
Selesai sholat subuh berjamaah, Ibu langsung menuju dapur. Rain yang saat itu baru selesai mengaminkan doanya, langsung melipat mukena dan menghampiri Ibu ke dapur.
"Mau ngapain Bu?" Tanya Rain, melihat Ibu yang sedang membuka kulkas. Ibu melirik sebentar.
"Mau nyiapin sarapan Rain.."
"Sekarang Bu? Ini baru jam lima?" Tanya Rain lagi. Karena ini baru jam lima, biasanya ibu mulai masak jam enam.
"Iya, Abangmu mau berangkat sekolah dari sini. Perjalanan lumayan lama. Biar sarapan dulu di sini.." jelas Ibu. Lalu mengeluarkan wortel, jagung dan kacang panjang yang sudah di potong oleh Rain kemarin.
"Mau masak apa Bu?"
"Nasi goreng sayur. Oya Rain, nyapu halaman ya. Sekalian tanamannya di siramin.." ujar Ibu. Rain mengangguk. Lalu pergi dari dapur.
Saat melewati kamar Dirga, pintunya tidak di tutup. Rain bisa melihat Dirga sedang main handphone sambil rebahan di kasur.
Rain berdiri di depan pintu dan mengetuk pintunya.
Dirga melirik kearah pintu. Alis kirinya mengangkat.
"Ada apa?".
Dirga awalnya rebahan, mengganti posisinya menjadi duduk.
"Boleh masuk?"
"Jitak dulu sini!" Ujar Dirga mengulurkan tangannya yang mengepal. Ia masih teringat semalam Rain menjitak kepalanya, dan berhasil kabur.
"Lagian Lo duluan yang nyentil jidat gue!" Ketus Rain. Dirga malah nyengir.
"Hehehe. Candaa Rain".
Rain menghampiri Dirga dan duduk di pinggir kasur.
"Lo mau berangkat sekolah?" Tanya Rain. Dirga mengangguk.
"Hu'um. Kenapa? Lo mau ikut?".
Rain menggeleng.
"Enggak. Gue kan masih di skors. Gak mungkin lah gue datang ke sekolah. Lagi pula kalau udah selesai masa skorsing nya, Gue gak mau sekolah di sana lagi...."
Dirga memandang wajah Rain, yang tersenyum getir, menyembunyikan kesedihannya.
"Rain, maaf.."
"Hah?"
"Maaf. Sebagai temannya, gue wakilin Galang minta maaf sama Lo atas perbuatannya..." Ujar Dirga. Di dalam hatinya, ia juga meminta maaf atas penyerangan terhadap Rain, yang pelakunya masih belum di ketahui, tapi pelaku itu membawa simbol gengnya. Black Wolf. Sampai sekarang, Dirga diam-diam menyelediki setiap anggotanya, atas kejadian yang menimpa Rain.
"Oh.. hmm... Oya, Suratnya sampai ke Nata?" Tanya Rain mengalihkan. Karena Rain belum bisa memaafkan Galang, sebelum mendengar permintaan maaf darinya sendiri. Dan ia memang niat mendatangi Dirga untuk menanyakan tentang Nata.
Dirga menggeleng.
"Belum, kata si Rio, si Nata udah pindah sekolah.."
"Pindah sekolah? Kemana?"
"Mana gue tau..."
"Lo gak tanya?"
"Enggak..". Jawab Dirga singkat. Rain terdiam sebentar.
"Kemana pindahnya Nata? Kenapa dia pindah? Ah! Hp aku pake acara mati segala! Pasti Nata udah kabarin aku di hp itu, dia mau pindah kemananya!". Rain berbicara dalam hati.
"Oh, emm, Oke. Suratnya mana?" Rain mengulurkan tangannya meminta kembali suratnya. Dirga beranjak dari tempatnya, mengambil surat itu di tas. Dan memberikan ke Rain.
"Thanks ya..." Ujar Rain. Lalu pergi dari kamar Dirga.
Dirga menggelengkan kepalanya, melihat tingkah keponakannya itu.
"Anak sama bapa sama aja. Kalo keperluannya udah selesai, main kabur aja!" Gerutu Dirga.
***
^^^"Nata.."^^^
"Rain?"
^^^"Iya... Nat apa kabar? Kangen tau!!!"^^^
"Baik Rain. Kamu apa kabar? Sekarang kamu tinggal di rumah Rald, ya?"
Rain menggigit bibir bawahnya. Membaca pesan Nata. Berarti selama ini Nata tidak mencoba untuk menemuinya? Biasanya Nata selalu menanyakan keberadaan dirinya. Dan akan mendatangi tempat dimana dirinya berada. Tapi ini tidak. Atau Rald yang tidak memberi tau?
^^^"Nat, aku pengen ketemu hari ini di taman kota ya. nanti aku kabarin tempatnya dimana. Jam tiga siang. Ada yang mau aku ceritain. Harus bisa ya, gak boleh enggak! Oke👌"^^^
"Oke.."
Rain menutup aplikasi. Dan melanjutkan pekerjaannya, membantu Ibu menyetrika baju.
***
Rain sudah siap untuk pergi. Ia menggunakan celana jeans berwarna hitam, kaos coklat dan meminjam hoodie Dirga yang berwarna hitam dan memakai kupluknya.
Rain sengaja berpenampilan berbeda dari biasanya. Sekarang ini penampilan Rain terlihat tomboy. Agar terlalu di kenali oleh orang-orang. Sekaligus menyamar. Karena kalau tidak seperti ini, kemungkinan besar, ia mudah di kenali. Rain tidak mau hal itu terjadi. Untuk sementara, ia memilih untuk bersembunyi dari orang-orang yang dikenal, bahkan dari Tante Fatma dan keluarganya. Karena Rain belum siap untuk bertemu mereka.
Pun hari ini, ia memberanikan diri untuk bertemu Nata. Ia ingin sekali bercerita dan meminta tolong kepada Nata. Karena yang di pikirnya, hanya Nata, saat ini orang yang bisa di minta tolong.
Rain berdiri di depan pintu kamar Ibu. Ia memandangi pintu, ingin masuk, tapi sungkan. Karena tadi Ibu bilang, kepalanya sedang pusing. Pasti sekarang ini Ibu sedang istirahat. Ia menyimpan surat di atas nakas, yang ada di samping pintu. Lalu mengucapkan salam dengan suara pelan dan pergi.
Rain sudah sampai taman kota sekitar sepuluh menit. Ia menunggu Nata di bawah salah satu pohon beringin, di dekat danau yang agak sepi. Rain sudah memberi tahu Nata tempatnya. Katanya, Nata akan Sampai lima belas menit lagi.
Rain menarik nafas dalam-dalam. Lalu dikeluarkan perlahan. Lalu memandangi sekitarnya.
Ia teringat kejadian waktu Rald menemaninya di sana, saat Rain bermasalah dengan Galang.
Rain tersenyum mengingatnya. Semenjak saat itu ia merasa nyaman dengan Rald. Bahkan saat ini, kalau saja Rain tidak malu dengan keluarga Rald, dia ingin bertemu dengan Rald. Sekalian mendekatkan Rald dengan Nata. Barangkali mereka bisa berteman baik. Karena Nata dan Rald, sama-sama orang baik. Yang selalu membantunya.
"Permisi.." ujar seseorang membuat Rain mendongakkan kepalanya untuk menoleh.
Senyuman Rain mengembang. Melihat siapa yang datang, ia langsung berdiri dan memeluk orang itu.
"Nataaaa!" Seru Rain. Namun Nata terlihat bingung, ia tak membalas pelukan perempuan yang memeluknya, bahkan ia berusaha untuk melepaskan pelukan itu.
"Kamu siapa?" Tanya Nata, setelah pelukan itu berhasil dilepaskannya, dan memperhatikan perempuan di depannya. Penampilannya terlihat asing di mata Nata.
Rain melepaskan kupluk hoodie nya.
"Ini aku, Rain!" Seru Rain.
"Rain?" Ujar Nata meyakinkan dirinya, kalau perempuan berambut pendek, cokelat keemasan, dan berpenampilan tomboy itu adalah Rain.
"Iya, ini aku! Mr. Perfect, Si keras kepala!" Ujar Rain lagi, menyebutkan julukannya, yang diberikan Nata kepadanya. Sedangkan Rain memberikan sebutan untuk Nata, Mr. Perfect.
"Rain!" Nata berseru, lalu memeluk Rain dengan erat.
"Aduh duh Nat. Aku gak bisa nafas..." Ujar Rain berbisik di telinga Nata. Nata langsung melepaskan pelukannya.
"Sorry. Sorry Rain. Ya ampun. Pangling loh, aku sama kamu. Ini kenapa rambut di giniin?" Tanya Nata, memegang rambut Rain.
"Gimana? Cantik kan?" Rain balik bertanya. Ia ingin mendengar penilaian Nata akan gaya rambut barunya.
Rain memang tidak sungkan untuk meminta pendapat, penilaian atau memamerkan sesuatu kepada Nata. Karena Rain menganggap Nata adalah sahabat terbaiknya. Bahkan banyak orang yang mengira Rain dan Nata berpacaran. Rald salah satunya.
Sedangkan Nata sendiri menganggap Rain adalah orang spesial dalam hidupnya. Ia bisa berbeda sikap dari biasanya yang dingin dan pendiam, menjadi orang yang menyenangkan untuk Rain. Contohnya sekarang ini.
"Iya Rain. Cantik. Cantik banget.. sampai aku kira kamu artis papan atas yang emang lagi neduh di sini"
"Ih apaan sih. Gak usah berlebihan!"
"Serius Rain, kamu cantik.." puji Nata lagi, sambil memperhatikan Rain, membuat pipi Rain memerah.
"Udah ah, duduk yuk!" Ajak Rain, lalu duduk di tempatnya semula. Nata ikut duduk di sampingnya.
***
✨Rainy Senja✨