
Rain mendatangi kamar Neneknya dengan membawa amplop berisi uang, yang di berikan Ayahnya.
"Barangkali Ibu perlu uang ini.." ujar Rain memberika amplop itu. Ibu menolaknya. Memberikan kembali amplop itu ke tangan Rain.
"Enggak Rain. Uang itu milik kamu.."
"Ini terlalu banyak untuk aku, Bu.."
"Enggak Rain. Itu cukup untuk kamu. Ibu yakin, Ayah kamu memang sudah menghitung dengan baik, uang yang di berikannya untuk kamu. Pakailah uangnya untuk hal yang bermanfaat..." Ujar Ibu.
"Barangkali kamu mau beli sesuatu?" Lanjut Ibu. Rain mengangguk. Ia sudah terpikir untuk beli handphone dan baju. Karena handphonenya rusak dan juga baju, karena Rain hanya punya baju yang di pakainya, dan sekarang baju ia pakai, adalah baju milik Dirga.
"Iya Bu. Kebetulan hp aku rusak. Jadi aku mau beli hp baru, dan baju.." jawab Rain.
"Ya, pakailah untuk membelinya. Yuk beli, Ibu antar ke pasar" ujar Ibu, langsung beranjak dari duduknya.
***
Ibu memakai cadar, untuk menutupi wajahnya. Kata Ibu, semenjak tragedi yang membuat wajahnya rusak, Ibu selalu memakai cadar kalau keluar rumah, apalagi ke pasar.
Rain meminjam hoodie berwarna abu milik Dirga.
Ini pertama kalinya lagi, Rain masuk pasar, setelah empat tahun tidak pernah ke pasar. Terakhir ia kepasar untuk membeli baju seragam Pramuka bersama Ibu dan Ayahnya.
Selama di pasar, ibu menunjukkan beberapa toko langganannya, yang harganya lebih terjangkau dan penjualnya ramah.
Ibu mengajak Rain untuk membeli baju terlebih dahulu. Mumpung pengunjungnya tidak terlalu ramai.
"Ayo Rain, mau baju yang mana. Ini bagus-bagus, ya.." ujar Ibu, sambil memperlihatkan baju-baju yang tergantung. Rain memilih baju yang ingin di belinya, di bantu Ibu.
Setelah selesai memilih baju, Ibu yang membayarnya di kasir. Rain yang membawakan belanjaannya.
"Rain. Perut ibu mules. Ibu ke WC dulu ya. Kamu tunggu di sana.." Ujar Ibu, menyuruh Rain untuk menunggunya di tangga dekat toko yang berjajar.
"Oh, iya Bu" ujar Rain. Ibu pergi mencari WC, dan Rain duduk di tangga yang di tunjuk Ibu, sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan pasar. Ada yang membawa barang banyak, ada juga yang terlihat baru datang, turun dari angkot. Juga penjual es, tissue, dan asongan, yang mengasongkan barang dagangan ke orang-orang.
Juga penjual baju, celana, sendal yang berteriak memanggil pelanggan dengan menyebutkan harga barang yang dijual, sambil memamerkan barangnya.
Mata Rain terbelalak kaget, melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang sedang berjalan membawa tas hitam di punggungnya. Rain mengenali wajah laki-laki itu.
"Itu kan, Eros.." gumam Rain.
Ia segera memakai kupluk hoodienya, lalu menundukkan kepala, sambil membuka keresek belanjaan pura-pura sedang mengecek belajaanya.
Tapi diam-diam Rain melirik ke arah Eros, yang berjalan ke arah utara, ke jalan kecil.
Rain segera menitipkan barang belanjaannya ke penjual sayuran yang sebelumnya sudah di kenalkan oleh Ibu, yang ada di bawah tangga itu.
Karena penasaran, Rain mengikuti Eros ke jalan kecil itu, sampai di tempat yang paling dalam dan sepi dari orang-orang.
Eros menemui seorang laki-laki yang tangannya di penuhi tato. Rain menebak, laki-laki itu adalah preman di pasar ini. Lalu Eros memberikan tas yang ia bawa kepada laki-laki itu.
Dalam persembunyiannya, Rain terus mengamati mereka dari tempatnya yang jaraknya kurang lebih sepuluh meter dari mereka. Rain tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi dari gerak-gerik mereka, cukup mencurigakan. Mereka juga melakukan transaksi.
Tak lama, Eros meninggalkan laki-laki itu, ia kembali berjalan, ke jalan yang ia lalui saat datang ke tempat itu. Rain segera berbalik badan, dan bersembunyi di balik gerobak yang ada di belakangnya.
"Heh! Ngapain Lo di situ?!" Tegur seseorang dengan galak, membuat Rain terkejut. Dan lebih terkejut, melihat siapa yang menegurnya. Preman yang di temui Eros barusan.
Dengan badan gemetar, karena takut ketahuan, Rain berdiri, sambil memperhatikan Wajah preman yang sedang menatapnya.
"A.. a anu bang..."
"Lo kencing di situ?" Tanya preman itu, menunjuk bawah.
Rain melihat ke bawah. Tanahnya basah. Pasti preman itu mengira, air itu adalah air kencing.
"Hehehe.. i-iya Bang.." ujar Rain nyengir, mendapat alasan kalau memang ia sedang kencing di situ, agar si preman tidak curiga, kalau sebenarnya Rain mengikuti si Eros.
"Ih, gila! Cewek jorok banget sih Lo!" Omel preman itu, lalu pergi.
Rain mengelus dada dan menghela nafas lega.
Saat Rain akan kembali ke tempatnya semula, ia melihat Eros berdiri di pinggir jalan sedang menelepon.
Dada Rain berdegup kencang melihat itu. Sedangkan di tangga sudah ada Ibu yang terlihat kebingungan mencarinya.
"Ya Allah, jangan sampai dia liat aku.." doa Rain dalam hati.
Rain melepas ikatan rambut dan membiarkan rambutnya terurai. Kupluk hoodienya sengaja ia majukan lagi untuk menutupi wajahnya. Lalu berjalan menuju Ibu.
"Bu" panggil Rain. Ibu menoleh, langsung memeluknya.
"Kamu kemana aja? Ibu cariin!" Omel Ibu, panik.
"Maaf Bu. Tadi aku cari minum".
"Oalah.. lho, belanjaannya mana Rain?" Tanya Ibu melihat tangan Rain kosong.
"Anu. Itu aku titip ke Ibu sayur disana"
"Ya ampun. Ibu kira kamu ninggalin barangnya.."
Rain hanya nyengir. Sambil diam-diam memperhatikan Eros, yang masih menelepon.
"Bu. Kita pulang yuk. Kepala aku pusing.." ujar Rain, sambil memegang pelipisnya. Beralasan untuk segera pulang. Bahaya kalau dia dan Ibu masih di pasar ini, takut Eros menyadari keberadaannya. Ibu memperhatikan wajah Rain, yang memelas, rambutnya begitu berantakan.
"Oh, yaudah ayo pulang. Berarti beli hpnya nanti aja ya.."
"Iya Bu"
Ibu dan Rain mendatangi tukang sayur untuk mengambil belanjaan yang Rain titip, setelah itu Mereka naik angkot yang kebetulan lewat.
Di dalam angkot, Rain memperhatikan Eros, yang masih menelepon. Rain langsung Memalingkan wajahnya, saat melihat pandangan Eros tertuju ke angkot yang di naikinya.
Rain berdoa dalam hati, semoga Eros bukan melihatnya, tapi melihat yang lain.
***
✨Rainy Senja✨