam, bibir tipis, alis tebal, tubuh tinggi tegap, serta rambut hitam pekat miliknya mampu menyihir para gadis-gadis untuk mendekat padanya.
Aku kembali berkutat dengan tugas yang diberikan pak Abdul tadi. Kufokuskan konsentrasi penuh pada soal-soal yang tertera disana. Detik bergulir berganti dengan menit, tak terasa waktu yang diberikan pak Abdul telah usai.
"Waktu kalian sudah habis, kalian bisa keluar kelas sekarang. Angga, Aro, kalian berdua bantu saya mengumpulkan tugas mereka, bawa ke meja saya, saya tunggu sekarang."
"Baik pak."
"Iya pak."
Jawab mereka berdua hampir bersamaan. Angga adalah ketua kelas sedangkan Aro adalah wakilnya, mereka berdua cukup dekat.
Aku melirik ke arah Aro sebentar, mata kami saling bertemu, secara refleks aku memberikan senyuman padanya. Sekilas aku melihat dia membalas senyumku tapi aku buru-buru memalingkan wajahku kemudian segera pergi dari sana. Aku gugup kala mata kami saling bertemu, apalagi saat dia membalas senyumanku.
Seperti biasa kantin selalu ramai, begitulah suasana tempat persinggahan para siswa saat jam istirahat tiba. Seperti pom bensin, semua orang pergi kesini untuk mengisi kembali bahan bakar mereka. Bukan untuk kendaraan, melainkan tubuh mereka sendiri. Perut yang telah meraung-raung minta di isi, aktivitas sejak pagi tadi telah menguras energi.
"Mau pesan apa?"
"Hm? Apa?"
Nara memutar bola matanya, "Kamu ngelamun? Hayoo.. Mikirin apa ni yee.. " Dia tertawa melihatku yang kebingungan.
"Apa sih, gak ngelamun tuh."
"Iya iya mau pesan apa?" Tanyanya lagi.
"Roti aja sama air mineral kayak biasanya, aku mau ke perpus aja abis ini. Mau ikut?"
"Iya boleh, aku juga mau pinjem buku tadi, niatnya mau ngajak kamu abis dari kantin."
"Oh iya, kita makan di kelas aja ya?"
Pintaku pada Nara, sudah pasti aku tidak nyaman di tempat ini. Bagiku disini tekanan atmosfernya lebih berat. Menekan jiwaku dan membuatnya tidak nyaman.
"Iya siyap boss."
***
ยฐ Aro Pov ยฐ
Kuperhatikan wajah gadis didepan kelas itu, ekspresinya sangat lucu. Dia panik sekaligus kesal di waktu yang bersamaan. Satu kata untuk menggambarkan dia saat ini, menggemaskan. Wajah manisnya dipenuhi peluh, menandakan dia sedang berfikir keras.
"Waktu kalian sudah habis, kalian bisa keluar kelas sekarang. Angga, Aro, kalian berdua bantu saya mengumpulkan tugas mereka, bawa ke meja saya, saya tunggu sekarang."
"Iya pak." sahutku kemudian mulai mengambil buku-buku yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Semua anak satu persatu keluar dari kelas.
Saat sedang mengarahkan pandangan ke pintu keluar mata kami bertemu. Yap, siapa lagi kalau bukan Rein. Gadis itu memberikan seulas senyum, senyuman yang indah. Manis, dia terlihat manis saat tersenyum. Sayangnya gadis itu jarang menampakkan senyuman indah miliknya. Aku membalas senyumnya kemudian dia memalingkan wajah dan pergi keluar kelas.
Apa kabar dengan Nara? Dia masih marah. Biasanya gadis itu akan menawariku untuk pergi ke kantin bersama, atau langsung menggeret tanganku begitu saja. Apakah aku akan marah saat dia menggeretku tanpa permisi? Jawabannya adalah tidak. Mengapa tidak? Entahlah, aku tidak tau. Mungkin karena kita berdua bersahabat dari kecil.
"Lu gk ke kantin bro?" Tanya Angga padaku.
"Kagak, gua masih kenyang. Ke kelas aja yok."
"Hm, oke. Gua juga males ke kantin."
Kami berdua melangkahan kaki menuju kelas. Seperti jam-jam istirahat biasanya, koridor sekolah ini terlihat ramai.
Netraku menyapu seisi ruang kelas, tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Hening dan senyap, tak ada satu makhluk pun didalamnya. Kakiku melangkah menuju bangku paling depan tepat didepan meja guru. Yap, itu bangkuku. Sedangkan Angga dia duduk di samping kananku.
Aku mengeluarkan buku yang sudah kubawa dari rumah. Sebuah buku novel seperti biasa. Itu salah satu cara yang biasa ku gunakan untuk menghilangkan rasa bosan saat jam istirahat tiba. Sedangkan Angga, dia sudah menutup matanya sejak baru mendudukan bokongnya di kursi.
Saat sedang membaca novel aku mendengar langkah kaki mendekat, tak lama kemudian dua makhluk hidup yang masih satu spesies denganku terlihat memasuki ruang kelas. Dua orang gadis. Salah satu diantaranya berambut kecoklatan bergelombang yang menjuntai cantik di kepalanya.
***
Hai hai guys
Pertama-tama terima kasih udah mampir.
Udah lama ya cerita ini gk up. Author niat gk sih buat cerita?
Tentu niat lah, cuma...
Cuma apa thor, alesan aja๐
Cuma bingung ๐ฉ
Alesan. Kalo bingung kagak usah buat cerita sekalian.
Hilih, coba bayangkan author punya 4 karya salah satunya cs yang baru aja publish. Ini novel kedua author dan sepertinya jarang peminat. Novel pertama author hancur lebur tak berbentuk. Karena apa? Chapternya acak gegara kesalahan author yang ceroboh ini. Novel ketiga author genre wuxia yang saat ini menjadi fokus utama author. Padahal jarang up juga, tapi sok bilang fokus utama ๐
Author cuma penulis amatir yang masih bau kencur, masih ingusan. Anak remaja yang masih plin plan jadi harap maklum.
Heleh author malah curhat. Ini gimana nasib novelnya? Apakah akan dibiarkan menggantung dan dianggurin begitu aja? Atau mau hiatus lama?
Jawabannya ada pada kalian. Komen aja mau tetep lanjut atau gk. Author penurut kayak hely guk guk ๐ canda
Eh, jangan lupa likenya setelah baca. Setidaknya hargai usaha author yang meres otak buat nulis, jempol gerak sana sini mencet keyboard.
Jangan bosen ama author keceh ini๐
๐Narsis lu thor ๐คข
Maksudnya jangan bosen sama cerita author gesrek ini ๐
Yeh.. Author baper, iye iye lu tamvans. Puas?? ๐
Aku bakal lebih puas kalo ada yang naggepin author note kali ini. Karena terkacangin itu sakit. Udah ngomong panjang kali lebar tambah tinggi gk ada yang respon. Udah author mau pamit aja bye guys jangan lupa komen mau cerita ini lanjut apa gk. Likenya jangan lupa.
Arigatou gozaimasu