
"Rain, untuk sementara ini, kamu sekolahnya homeschooling dulu ya. Tante akan hubungi teman Tante yang guru, buat ngajar kamu di sini.." Ujar Fatma setelah sarapan, dan Rain sedang mencuci piring.
"Baik Tante..." Jawab Rain. Fatma menghampiri Rain, merangkul bahunya. Rain menoleh.
"Kamu kenapa, Rain? Masih pusing kah?". Tanya Fatma, memperhatikan Rain. Rain menggeleng.
"Eng-enggak Tante. Aku baik-baik aja kok..".
"Beneran, baik-baik aja?"
"Iya Tante. Aku baik-baik kok..."
Fatma melepaskan rangkulannya.
"Yasudah, selesai cuci piring, kamu langsung ke kamar aja ya, istirahat. Oya, jangan lupa minum obatnya ya, Rain, muka kamu keliatan pucet Rain". ujar Fatma memerhatikan wajah Rain.
"I-iya Tante.."
***
Rain membuka pintu kamar dengan pelan, ia melirik ke kanan- ke kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
Semalam, Rain sudah mencari jalan keluar dari rumah ini, tanpa melewati tangga dan lantai bawah. Yaitu menyusup ke kamar Rald, untuk keluar lewat jendela kamar Rald yang langsung balkon dan mengarah ke taman belakang.
Di taman belakang, ada pintu kecil untuk keluar. Itulah tujuan utama Rain.
Rencananya, Rain ingin pulang ke rumah untuk mengambil tiga kertas bertuliskan nama Ara, yang di berikan Ayah dan Ibunya. Juga uang dari Ayahnya yang sama sekali belum ia pakai.
Terpaksa pula, Rain harus diam-diam pergi dari rumah ini, agar tidak ketahuan oleh Tante Fatma, karena kalau ketahuan, Tante Fatma akan melarangnya, dan menyuruhnya untuk tetap di kamar.
Karena Tante Fatma tidak mau terjadi sesuatu kalau Rain keluar dari rumahnya. Bahkan sekolah aja, Tante Fatma menyuruhnya untuk homeschooling. Padahal kalau pun sekolah, Rain masih dalam hukuman, gara-gara perbuatan Galang. Rain tidak akan melupakan kejahatannya!
Saat ini jam menunjukkan pukul delapan lewat dua belas menit. Adel sudah berangkat sekolah, dan Rald pun sudah berangkat sekolah dari jam setengah tujuh. Waktu yang aman untuk masuk ke dalam kamar Rald.
Rain membuka perlahan pintu kamar Rald, ia masuk, lalu menutup pintu dengan pelan pula.
Rain di buat tercengang dengan kondisi kamar Rald yang sangat berantakan. Sprei, bantal, guling acak-acakan di atas kasur, juga beberapa barang yang berserakan di lantai.
"Rain?!" Suara itu mengagetkan Rain. Ia menoleh ke sumber suara. Rald masih mengenakan seragam sekolah, sedang berdiri menatapnya di samping lemari.
"Eh.. eng. R-Rald..."
"Kamu mau ngapain ke sini, Rain?" Tanya Rald, lalu melangkah maju.
"I-itu Rald.. emm, bu-bukannya kamu udah pergi ke sekolah?" Rain balik bertanya, untuk mengalihkan.
"Oh iya tadi. Tapi baru depan gerbang, perut aku bermasalah. Jadi aku balik lagi." ujar Rald, lalu berhenti di depan Rain.
"Oh, hehe..."
"Kamu perlu sesuatu, Rain?" Tanya Rald.
"Eh, eng.."
"RAAALD!" Teriakan dari luar membuat Rain kaget, kelabakan. Rald yang melihat tingkah Rain seperti itu, langsung menarik tangan Rain, dan menyembunyikannya di balik pintu.
"Ssstt" desis Rald, menempelkan jari tengah di bibirnya, agar Rain diam.
Rain mengangguk.
Rald membuka pintu sedikit, hanya menampilkan kepalanya.
"Bunda, kenapa Bun?" Tanya Rald, melihat Bundanya berdiri di depan kamarnya.
"Kamu jadinya gak sekolah?"
"Enggak Bun. Perut aku sakit nih.. hehehe.."
"Lagian sih bandel, kan Bunda udah larang makan mie pake cabe. Ngeyel!!" Omel Fatma. Rald hanya nyengir.
"Eeehhh Bunda mau ngapain?" Seru Rald menahan pintu, saat Bundanya hendak mendorong pintu.
"Bunda mau masuk, mau obatin perut kamu".
"Enggak usah Bunda, perut aku udah mendingan. Bener deh, sueerr!!" Rald mengacungkan jari tengah dan telunjuk.
Bunda menatapnya heran.
"Beneran Bunda...". Ujar Rald sambil nyengir.
Sedangkan di balik pintu, badan Rain gemetaran, ia menggigit bibir bawahnya, tangannya bertaut.
"Beneran udah gak sakit lagi?". tanya Bundanya memastikan.
"Iya Bundaku, sayangku, cintaku, pelita hatiku.." ujar Rald merayu Bundanya.
"Kalo sakit lagi, bilang ya sama Bunda..."
"Iya Bunda cantik...". Ujar Rald. Bundanya berbalik, hendak pergi. Rald menghela nafas.
"Eh" ucap Bunda, membuat Rald tegang dan sampai menahan nafas, kaget.
"Kenapa Bun?"
"Kamu udah izin ke wali kelas?".
"Belum"
"Aduh, nanti kamu di kira bolos lagi! Yaudah nanti Bunda bilang deh ke Miss Jane. Biar sekalian minta dia buat ngajar Rain, besok.."
"Oke, Bun.."
"Yaudah, istirahat sana. Biar cepet sembuh. Bunda juga kasian sama Rain..."
"Kasian kenapa Bun?"
"Bunda maunya..". Fatma menghentikan ucapannya, memandangi pintu kamar yang di tempati Rain.
"Maunya apa Bun?".
"Ah? Enggak-enggak. Yaudah sana istirahat. Bunda mau ke pasar dulu ya Rald..."
"Oke Bun. Hati-hati ya Bun"
"Hu'um". Bundanya kali ini benar-benar pergi.
Rald belum menutup pintu, ia melihat Bundanya sampai benar-benar sudah jauh dari kamarnya, menuruni tangga. Lalu menutup pintu, dan menghela nafas.
"Aman, Rain..." Ucap Rald, pelan.
"Alhamdulillah, terima kasih, Rald..." Ujar Rain, Rald mengangguk.
"Rain, kamu belum jawab pertanyaan aku...". Ujar Rald, menatap Rain. Membuat Rain salah tingkah.
"Eh, a-anu Rald.."
"Anu?"
Rain mengigit bibir bawahnya. Ragu untuk mengatakan rencananya. Ia lihat, Rald masih memperhatikannya.
Tak di sangka Rald, Rain meraih tangan Rald dan menggenggamnya. Membuat mata Rald membulat.
"Kamu mau pulang? Tapi bahaya Rain, kalau kamu keluar..."
"Rald, please. Aku harus ambil barang itu. Itu penting banget buat aku...."
"Tapi Rain..."
"Rald, please. Tolong, jangan bilang ke Bunda kamu.."
"Tapi aku gak bisa biarin kamu pergi sendiri, Rain.."
"Maksudnya?"
"Aku ikut Rain. Buat jagain kamu"
"Enggak Rald. Aku bisa sendiri.."
"Enggak Rain. Aku harus ikut, aku akan bantu kamu buat keluar dari sini, kalau aku ikut..." Paksa Rald.
Rain terdiam. Lalu mengangguk.
Rald melepaskan genggaman tangan Rain.
"Oke, tunggu sebentar" ujar Rald, ia berlari ke lemarinya, mengambil pakaian, lalu masuk kamar mandi.
Tak lama, Rald keluar dari kamar mandi dengan pakaian berbeda. Ia memakai celana Levis dan baju kaos navy.
Lalu ia membuka lemari lagi.
Mengeluarkan dua jaket hoodie berbeda warna.
"Pakai ini, Rain". Rald memberikan hoodie berwarna hitam kepada Rain, sedangkan dirinya memakai hoodie navy.
Rain langsung memakainya.
"Ini juga di pakai, Rain. Seenggaknya wajah kamu gak terlalu keliatan" ujar Rald, memakaikan kupluk hoodie ke kepala Rain. Lalu ia memakai kupluk hoodienya juga
"Yuk Rain". Ajak Rald, untuk keluar kamar.
"Tapi Rald..."
"Kenapa?"
"Kalau lewat depan, nanti ketahuan, gimana?"
"Ya terus, mau lewat mana?"
Rain menunjuk jendela kamar Rald.
"Sa..na"
Rald tertawa pelan.
"Ooh, pantesan kamu nyusup ke kamar aku, jadi kamu udah punya rencana kaburnya lewat sana?". Ledek Rald, Rain cemberut mendengar ledekan Rald.
"Percuma Rain kalau lewat situ, bakal ketahuan sama Mbok Min, dan Mang Jaja. Jam segini mereka ada tepat di bawah sana"
"Oh, iya kah"
"Hu'um"
"Terus mau lewat mana?".
"Ikutin aku, dan jangan berisik, oke?"
"O-oke.."
Rain mengikuti langkah Rald, yang tak diduga oleh Rain. Yaitu melewati tangga dan ruang utama jalan keluar yang Rain hindari.
Namun Rald terlihat santai saat menuruni tangga. Mereka baru jalan mengendap-endap saat terdengar suara Bundanya sedang berbicara.
Rain menarik hoodie belakang Rald. Menghentikan langkah Rald. Takut ketahuan.
"Kita bakal ketauan gak, Rald?" Tanya Rain, berbisik, panik.
"Ssst.. Enggak, tenang aja.."
"Ya Jane.. Iya. Aku tunggu besok yaa..". Suara Bunda yang semakin mendekat, membuat Rald dan Rain langsung merunduk bersembunyi di balik sofa. Saling bergenggam tangan, dan membungkam mulut.
"Hmmm,, hu'umm. Iya, okee.. iya.. aku mau ke pasar. Hmm.. iyaa"
"Okee. Assalamualaikum".
Suara langkah Bunda menjauh, dan terdengar sedang berbicara dengan orang di dapur.
Baru saja Rain dan Rald beranjak dari persembunyiannya, suara Bunda kembali terdengar.
"Jam setengah satu, tolong bawain makan buat Rain dan Rald ya, Mbok. mereka berdua lagi sakit.."
"Baik, Bu"
"Terima kasih Mbok, saya pergi dulu ya. Assalamualaikum."
"Iya Bu hati-hati. Waalaikumsalam.".
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil melaju. Rald dan Rain menghela nafas lega.
"Ayo Rain, kita pergi!" Bisik Rald.
Mereka pergi dengan langkah pelan dari rumah. Dan masih harus mengendap-endap, menuju gerbang.
Rald menarik tangan Rain, untuk bersembunyi di balik pohon pucuk merah yang lebat. Karena melihat ada Mang Jaja, satpam di rumahnya, yang berdiri di samping pagar, habis membukakan gerbang untuk Bundanya.
"Kita harus alihkan perhatian Mang Jaja..." Bisik Rald. Rain mengangguk. Rald diam untuk mencari ide. Begitu pula Rain.
"Mang Jaja! Sini!!" Teriak Mbok Min dari dapur. Membuat Rain dan Rald yang mendengarnya saling pandang dan tersenyum lebar.
Mang Jaja langsung berlari ke dapur.
Rain dan Rald mengambil kesempatan, mereka langsung berlari keluar gerbang rumah, dan terus berlari. Sampai akhirnya mereka melihat angkot yang berhenti tepat di depan gapura. Mereka langsung naik.
Di dalam angkot hanya ada tiga orang, Rain, Rald dan seorang nenek.
"Alhamdulillah, akhirnya misi kita berhasil juga!" Seru Rald, sambil tersenyum kepada Rain. Rain membalas senyum Rald.
"Terima kasih ya, Rald..." Ucap Rain. Rald mengangguk tersenyum.
***
"Tuan, Gadis itu keluar dari rumah..."
"Terus pantau jejaknya, dan ikuti kemana dia pergi.."
"Baik Tuan.."
***
✨Rainy Senja✨