RAIN

RAIN
Menjadi Orang yang Berbeda



Selesai makan malam, Ibu menugaskan Dirga untuk mencuci piring, sedangkan Rain membantu ibu membersikan meja bekas makan dan menyapu lantai.


Rain lebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya. Lalu ia keluar rumah, dan duduk di tangga, teras rumah.


Rain butuh udara malam yang segar. Karena pikirannya begitu berkecamuk. Memikirkan kejadian di pasar, saat ia melihat Eros, juga preman itu.


Rain masih bertanya-tanya sebenarnya Eros itu siapa, dan apa yang sebenarnya dia lakukan dengan preman itu. Andai Rain punya nyali, langsung ia hajar dan tangkap mereka berdua.


Ah, tapi apalah daya. Rain hanya seorang perempuan yang lemah, dan pasti kalah kalau berhadapan dengan dua laki-laki itu. Bisa jadi ia sudah berpindah alam, kalau memang berhadapan dengan mereka.


Rain juga memikirkan tentang Tante Fatma dan keluarganya. Kira-kira apa yang ada di pikiran mereka tentang perkataan Eliza mengenai dirinya. Rain juga menyesali, kenapa langsung pergi, tanpa menjelaskan yang sebenarnya.


Eliza itu siapa? kenapa dia tiba-tiba datang dan menuduhnya seperti itu, seolah-olah dia orang yang tau tentang masalahnya. Apa hubungannya Eliza dengan keluarga Tante Fatma?


Dan banyak hal yang di pikirkan Rain.


Ia mendengus kesal. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Rain menoleh, kekiri saat dirasakan, tangannya ada yang menoel.


Saat menoleh, benar saja, Dirga yang menoel dirinya, dengan menggunakan handphone.


"Nih buat Lo" ujar Dirga memberikan handphone ke tangan Rain, lalu duduk di sampingnya. Rain menerimanya sambil memperhatikan handphone di tangannya.


"Beneran buat gue?" Tanyanya untuk meyakinkan.


"Hmm... Gak usah geer. Itu hp bekas yang udah gak gue pake. Tapi masih bagus kok" ujar Dirga. Acuh, pandangannya ke depan.


Rain memperhatikan handphone di tangannya. Masih sangat bagus, mulus pula. Lalu ia menekan tombol sebelah kanan atas, menyalakan layar handphone.


Rain tersenyum, sambil melirik Dirga. Rain tau mana barang baru dan mana barang bekas. Mungkin Dirga gengsi mengatakan kalau dia memberikan Rain handphone baru. Makanya dia bilang itu barang bekas, dan memberikannya tanpa kotak handphonenya.


"Thanks ya, Abang..." Ujar Rain. Dirga melirik sebentar lalu memalingkan wajahnya.


"Geli gue dengernya.." ujarnya, sambil menyembunyikan senyuman dari Rain.


"Kan Lo mau nya di panggil Abang. Dari pada gue panggil Om..."


"Aaahh! Iyalah terserah. Yang penting di jaga tuh hp, jangan rusak. Pake yang bener. Udah ada pulsa sama kuotanya juga.." ujar Dirga, masih memandang ke depan. Rain mengangguk.


"Ternyata Lo baik juga. Hmm, padahal tadi gue udah mau beli. Tapi gak jadi" ujar Rain. Teringat kejadian di pasar. Mendengar itu, Dirga menoleh.


"Lo ke pasar?".


Rain mengangguk.


"Kapan? Sama siapa? Lo gak sendirian kan?"


"Ck. Enggak abang. Gue di anter Ibu ke pasarnya"


"Ooh, dianter Ibu..." Ujar Dirga terdengar lega.


"Lain kali, kalo mau kemana-mana, bilang gue. Gue yang anter.." ujar Dirga dengan ketus. Rain nyengir, lalu mencubit lengan Dirga


"Iyaa, Abang..." Ledeknya. Dirga mengacuhkannya.


Sebenarnya Rain ingin menceritakan tentang Eros kepada Dirga. Namun rasanya, Rain belum bisa terbuka dan mempercayai Dirga. Meskipun sekarang Dirga adalah keluarganya sendiri. Biarlah masalah Eros, nanti Rain kabarkan ke Ayah, dan Bang Ari sebagai polisi yang akan menanganinya. Rain sudah ada rencana akan pergi ke kota lagi. Sendiri. Tanpa Dirga dan Ibu.


Rain kembali memainkan handphone barunya yang diberikan Dirga. Membuka aplikasi sosial media.


Diam-diam, Dirga memperhatikan Rain dari samping.


Wajah Rain terlihat lebih cantik dari pada sebelumnya, Sampai membuat Dirga memandangi wajah Rain dari samping tanpa berkedip. Ia baru menyadari kalau Rain benar-benar cantik dengan penampilan barunya, dengan potongan rambut dan warna rambut yang di warnai dengan warna coklat keemasan seperti itu. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat berantakan karena rambut panjangnya yang kurang di perhatikan.


"Kenapa dipotong rambutnya?" Tanya Dirga mencari bahan pembicaraan diantara mereka, ia masih memandangi Rain.


Rain menghentikan jarinya yang sedang menscroll layar, mendengar pertanyaan Dirga.


Awalnya Rain tidak terpikirkan untuk memotong rambut. Namun setelah pulang dari pasar, dan ibu menyuruh Rain untuk memperhatikan rambutnya yang panjang namun kurang terurus.


Rain jadi kepikiran untuk memotong rambutnya saja, ia ingin ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ibu menawarkan diri untuk memotong rambut Rain. Yang tak Rain sangka, Ibu pun menawarkannya untuk mewarnai rambut dengan warna pilihan ibu, coklat keemasan.


Awalnya Rain tidak yakin untuk merubah warna rambutnya juga, namun setelah ibu memberikan contoh hasil rambut yang sudah warna itu, dan ibu pendapat kalau rambut pendek model Bob asimetris cocok dengan warna coklat keemasan, akhirnya Rain mau.


Dan hasilnya sangat bagus. Karena ternyata, waktu masa muda, ibu pernah menjadi hairdresser salah satu salon terbesar di Jakarta, selama sepuluh tahun. Dan keahlian itu masih melekat pada dirinya, sehingga hasil potongan rambut dan warna rambutnya sangat cantik, meskipun memakai alat seadanya.


"Kenapa? Cantik, Ya?" Ujar Rain pede sambil memegang ujung rambutnya. Dan menoleh.


"Iya, cantik. Eh eng-enggak biasa aja.. hmm, not bad lah.." ujar Dirga canggung. Membuat Rain tertawa.


"Udah sih, jujur aja. Bilang aku cantik. Gak usah gengsi. Biasanya juga dengan mudahnya muji-muji cewek cantik.." sindir Rain. Dirga melirik Rain. Rain langsung terdiam.


"Lo pengen gue puji?" Tanya Dirga jahil, membuat Rain salah tingkah.


"Eh, eng-enggak kok. Ogah banget gue di puji playboy kayak Lo" ketus Rain, lalu bergeser memberi jarak antara dia dengan Dirga. Dirga menggeleng sambil nyengir melihat tingkah Rain. Lucu juga anaknya.


"Hmm.. Salah satu alasan potong rambut, gue mau menjalani hidup sebagai orang yang berbeda...". Ujar Rain, tiba-tiba. Dirga menoleh.


"Menjadi orang yang berbeda?" Tanya Dirga memperhatikan Rain. Rain mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit gelap, bertaburan bintang. Sedangkan bulan, malam ini terlihat malu-malu, ia bersembunyi di balik awan malam.


"Selama ini, gue berusaha untuk terlihat kuat, tapi ternyata ujian hidup yang gue alami begitu berat, sampai akhirnya gue mengakui, gue adalah orang yang sangat lemah...". Rain memejamkan matanya, air mata menuruni pipinya.


"Sampai titik paling lemah, saat gue menyerah dengan kehidupan ini.. Tapi Lo, keburu datang, dan nyegah gue, melakukan hal gila itu. Ketika selamat dari situ, gue berfikir. Allah masih memberikan gue kesempatan untuk hidup. Gue gak mau di kalahkan oleh kehidupan ini kedua kalinya. Bagaimana pun ujiannya, gue harus kuat, bukan hanya berpura-pura kuat... Tapi beneran harus kuat..."


Rain selalu langsung menghapus air matanya, yang jatuh di pipi.


"Setelah rambut gue di potong dan di warnai, gue liat muka gue di kaca. Sebelumnya kalau ngaca, gue selalu mengatakan kalau gue itu lemah, dan akan bisa melakukan apapun. Tapi setelah Ibu potong dan warnai rambut gue kayak gini, gue melihat, ada sisi lain dari gue yang selama ini tersembunyi. Yang terlihat strong, pemberani, ceria, dan punya tujuan dan harapan yang jelas. Bukan orang lemah yang mudah putus asa. Seperti perkataan Ibu waktu dia masih hidup buat nyemangatin gue..".


"Gue langsung bicara sama diri sendiri, buat menyadarkan. Kalau gue harus kuat, apapun masalahnya, harus gue hadapi dengan keberanian dan pantang menyerah. Gue harus punya tujuan yang jelas dan akan berusaha untuk mendapatkan apa yang gue tuju..." Ujar Rain, lalu menghela nafasnya, dan kembali memandang langit.


Dirga masih mendengarkan setiap kata-kata Rain. Tak menyangka, itu alasan Rain, yang berniat akan membawa dirinya sendiri, kepada perubahan yang mungkin akan sulit dia lakukan nantinya.


"Ara.... Hmm, nama yang bagus kan?" Tanya Rain, menoleh ke Dirga. Dirga mengangguk ragu.


"Kenapa dia tiba-tiba menyebut nama orang lain?" Pikir Dirga. Sambil menunggu kelanjutan perkataan Rain, yang setelah menoleh kearahnya, ia langsung memandang langit.


"Gue mau nama itu..."


"Hah?! Maksudnya?"


"Ara artinya berpendirian kuat dan tenang. Nama adalah doa, dan gue mau, setelah ini, nama gue pengen di tambah dengan nama Ara... Supaya gue lebih kuat pendiriannya dan tenang dalam menghadapi setiap ujian hidup yang gue jalani.."


"Tapi nama Rain itu udah lebih dari cukup. Gue yakin Ayah Ibu Lo, punya maksud namain Lo, dengan nama itu.."


"Iya, gue tau. Tapi makna nama gue, yang gue pahami selama ini hanya rintikan hujan air mata, yang selama ini selalu gue pertahankan dari pandangan orang lain. Gue gak mau nangis di depan orang lain, gue gak mau orang mandang gue lemah. Gue selalu nahan air mata itu dari mereka... Ibu pernah berpesan sama gue.."


"Rain, tersenyumlah, berbahagialah selalu. jangan tampilkan kesedihan yang kamu alami ke orang lain. Karena orang terdekat hanya akan merasa kasihan kepada kamu, dan orang yang membencimu akan berbahagia dengan kesedihan yang sedang kamu alami. Sembunyikan air matamu, Biarlah kesedihan itu hanya kamu dan Tuhan yang tau".


"Dulu, gue nangis saat gue sendirian, di makam Ibu, dan dan di bawah air hujan, tapi sekarang udah gak bisa. Gue malah lebih mudah nangis. Menangisi ujian hidup yang gue alami..."


"Gue gak mau terus-terusan begitu. Setidaknya dengan adanya nama Ara, bukan air hujan penderitaan aja yang gue rasakan, tapi air hujan kekuatan dan ketenangan..". Ujar Rain.


Sebenarnya ada alasan lain yang membuat Rain ingin menambah namanya dengan nama Ara. Nama perempuan yang sangat ingin ia temukan. Rain masih dengan keyakinannya, bahwa Ara masih hidup, dan ingin mencari tau, ada apa di balik semua kejadian yang di alami, dan kenapa orang tuanya menuliskan nama Ara untuk diberikan kepadanya. Rain masih penasaran, barangkali saat bertemu, Rain akan mendapatkan penjelasan tentang hal yang membingungkan dan membuatnya menderita.


Dengan memakai nama Ara, harapan Rain, bisa lebih mudah untuk menemukannya.


Juga dengan berubah penampilan, Rain bisa menyamar dan menggunakan nama Ara untuk mencapai tujuannya.


"Lo serius?"


"Iyaa. Ibu juga udah setuju.." ujar Rain, meyakinkan Dirga.


Rain sudah mengutarakan niatnya untuk menambahkan nama Ara untuk namanya, dan Ibu setuju setelah mendengar penjelasan Rain, yang sama, yang ia jelaskan kepada Dirga.


"Oh, tapi kayaknya gue gak bisa langsung menyesuaikan diri manggil Lo dengan nama Ara.."


"Ya gak apa-apa. Gak mesti lo manggil gue Ara. Kan Ara cuma tambahan nama, supaya jadi doa buat gue.."


"Oh, oke..". Jawab Dirga.


"Gue berharap, setelah ini, ada perubahan dalam hidup gue, dan gue bisa menggapai apa yang gue inginkan, dan semoga rencana gue berhasil.." ujar Rain. Dirga menepuk pundak Rain.


"Rain, apapun yang Lo rencanakan, Lo harus pikirkan matang-matang apa yang akan Lo lakuin buat mewujudkan rencana Lo itu. Jangan gegabah.." ujar Dirga.


"Dan gue akan bantu dan temani Lo, sampai Lo berhasil mewujudkan semua rencana Lo itu..". Lanjut Dirga. Rain tersenyum lebar.


"Terima kasih ya Ga, atas niat baik Lo..." Ujar Rain. Dirga mengangguk.


"Pokoknya kalau ada apa-apa, Lo harus bilang sama gue, dan gue akan selalu siap bantu Lo, kapan aja.." ujar Dirga lagi.


"Iya Abang..." Jawab Rain sambil tersenyum, Dirga pun tersenyum juga.


"Oya, Lo tau kabar tentang Ayah gue?" Tanya Rain. Dirga menggeleng.


"Gue gak tau. Terakhir sama dia, waktu pas dia nyamperin Lo yang lagi duduk di bangku pinggir jalan.."


"Duduk di pinggir jalan?" Rain mengingat-ingat.


"Iya. Waktu sore itu..." Lanjut Dirga.


"Oh, waktu itu.."


"Iya. Dan gilanya, gue baru tau waktu itu, kalo Lo adalah anaknya Bang Jaya.." ujar Dirga.


"Masa sih?"


"Hmm.. gue cuma tau Bang Jaya udah nikah. Tapi gak tau sama siapanya, dan ternyata udah punya anak yang cengeng, seumuran gue pula!" Lanjut Dirga sambil menyeringai. Rain mendengus.


"Ayah juga gak pernah cerita tentang keluarganya sama gue, bahkan dia gak pernah cerita kalau dia punya adik sengeselin elo.."


Tuk!


Dirga menyentil kening Rain. Rain langsung mengaduh, mengelus keningnya.


"Yang sopan sama gue..." Ketus Dirga.


"Iya Om!!" Ketus Rain, ia menjitak kepala Dirga, langsung kabur ke kamarnya dan mengunci pintu.


"RAAAAAIIIIINNNN!!!"


***


✨Rainy Senja✨