
"Bang, Rain gak ada di kamar!" Seru Dirga dengan panik. Ia baru saja dari kamarnya untuk melihat Rain.
Namun tidak ada. Evan langsung berlari ke kamarnya Dirga untuk memastikan. Kemudian ke ruangan lain, setelah dari kamar, karena tidak menemukan Rain.
"Coba cari seluruh tempat di sini. Minta karyawan Lo cari dia juga!" Ujar Evan memerintah. Dirga langsung melaksanakan perintah abangnya.
Dirga juga melacak keberadaan Rain dari pelacak yang ia pasang di handphone Rain. Terakhir terdeteksi, Rain berada di belakang kafe, dan kemudian pelacak itu tidak terhubung lagi. Setelah di cari hampir satu jam mencari, Rain tidak di temukan.
"Enggak ada Bang. Sistem pelacaknya juga terputus dua jam yang lalu. Terakhir di lacak, dia ada di belakang kafe ini". Ujar Dirga. Evan berdecak marah. Tangannya mengepal, dan rahangnya mengeras.
"Eros! Rain pasti di bawa dia!!" Ujar Evan dengan marah. Lalu ia pergi.
"Bang! mau kemana Lo?!" Teriak Dirga memanggil Evan, namun Evan mengabaikannya.
***
Evan mempercepat langkahnya menuju rumah bergaya klasik, lalu ia menggedor pintunya. Tak lama seorang laki-laki keluar. Evan langsung mendorong laki-laki itu, kembali masuk ke rumahnya. Dan meninju wajah Eros, laki-laki itu.
"Kasih tau dimana lo nyembunyiin Rain!!" Bentak Evan. Eros menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.
Sambil menatap mata Evan, yang sedang menatapnya juga.
"Dimana Lo nyembunyiiin Rain bajin*an?!!" Teriak Evan, mencengkram kerah baju Eros. Eros menyeringai.
"Lo salah alamat.." Ujar Eros dengan tenang.
"Gua gak salah alamat! Setelah Lo datang tadi, Rain gak ada di sana!! DIMANA DIAAAA??!". Bentak Evan. Tangannya hendak meninjunya lagi, namun kecepatan tangan Eros mendahului tangannya Evan.
Eros menahan tangan Evan, lalu menghempaskannya. Eros menendang kaki Evan, hingga membuat Evan tersungkur di lantai.
"Tau juga enggak, anak sia*an itu di mana, Lo malah tanya gue. Go**ok!" Umpat Eros. Ia kembali menendang badan Evan. Evan segera bangkit.
Namun kemudian Eros mendorongnya lagi, hingga tersungkur di lantai. Dan menahan leher Evan dengan tangannya.
"Kalaupun, gue liat anak itu. Gue gak akan biarin di hidup! Langsung gue habisin dia, kayak gue ngabisin nyawa cewek kesayangan Lo!" Ujar Eros, menekan leher Evan, lalu melepaskannya. Membuat Evan terbatuk-batuk.
***
Ari membiarkan Rain menangis. Ia mengecek data-data yang berkaitan dengan Rain dan Brontes. Juga foto-foto yang di dapatkan dari Rama semalam.
Foto pertemuan Baskara, Evan dan Dirga, di kafe semalam. Juga ada Eros di sana.
Ari melirik Rain, saat tak mendengar suaranya lagi. Rain sedang terdiam melamun.
Ari mengambil air, dan memberikan Rain minum.
"Minumlah" ujar Ari, sambil menyimpan segelas air putih di meja, depan Rain. Lalu kembali duduk di bangkunya.
Rain mengambil gelas itu, dan meminum airnya. Rain mulai merasa lebih lega. Lalu ia melihat ke arah Ari yang tengah sibuk dengan lembaran kertas di depannya.
"Bagaimana bisa, Bang Ari punya foto Ibu aku?" Tanya Rain. Ari menoleh sebentar.
"Dia orang yang selama ini kami cari".
"Ibu sudah meninggal".
Ari menghentikan aktivitasnya, mendengar perkataan Rain. Lalu ia menatap Rain. Dua tangannya bertautan, dan berada di atas tumpukan lembaran kertas yang tadi di bacanya.
"Ya, saya sudah tau"
"Lalu, kenapa Abang masih mencarinya?"
"Kami bukan mencari orangnya, tapi mencari informasi tentangnya, dan penyebab meninggalnya".
"Untuk apa?" Tanya Rain heran.
Kenapa Bang Ari mencari tahu tentang Ibu? Dan penyebab meninggalnya?
"Apa Bang Ari akan melakukan investigasi ulang kasus pembunuhan Ibu?" Tanya Rain menebak. Ari terdiam sebentar, lalu mengangguk.
"Iya. Apa kamu tau sesuatu tentang kematian Ibu mu, Rain?" Ari balik bertanya. Rain menggeleng.
"Aku tidak tau. Aku cuma tau, orang yang mendorong Ibu dari rooftop hotel itu, adalah Eros. Orang yang mau membunuhku juga waktu itu" jawab Rain dengan jujur.
"Eros... Hmmm.. Apa sebelumnya kamu tau, atau mendengar sesuatu yang aneh dan mencurigakan dari kedua orang tua kamu?"
"Tidak"
"Coba di ingat-ingat, Rain..".
Rain terdiam, ia mencoba mengingat sebelum peristiwa kematian ibunya.
Mata Rain membulat, ia mengingat sesuatu.
"Ada Bang!" Seru Rain.
"Apa itu?"
"Malam sebelum aku ke hotel, gak sengaja aku mendengar Ayah dan Ibu lagi ngobrol dan menyebut nama Tuan Sulaiman Kam..."
"Tuan Sulaiman Kamal?" Ujar Ari menyempurnakan kata-kata Rain. Rain mengangguk.
"Iya, mereka menyebut nama Tuan Sulaiman Kamal. Terus Bro, hm.. Bro.." Rain berusaha mengingat satu kata yang agak asing di telinganya itu.
"Brontes?" Ucap Ari. Rain mengangguk lagi.
"Iya itu. Brontes"
Rain menggeleng.
"Aku mendengar yang lain, tapi lupa, apa yang mereka bicarakan. Tapi mereka sangat serius. Ibu keliatannya ketakutan waktu itu. Sampai Ibu nangis, dan Ayah meluk Ibu. Setelah itu, aku gak tau. Soalnya aku langsung masuk kamar ..." Ujar Rain, sambil mengingat.
"Brontes, apa kamu tau tentang nama itu?". Tanya Ari. Rain menggeleng.
"Enggak. Aku baru tau nama itu. Memangnya itu nama apa Bang?!" Tanya Rain. Ari memandangi wajah Rain. Wajahnya begitu polos dan benar-benar seperti tidak tau apa-apa.
Atau, Rain sedang berakting?
"Bang, apa Abang tau tentang nama itu?" Tanya Rain lagi. Ari tidak menjawab, ia malah memberikan beberapa lembar kertas foto kepada Rain.
"Apa kamu mengenali mereka?" Tanya Ari, menunjuk lembaran foto itu. Rain memperhatikan satu demi satu foto-fotonya.
Ia memisahkan foto orang yang di kenal dan tidak di kenal.
"Ini Ayah. Lho, ini kan si Eros itu?!" Seru Rain menunjukkan foto Eros. Ari mengangguk.
"Kemarin dia ada di kafe. Dia ngikutin laki-laki tua yang ngobrol sama Ayah dan Dirga. Eros kayak, bodyguard laki-laki tua itu..." Ujar Rain, teringat apa yang diingat, sebelum dia pingsan.
"Iya, Eros ada di sana. Laki-laki tua itu, apakah ini orangnya?" Tanya Ari, memberikan selembar foto dari tangannya. Rain menerimanya. Dan memperhatikan foto itu.
Rain memang tidak terlalu melihat wajah laki-laki tua itu, tapi Rain bisa melihat kesamaan dari perawakannya dan sekilas wajahnya.
"Ya, aku rasa ini orangnya.." ujar Rain.
"Apa kamu tidak mengenalnya?" Tanya Ari memastikan. Agak aneh, kalau memang Rain anak Evan, tidak mungkin, dia tidak mengenal kakeknya.
"Enggak Bang. Aku baru pertamakali liat orang itu di kafe kemarin. Orang itu ngobrol sama Ayah dan Dirga. Mereka keliatannya tegang banget.. sayangnya aku gak denger apa yang mereka obrolin..."
Ari menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Ari masih agak kebingungan tentang Rain, keluarganya, dan terutama dengan Brontes. Apa iya, Rain benar-benar tidak mengetahui tentang siapa sebenarnya Ayahnya, Kakeknya dan keluarga besarnya?
Ah, Ari harus mengorek informasi lebih banyak lagi dari Rain, dan apa yang di ketahuinya. Selama interogasi, Ari tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dari Rain.
Semua yang Rain jawab, terlihat natural, tidak ada yang di buat-buat. Meskipun begitu, Ari tidak akan cepat percaya. Ia harus lebih berhati-hati. Bisa jadi, Rain memang pandai berakting, seperti Ratih sepupunya.
"Tunjukkan siapa saja yang kamu kenali, Rain"
Rain mengangguk paham, lalu ia memilih foto siapa saja yang dia kenali. Ari memandang heran ke Rain. Banyak foto yang di lewatinya.
Apa benar Rain tidak mengenali anggota Brontes? Atau itu cuma taktiknya saja?
"Rain, apa kamu gak kenal mereka yang di situ?" Tanya Ari, menunjuk lembaran foto si sebelah kiri Rain. Rain menggeleng.
"Enggak"
"Mereka Anggota Brontes, Rain!" Jelas Ari. Rain malah menatap Ari.
"Brontes itu apa Bang?" Tanya Rain dengan polos. Ari mengedipkan matanya, kaget. Rain benar-benar tidak tau?
"Ah, enggak.. lanjutkan.." ujar Ari. Rain melanjutkan memilih foto orang yang dia kenali.
"Hmm, Bang, siapa perempuan ini?" Tanya Rain, menunjukkan selembar foto di tangannya, Ari melihat foto itu.
Foto seorang perempuan yang sedang duduk di bangku taman, dengan kaki kanan bertumpu di kaki kiri, ia sedang tersenyum kearah kamera. Rambutnya panjang bergelombang, matanya bulat, dan bibirnya tipis
"Kamu kenal dia, Rain?" Ari malah balik bertanya. Rain mengangguk.
"Tapi aku gak yakin, perempuan ini sama dengan orang yang aku kenal..." Ujar Rain.
"Memangnya, siapa perempuan yang kamu kenal itu, Rain?"
"Ibu.. Hmm, Nenek dari Ayah. Setengah wajahnya, mirip dengan perempuan di foto ini" ujar Rain.
Ati mengerutkan keningnya.
"Setengah wajahnya?" Tanya Ari, heran dengan pernyataan Rain.
"Iya Bang. Jadi Ibu, eh, maksud aku. Nenek dari Ayah ini sebagian wajahnya rusak karena air keras yang di siram temannya waktu kerja dulu.Matanya juga agak tertutup yang sebelah kiri. Sedangkan wajahnya yang sebagian lain masih bagus. Nah, bagian wajah yang masih bagus mirip dengan perempuan ini, kalau di lihat..." Jelas Rain.
"Bang, aku mau ambil hp aku" Lanjut Rain, baru teringat dengan handphonenya.
"Untuk apa?"
"Di galeri, ada foto aku sama Ibu. Aku main nunjukin itu ke Abang" jawab Rain. Tak disangkanya, Ari mengeluarkan handphone dari laci mejanya.
Rain ingin mengambilnya, namun Ari tidak memberikannya.
Ari membuka sendiri handphone Rain ke galeri.
Ia langsung diam terpaku melihat Rain berfoto dengan wanita yang rusak sebagian wajahnya, namun masih terlihat cantik bagian wajahnya yang lain, ia tersenyum di samping Rain, sambil menghadap kamera.
Mata Ari berkaca-kaca melihatnya. Dadanya bergemuruh. Rahangnya mengeras. Lalu ia beranjak dari duduknya, masih menggenggam handphone Rain.
"Rain, tetap di sini. Jangan kemana-mana. Abang akan datang lagi nanti."
"Tapi Abang mau kemana? Mau ngapain bawa hp aku?" Tanya Rain, mencegat Ari keluarga.
"Rain. Abang pinjem dulu hp nya. Ini urgent, Rain. Kamu tetap di sini ya. Nanti Rama datang buat temenin kamu. Inget. Kamu jangan kemana-mana. Bahaya kalau kamu keluar!" Ujar Ari memberi peringatan kepada Rain.
Rain mengangguk pelan. Ia tidak tau apa yang akan di lakukan Ari. Mendengar kata urgent dan mengingat Ari adalah polisi, Rain yakin, Ari pasti menemukan sesuatu yang penting mengenai tentang neneknya, atau sesuatu yang lain.
***