RAIN

RAIN
7



°° Aro Pov °°


"Baik, buka buku paket halaman 98 dan kerjakan soal-soal tersebut saya tunggu tiga puluh menit, semua harus mengerjakan. Mengerti?! " suara pak Abdul menggema di seluruh kelas.


"Mengerti.... " Jawabku lantas mengerjakan soal-soal yang ada disana. Kutolehkan sejenak pandanganku keseluruh kelas, semua anak mengerjakan tugas yang diberikan pak Abdul dalam diam. Kelas menjadi hening, hanya terdengar suara gesekan pensil dan penghapus.


Hanya dalam dua puluh menit aku berhasil menyelesaikan semuanya, soal-soal itu tidak terlalu sulit bagiku. Aku merasakan sebuah pensil menusuk-nusuk punggungku disertai suara lirih memanggil - manggil namaku"Aro...."


Merasa terganggu, aku menoleh." Apa?" tanyaku geram."Sssstt ... Jangan keras-keras, nanti pak Abdul dengar...." ucapnya pelan sembari menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar aku sedikit mengurangi volume bicaraku.


"Saya sudah dengar semua." Aku tersentak, pak Abdul sekarang sudah berdiri di dekat mejaku.


"Kalian berdua kerjakan di depan!" ucapnya marah, pak Abdul sangat tidak suka apabila ada anak yang berbicara di kelasnya saat jam pelajaran, apalagi sedang mengerjakan tugas yang ia berikan.


"Saya sudah selesai pak." ucapku, karena memang tugasku sudah selesai.


"Yasudah, kumpulkan di depan dan kamu boleh kembali duduk. Untuk kamu Nara, kamu tetap kerjakan tugas di depan kelas!"


Sepertinya Nara marah padaku, dia berjalan kedepan kelas tanpa melihatku sedikitpun. Entahlah, aku bingung apa yang ada dipikiranya. Mengapa dia yang harus marah? Bukankah dia yang menggangguku dan membuat pak Abdul marah?


Seharian ini Nara marah padaku, dia mengabaikan keberadaanku. Terserah, aku tidak mengerti perempuan dan lebih baik aku biarkan saja sampai emosinya reda.


Hari ini aku tidak langsung pulang kerumah karena ada rapat osis yang rutin dilakukan setiap hari kamis sepulang sekolah. Kali ini membahas mengenai lomba-lomba yang akan diadakan dua minggu lagi untuk memperingati hari jadi sekolah. Kami bertugas untuk menyiapkan semua keperluan lomba-lomba itu. Rapat osis berlangsung selama satu jam dan kami sepakat akan mulai menyiapkan semua senin depan.


"Alva.... " aku merasakan tubuhku dipeluk seseorang dari belakang, aku tau siapa pelakunya. Jessi, hanya dia yang memanggiku demikian, dan berani selancang itu terhadapku, siapa lagi?


"Apa? Gak usah peluk-peluk bisa kan?" kulepaskan tanganya yang melingkar di perutku dan sedikit mengambil jarak darinya.


"Gak bisa, aku kangen banget sama kamu karena udah seminggu kita gak ketemu, emang kamu gak kangen aku?" suaranya terdengar manja.


Kuputar bola mataku jengah, sudah bosan aku menghadapi makhluk satu ini. "Kalau gak ada yang mau kamu omongin, aku mau pulang."


Satu menit dia hanya diam, kulangkahkan kakiku meninggalkan gadis itu disana. Dia mengejarku dan kembali menarik lenganku kedalam dekapanya. Sudahlah, aku lelah menanggapinya dan lebih baik kubiarkan saja. Aku terus berjalan mengabaikan Jessi yang masih terus menempel dilenganku. Sudah bagus dia kemarin kembali ke negara asalnya, kenapa harus kembali lagi? Seminggu tanpanya sungguh hari yang menenangkan disekolah.


"Sampe kapan mau nempel terus?" tanyaku kesal, tubuhku sudah lelah seharian ini, dan dia terus menggangguku.


"Aku masih kangen...." ucapnya manja.


Kutarik lenganku dari dekapanya dan kembali mengambil jarak darinya. "Aku capek, mau pulang."


"Yaudah, kalau gitu hati-hati di jalan my Prince."


Akhirnya dia mau mengerti dan mau membiarkanku pulang. Aku hanya mengangguk dan mulai melajukan motorku meninggalkan parkiran sekolah. Aku dapat melihat dia terus melambaikan tanganya dari kaca sepion motor.