
"Tuan, orang yang menjadi target kita selama ini, sudah di temukan..."
"Orang yang mana? Kita punya banyak orang yang menjadi target!"
"Evan. Evan Sanjaya"
"Evan Sanjaya?!"
"Iya, Evan Sanjaya, dia juga punya seorang anak perempuan, bernama Rain"
"RAIN?! Gadis itu?"
"Iya".
Pria paruh baya, berjenggot tebal itu terdiam, memikirkan sesuatu.
"Terus pantau dia, selidiki rumah dan orang-orang yang mengenal mereka." Ujarnya kepada anak buahnya.
"Baik Tuan"
***
Dua hari kemudian, Rain sudah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter Risya. Sesuai rencana, Rain akan tinggal di rumah Fatma untuk sementara, sampai Ayah Rain datang untuk menjemput.
Fatma sudah menyiapkan kamar untuk Rain, yang bersebelahan dengan kamar Adel, dan bersebrangan dengan kamar Rald, di lantai dua.
"Gimana Rain? Nyaman gak kamarnya?" Tanya Fatma yang sedang duduk di sisi kasur bersama Rain, matanya mengintari setiap sudut kamar.
Kamar yang sudah di desain untuk perempuan, karena kamar ini di dominasi warna merah muda dan lilac, juga beberapa barang dengan warna pastel senada. Yang terkesan girly.
Sedangkan Adel duduk di tengah kasur, sedang membuat gelang karet warna. Katanya mau bikin gelang couple dengan Rain.
"Nyaman Tante, kamarnya bagus. Terima kasih, Tante..." Ujar Rain,
"Kamu suka?"
"Suka Tante..."
"Alhamdulillah..." Ucap Fatma, ia terdiam sebentar, lalu tersenyum, lalu ia meraih tangan Rain dan menggenggamnya.
"Dari awal di bangun, Kamar ini tidak ada yang menempati, karena awalnya kamar ini untuk Ara, kembarannya Rald. Tapi Ara sudah punya tempat yang lebih baik di sana. Jadi untuk sementara kamu tempati kamar ini, anggap aja ini kamar kamu sendiri. Kamu bebas memakai barang-barang yang ada di sini, Ya Rain.." ujar Fatma. Rain menggenggam tangan Fatma.
"Terima kasih Tante..."
"Kak Rain, gelangnya baru selesai satu!. Satunya kakak yang bikin ya. Pegel tangan aku". Ujar Adel memelas. Rain dan Fatma tertawa, lalu Rain membantu Adel membuat gelang satu lagi.
****
Rain menuruti perintah Fatma. Dengan langkah pelan, Rain menaiki tangga, lalu masuk ke 'kamarnya'.
Rain duduk di sisi kasur, matanya memandangi seisi kamar. Ia jadi teringat kamarnya. Mungkin luas kamar Rain, setengah dari kamar ini, dan juga tidak sebagus dan secantik kamar ini.
Waktu itu Rain pernah meminta Ayah untuk menghias kamarnya dengan warna cat baru, berwarna biru. Juga meminta Ayahnya yang jago melukis, untuk membuat lukisan yang akan di tempel di kamarnya. Tapi Ayahnya saat itu sangat sibuk. Jadi belum di buat, sampai sekarang.
"Ara, maaf ya, aku pakai kamar kamu untuk sementara. Aku janji, akan menjaga barang-barang di kamar ini, dan akan meninggalkan kamar ini, seperti sediakala, saat pertama kali Bunda kamu memperlihatkan kamar kamu yang cantik ini..." Gumam Rain, berbicara seolah sedang berbicara dengan Ara, pemilik kamar ini.
"Ara, keluarga kamu baik banget. Seandainya kamu masih hidup, kamu pasti bangga dan sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat baik ini..."
"Aku banyak berutang budi sama keluarga kamu, Ara. Mereka banyak bantu aku, Mereka juga membuat aku nyaman, padahal kami baru saja kenal. Terutama kepada Bunda kamu, Ara..."
Rain menghela nafasnya.
"Bunda kamu baik banget Ara. Setiap ada Bunda kamu, aku selalu merasa aman, tenang, dan bahagia. Apalagi saat melihatnya tersenyum.. Bunda kamu seperti obat rinduku kepada Ibu, yang mungkin sekarang sedang bersama kamu, Ara..."
"Ara, suatu hari nanti, aku harap kita bisa bertemu dan saling mengenal..."
Lagi-lagi Rain menghela nafasnya, lalu menyeka air matanya yang sedari tadi sudah membasahi pipinya.
Rain membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu memandang langit-langit.
Saat matanya hendak terpejam, ia teringat sesuatu.
"Ara! Aku harus tau nama aslinya!" Bisikan hati Rain, membuatnya bangun kembali. Ia melirik sekitar.
"Ini kesempatan aku untuk mengetahui siapa nama asli Ara, yang waktu itu pernah hampir ku tanyakan ke Rald" ujar Rain bermonolog.
Ia segera turun dari kasur. Lalu membuka lemari baju. Namun ia tak menemukan petunjuk apapun. Karena di lemari hanya ada baju beserta setelannya.
Rain berkacak pinggang, lalu mengacak-acak rambutnya. Sambil mengintai setiap sudut kamar.
Tiba-tiba netranya tertuju kepada nakas di samping kasur. Rain langsung berjalan menuju nakas.
Laci pertama dibuka, Rain menemukan sebuah buku diary berwarna coklat dan bercover Teddy bear.
Dengan tangan gemetar, dan mata berkaca-kaca, Rain membuka buku diary itu.
Air mata Rain langsung jatuh, saat melihat tiga kata, nama pemilik buku diary yang tertulis di halaman pertama buku diary itu.
"Arainy Xaviera Emeralda".
***
✨Rainy Senja✨